5 Kebiasaan Orang yang Pura-Pura Kaya Demi Dapatkan Pengakuan Sosial

Nadya Quamila | Beautynesia
Senin, 19 Jan 2026 11:30 WIB
Hobi Flexing
Kebiasaan Orang yang Pura-Pura Kaya Demi Dapatkan Pengakuan Sosial/Foto:Freepik.com/Lookstudio

Media sosial membuat kita bisa tampil sebagai sosok yang kita inginkan, bahkan jika itu berbeda 180 derajat dengan kepribadian kita. Di media sosial, ada tuntutan tak kasat mata yang membuat kita seolah harus tampil glamor, terus bersenang-senang dengan liburan, hingga hidup bahagia dan kaya raya.

Kita hidup di era di mana penampilan di media sosial bisa lebih berpengaruh daripada kenyataan. Memiliki barang mewah, liburan ke luar negeri, hingga makan malam fancy setiap minggu seolah menjadi "jalan pintas" bahwa sosok tersebut telah meraih kehidupan yang sukses. Padahal, kita tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya.

Tekanan tampil sukses dan "sempurna" di media sosial ini terkadang membuat sebagian orang jadi pura-pura kaya. Mereka memamerkan kekayaan tapi realitanya tenggelam dalam tumpukan utang demi menyokong gaya hidup glamor tersebut.

Berikut ini beberapa kebiasaan orang yang pura-pura kaya demi mendapatkan pengakuan sosial, dirangkum dari Expert Editor dan VegOut. Yuk, simak!

Mengejar Logo, Bukan Kualitas

Kebiasaan orang pura-pura kaya yang pertama adalah mereka membeli barang branded semata hanya karena gengsi, bukan karena fungsinya.

Kebiasaan Orang yang Pura-Pura Kaya Demi Dapatkan Pengakuan Sosial/Foto: Freepik.com/benzoix

Kebiasaan orang pura-pura kaya yang pertama adalah mereka membeli barang branded semata hanya karena gengsi, bukan karena fungsinya. Hal ini dikenal dengan istilah "conspicuous consumption" atau "konsumsi mencolok", sebuah teori dari Thorstein Veblen.  Teori ini menggambarkan seseorang yang membeli barang mewah bukan karena kebutuhan fungsional, melainkan untuk menunjukkan status sosial dan kekayaan demi pendapatkan pengakuan dari orang lain.

Mereka akan memamerkan merek tas yang mereka gunakan tapi tidak tahu detail dari tas tersebut, seperti kualitas jahitannya, bahan yang digunakan, hingga cara merawatnya. Mereka hanay peduli pada merek mewah yang tersemat di tas tersebut.

Hobi Flexing

Orang yang pura-pura kaya akan mengunggah foto mereka dengan tas mewah, jam tangan mahal, hingga mobil baru. Tujuannya satu, memastikan orang-orang mengetahui hal tersebut.

Kebiasaan Orang yang Pura-Pura Kaya Demi Dapatkan Pengakuan Sosial/Foto:Freepik.com/Lookstudio

Media sosial sering menjadi tempat yang dirasa tepat untuk flexing alias memamerkan kekayaan. Orang yang pura-pura kaya akan mengunggah foto mereka dengan tas mewah, jam tangan mahal, hingga mobil baru. Tujuannya satu, memastikan orang-orang mengetahui hal tersebut.

Orang yang benar-benar kaya tidak merasa perlu memamerkan status mereka. Tentu, mereka menikmati barang-barang mewah, tapi mereka tidak terobsesi untuk menunjukkannya kepada dunia. Sering kali, kebutuhan untuk menunjukkan kekayaan lebih kuat ketika keamanan finansial yang sebenarnya tidak ada. Ini menjadi pertunjukan, bukan gaya hidup yang sesungguhnya.

Menghindari Topik soal Mengelola Uang

Mereka menghindari membahas soal pengelolaan keuangan dan mengalihkan topik ke pembelian dan pengalaman mewah mereka.

Kebiasaan Orang yang Pura-Pura Kaya Demi Dapatkan Pengakuan Sosial/Foto: Freepik

Jika kita bertanya kepada orang yang benar-benar kaya tentang bagaimana mereka mengelola keuangan, percakapan langsung berubah menjadi penuh ilmu dan sharing pengalaman. Mereka akan berbicara tentang investasi, perencanaan jangka panjang, atau cara agar menjaga keuangan tetap sehat.

Sementara itu, jika kita bertanya kepada orang yang pura-pura kaya, seketika percakapan menjadi tidak jelas arahnya. Mereka menghindari membahas soal pengelolaan keuangan dan mengalihkan topik ke pembelian dan pengalaman mewah mereka.

Mereka akan berbicara tanpa henti tentang apa yang mereka beli, tetapi tidak pernah tentang tujuan keuangan atau perencanaan jangka panjang. Bisa jadi karena hal ini memang tidak mereka lakukan dan alami. Di balik layar, tagihan kartu kredit mereka bisa saja sedang menumpuk.

Haus Pengakuan

Salah satu kalimat yang sering diucapkan orang yang pura-pura kaya adalah,

Kebiasaan Orang yang Pura-Pura Kaya Demi Dapatkan Pengakuan Sosial/Foto: Freepik.com/BalashMirzabey

Salah satu kalimat yang sering diucapkan orang yang pura-pura kaya adalah, "Apakah kamu tahu siapa aku?", tak ketinggalan dengan nada yang arogan. Ini seolah menjadi "mantra" bagi mereka ketika mereka merasa tidak aman di situasi tertentu.

Mereka yang memiliki status yang mapan jarang mengumumkannya. Bahkan, mereka sering merasa lega ketika tidak perlu bersikap "terlalu percaya diri". Bagi orang yang pura-pura kaya, kalimat ini seolah ingin menunjukkan status sosial mereka dan bahwa mereka adalah sosok yang penting.

Mengutamakan Penampilan daripada Kebutuhan Pokok

Kebiasaan orang yang pura-pura kaya selanjutnya adalah mereka mengutamakan penampilan dibanding kebutuhan utama. Mereka mungkin memiliki mobil mewah dan berkilau, tapi banyak perabot di rumah atau apartemen mereka sudah rusak.

Kebiasaan Orang yang Pura-Pura Kaya Demi Dapatkan Pengakuan Sosial/Foto: Freepik

Kebiasaan orang yang pura-pura kaya selanjutnya adalah mereka mengutamakan penampilan dibanding kebutuhan utama. Mereka mungkin memiliki mobil mewah dan berkilau, tapi banyak perabot di rumah atau apartemen mereka sudah rusak. 

Mereka mungkin menggunakan sepatu dan baju bermerek, tapi terus-menerus mengeluh soal membayar sewa apartemen.

Kekayaan semu berfokus pada apa yang dilihat orang lain. Hal-hal penting seperti rekening tabungan, asuransi kesehatan, atau bahkan bahan makanan diabaikan, karena tidak memberikan validasi eksternal.

Beauties, itulah beberapa kebiasaan orang yang pura-pura kaya. Apa kamu pernah melihat orang yang berperilaku seperti ini?

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.