4 Cara Membaca Berita Tanpa Harus Mengalami Burnout Setelahnya

Pratitis Nur Kanariyati | Beautynesia
Minggu, 06 Sep 2026 09:00 WIB
4. Kenali Konten Pemicu Amarah
Membaca berita/Foto: Pexels.com/Mathias Reding

Meta Desc: Mengonsumsi informasi secara lebih bijak, sadar, dan terarah dapat membantu mendapatkan informasi tanpa menimbulkan kelelahan mental setelahnya.

Sering merasa hopeless dengan berita negatif akhir-akhir ini? Saking hopeless­­-nya kesehatan mental turut terseret dampak buruknya.

Dalam Reuters Institute's Digital News Report 2025 ditemukan bahwa 40% orang di seluruh dunia berhenti membaca berita akibat terlalu banyak mengonsumsi informasi negatif. Membaca berita membuat mereka merasa tertekan, kewalahan, dan tidak berdaya.

Rasa tertekan biasanya muncul di celah antara besarnya kepedulian dan betapa terbatasnya hal yang bisa dilakukan terhadap sebagian besar informasi yang diserap.

Dicelah inilah peran mengonsumsi informasi secara lebih sadar dan terarah itu penting. Dibarengi juga dengan melakukan apa pun yang benar-benar bisa dilakukan untuk membantu, alih-alih bersikap acuh tak acuh atau justru menutup diri sepenuhnya.

Lantas, langkah apa yang bisa dilakukan untuk tetap mendapatkan informasi secara lebih bijak dan terarah, tanpa menimbulkan burnout? Berikut daftarnya menurut pakar.

1. Menetapkan Batasan dalam Mengonsumsi Berita

Membaca berita/Foto: Pexels.com/Erik Mclean

Cara ini sangat direkomendasikan oleh pakar kesehatan mental karena dapat membantu mengurangi kecemasan, kewalahan, dan overthinking yang berlebihan.

“Tanpa boundaries, kamu bisa dengan mudah terus-menerus menyerap informasi yang berat dan menyakitkan. Apalagi arus berita tidak pernah putus,” ujar Saba H. Lurie, LMFT, pendiri Take Roof Therapy, pada Real Simple.

Tetapkan kapan dan berapa lama harus membaca berita. Ben Mushlin LCSW, pendiri sekaligus CEO Searchlight Therapy menyarankan untuk menjauh dari paparan berita pada 20 menit pertama dan terakhir hari.

“Tentukan waktu khusus untuk memantau berita, alih-alih membiarkannya menyusup ke setiap celah waktu dalam keseharian,” sarannya.

2. Perhatikan Sumber Informasi

Cara mental tetap aman saat mengonsumsi berita adalah memperhatikan sumber informasi.

Membaca berita/Foto: Pexels.com/Anastasia Shuraeva

Sama halnya dengan bergosip secara langsung, kita tidak selalu bisa mempercayai sumber yang memberikan informasi atau mengetahui emosi apa yang sedang media bangkitkan.

Mushlin menyarankan untuk membaca satu sumber yang mendalam, alih-alih berbagai artikel yang menyajikan fakta-fakta berbeda.

“Satu artikel panjang yang disusun dengan cermat akan memberikan informasi yang lebih baik daripada lima puluh potongan berita yang sarat muatan emosional,” ujar Mushlin.

Kuantitas berita yang dibaca dapat memicu kegelisahan, sementara kedalaman isi berita memberikan pemahaman yang utuh dan jelas.

3. Bertindak: Sekecil Apa pun

Aktivis yang menyuarakan kebebasan dan kedamaian/Foto: Pexels.com/Thirdman

Saran ini mungkin yang paling penting. Saat merasa putus asa melihat kondisi dunia dan berita buruk yang beredar, kita bisa melakukan sesuatu yang sifatnya membantu. Misalnya menandatangi petisi, berdonasi, atau terjun langsung ke lokasi.

Tindakan yang dilakukan tidak harus besar. Keterlibatan positif meski hanya dalam hal kecil dapat meredakan rasa tertekan akibat informasi yang diterima.

“Mengetahui tentang sesuatu yang menyakitkan namun merasa sama sekali tidak berdaya untuk berbuat apa-apa bisa mematahkan semangat. Rasa itu justru dapat memperparah burnout dan depresi,” ujar Lurie.

4. Kenali Konten Pemicu Amarah

Membaca berita/Foto: Pexels.com/Mathias Reding

In this economy, banyak orang memproduksi konten yang dirancang demi mendulang klik dan memicu amarah, bukan untuk memberikan informasi yang jelas dan runtut.

“Ada konten yang tidak dibuat untuk memberikan informasi. Konten dirancang hanya untuk memancing emosi, karena kemarahan pembacalah yang menjadi produknya,” jelas Mushlin.

Jadi, tetap waspada terhadap konten-konten clickbait. Biasanya konten clickbait menggunakan bahasa yang sensasional, kurangnya konteks, dan unsur penarik perhatian yang memecah belah.

Itulah empat cara agar tetap waras ketika mengonsumsi berita. Perlu dicatat bahwa situasi dalam mengonsumsi berita tidaklah sama bagi setiap orang.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE