5 Stereotip Tentang Gen Z yang Sering Diperbincangkan

Tifani Nurmalawidia | Beautynesia
Selasa, 26 May 2026 09:30 WIB
3. Gen Z dan Serba Kontennya
Content Creator/magnific.com/KamranAydinov

Beauties, generasi Z atau gen z menjadi salah satu generasi yang paling banyak diperbincangkan. Kali ini, Beautynesia akan mengajak kamu untuk 'kupas tuntas' stereotip mengenai gen Z untuk lebih memahami kebiasaan hingga preferensi mereka untuk lebih dimengerti, sehingga terlepas dari kesalahpahaman atau judgemental.

Dilansir dari Gwi dan Theforage, berikut penjelasannya.

1. Stereotip Gen Z dalam Dunia Kerja

Gen Z dalam Dunia Kerja/magnific.com/DC Studio

Selalu pulang teng-go, bekerja hanya sesuai jobdesc, perhitungan dengan jam lembur, tidak mau diganggu di luar jam kerja dan hari libur, beberapa sikap di atas sering disalahartikan karena adanya gap generasi yang mungkin berbeda dari generasi ke generasi. Terutama dengan prinsip Gen Z yang mementingkan work-life balance

Hampir sepertiga manajer perekrutan mengatakan mereka menghindari perekrutan Generasi Z dan lebih memilih merekrut generasi yang lebih tua, 74% manajer dan pemimpin bisnis mengatakan mereka merasa Generasi Z lebih sulit diajak bekerja sama daripada generasi lain, menurut survei yang dilakukan oleh ResumeBuilder.

Namun, bukan berarti Gen Z harus dianggap sebagai SDM yang tidak memiliki komitmen, money-oriented, atau tidak memiliki loyalitas dalam bekerja.

Memahami bagaimana Gen Z sangat memungkinkan untuk membawa perubahan dengan pola pikir yang fresh dan berbeda untuk memberi benefit bagi perusahaan. Terutama karena Gen Z mampu beradaptasi dengan perubahan dunia yang semakin cepat dan membuat workflow lebih efisien.

2. Gen Z yang Menyuarakan Pendapatnya Dianggap Terlalu Vokal

Gen Z yang Menyuarakan Pendapatnya Dianggap Terlalu Vokal/magnific.com/benzoix

Gen Z yang kritis kini dianggap terlalu vokal atau terlalu ikut campur dalam sistem. Bukan hanya di dalam dunia kerja, tetapi juga dalam lingkup sosial. Di sini banyak Gen Z yang mulai melek dalam segala hal seperti pendidikan, politik, finansial, hingga karier.

Mereka mengutamakan transparansi, dan efisiensi, sehingga jika suatu hal tidak sesuai dengan prinsip dan value yang mereka punya, mereka pun tidak takut untuk mempertanyakan dan menyampaikan kritik atau pendapat, untuk memastikan dan mendapatkan apa yang pantas mereka dapatkan.

3. Gen Z dan Serba Kontennya

Content Creator/magnific.com/KamranAydinov

Semua serba dikontenkan, hingga social media addict, tidak dipungkiri media sosial masih memainkan peran besar dalam kehidupan Generasi Z. Bukan hanya sebagai scrolling dan swiping, namun juga menjadi tempat mencari peluang. 

Sebagai generasi yang lebih dekat dengan teknologi dan internet, peluang pekerjaan kini terbuka lebih luas. Mulai dari content creator, afiliator, social media specialist, dan pekerjaan digital lainnya.

Sehingga akses mereka juga bisa menjadi aset teknologi di tempat kerja. Memanfaatkan platform media sosial seperti TikTok dan Instagram sebagai alat pemasaran untuk membentuk personal branding yang memungkinkan mereka untuk mendapat penghasilan dari endorse, iklan, atau UGC.

4. Gen Z yang Dianggap Terlalu Konsumtif dan Tidak Memikirkan Masa Depan

Konsumtif/magnific.com/teksomolika

Dianggap sebagai generasi yang terlalu impulsif, sebenarnya Gen Z sangat melek terhadap finansial. Apalagi 'in this economy' yang mengharuskan kita untuk lebih bijak dalam spending dan shopping. Mereka juga sangat mementingkan saving dan investing.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga April 2025, total investor pasar modal mencapai 16,2 juta, di mana 55% berasal dari kalangan anak muda (milenial dan Gen Z).

Bahkan, data OJK tahun 2024 menunjukkan Gen Z menyumbang 55,07% dari investor ritel pasar modal. Bukan sekadar FOMO, tren-tren ini menunjukkan Gen Z juga menjadi generasi yang berpikir jauh ke depan tentang masa depan keuangan mereka, menyeimbangkan kehati-hatian dengan ambisi.

5. Gen Z dengan Masalah Kesehatan Mentalnya

Mental Health/magnific.com/freepik

Mungkin dahulu mental health bukan hal besar yang menjadi prioritas seperti saat ini, namun dunia berubah karena banyak faktor. Kesehatan mental masih menjadi masalah besar bagi Generasi Z.

Mereka adalah generasi yang paling mungkin mengatakan bahwa mereka rentan terhadap kecemasan (28% mengatakan demikian) dan melaporkan bahwa media sosial membuat mereka stres (18% mengatakan demikian). Masalah-masalah ini menyoroti kebutuhan akan tempat kerja yang suportif, ketidakpastian terhadap masa depan, hingga krisis dunia, Beauties.

Para profesional Generasi Z yang mendapatkan dukungan kesehatan mental di tempat kerja 19% lebih mungkin merasa bahagia dengan pekerjaan mereka, menunjukkan bahwa upaya yang tepat sasaran benar-benar dapat membuat perbedaan.

Bagaimana, Beauties, adakah stereotip lainnya yang mungkin sering kamu dengar? 

---

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI! 

(sim/sim)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE