7 Ciri Orang Egois yang Sering Tidak Disadari

Nindya Putri Hermansyah | Beautynesia
Rabu, 11 Feb 2026 10:30 WIB
4. Sering Mengabaikan Aturan
Ilustrasi semena-mena freepik: freepik

Pernah nggak, Beauties, kamu ngobrol sama seseorang tapi rasanya capek sendiri? Cerita kamu dipotong, keluh kesah kamu dianggap sepele, tapi giliran dia butuh perhatian, kamu harus selalu ada.

Di satu sisi, orang itu kelihatan percaya diri dan vokal, tapi di sisi lain, kamu merasa hubungan jadi nggak seimbang. Tanpa sadar, kamu mungkin sedang berhadapan dengan sikap egois yang sering kali dibungkus rapi sebagai “sifat biasa”.

Yang bikin rumit, sikap egois nggak selalu muncul secara ekstrem. Banyak orang bersikap egois tanpa sadar, bahkan merasa tindakannya wajar-wajar saja. Padahal, kalau dibiarkan, kebiasaan ini bisa merusak hubungan pertemanan, asmara, hingga kerja sama profesional.

Lalu, sebenarnya seperti apa ciri-ciri orang egois yang sering tidak disadari dalam kehidupan sehari-hari?

1. Mendominasi Percakapan dan Mengejar Validasi

Ilustrasi mendominasi percakapan/Freepik: freepik

Salah satu tanda pertama yang sering muncul dalam perilaku egois adalah dominasi percakapan. Individu yang egois cenderung memutar atau mengarahkan setiap diskusi kembali ke dirinya sendiri, tidak peduli seberapa penting topik untuk orang lain. Para psikolog mencatat bahwa perilaku ini sering terjadi karena kebutuhan kuat untuk validasi diri atau pengakuan dari orang lain.

Dalam laman Million Dollar Sense, disebutkan bahwa individu ini sering “mengambil alih” pembicaraan dan membuat diskusi menjadi fokus pada diri mereka sendiri. Dominasi percakapan tidak selalu berarti seseorang berniat buruk; namun ketika ini menjadi kebiasaan yang konsisten, lawan bicara dapat merasa tidak dihargai atau bahkan diabaikan secara emosional. 

2. Kurang Empati

Ilustrasi simpati/Freepik: freepik

Kurang empati berarti seseorang kesulitan memahami atau merasakan apa yang sedang dialami orang lain. Bukan karena tidak tahu sama sekali, tetapi lebih karena tidak benar-benar peduli.

Orang dengan sifat ini biasanya tetap mendengarkan cerita orang lain, namun responsnya datar, terburu-buru, terkesan asal menanggapi, atau bahkan lebih senang jadi pembicara daripada pendengar. Ketika kamu sedang sedih, stres, atau butuh dukungan, mereka justru mengalihkan topik atau membandingkan dengan masalah mereka sendiri.

Dalam keseharian, sikap kurang empati sering terlihat dari komentar seperti meremehkan perasaan orang lain, menganggap masalah orang lain berlebihan, atau menuntut dimengerti tanpa mau memahami. Hubungan pun terasa timpang karena satu pihak selalu diminta mengerti, sementara pihak lainnya enggan memberi ruang untuk perasaan orang lain. Jika dibiarkan, kurangnya empati ini bisa membuat hubungan kehilangan rasa aman secara emosional dan perlahan menjauhkan satu sama lain.

3. Datang Saat Butuh Saja

Ilustrasi datang saat butuh/Freepik: freepik

Ciri yang sangat nyata, namun sering terlupakan adalah perilaku “datang saat butuh saja.” Orang egois seringkali hanya muncul atau berinteraksi ketika mereka membutuhkan bantuan, dukungan, atau keuntungan pribadi dari orang lain, tetapi jarang terlibat dalam kehidupan orang lain tanpa motif tersembunyi.

Ini adalah salah satu tanda paling jelas dari perilaku self-centered atau egosentris, di mana hubungan diperlakukan secara transaksional, bukan sebagai koneksi emosional yang sejati. Interaksi semacam ini sering kali meninggalkan kesan bahwa hubungan tidak seimbang dan membuat pihak yang sering “dimanfaatkan” merasa kehilangan ikatan batin dalam hubungan tersebut.

4. Sering Mengabaikan Aturan

Ilustrasi semena-mena freepik: freepik

Prinsip egoisme juga dapat tercermin dalam kecenderungan untuk mengabaikan aturan, norma, atau ekspektasi kelompok, terutama ketika aturan tersebut dianggap menghambat kepentingan pribadi. Orang seperti ini cenderung bertindak seolah aturan sosial hanya relevan bagi orang lain, bukan bagi mereka.

Dark Triad Traits yang menunjukkan bahwa individu dengan skor tinggi dalam narsisme atau psikopati lebih mungkin mengabaikan aturan sosial demi mempertahankan keuntungan pribadi. Mengabaikan aturan tidak hanya berarti melanggar hukum formal, tetapi juga bisa terjadi dalam bentuk pelanggaran norma sosial seperti tidak menepati janji, melanggar kesepakatan, atau tidak menghormati komitmen bersama.

5. Suka Menyalahkan Orang Lain dan Sulit Mengalah

Ilustrasi menyalahkan/Freepik: yanalya

Orang yang egois sering kali punya kebiasaan melempar kesalahan ke orang lain ketika terjadi masalah. Alih-alih mengakui perannya, mereka justru sibuk mencari kambing hitam agar terlihat benar dan tidak perlu bertanggung jawab. Dalam situasi konflik, kalimat seperti “kan kamu juga begitu” atau “kalau kamu nggak mulai duluan, aku nggak bakal begini” sering keluar sebagai bentuk pembelaan diri.

Kebiasaan menyalahkan orang lain ini biasanya berjalan beriringan dengan sulitnya mengalah, apalagi minta maaf. Bagi mereka, mengalah dan meminta maaf terasa seperti mengakui kelemahan atau kekalahan, padahal sebenarnya itu adalah bentuk kedewasaan emosional.

Akibatnya, konflik tidak pernah benar-benar selesai, hanya dipendam atau diulang dengan pola yang sama. Hubungan pun menjadi melelahkan karena satu pihak terus mengalah, sementara pihak lainnya enggan bertanggung jawab atas sikap dan perkataannya sendiri.

6. Mengambil Lebih Banyak Daripada Memberi

Ilustrasi meminta kue/Freepik: jcomp

Dalam hubungan yang sehat, memberi dan menerima seharusnya berjalan seimbang. Namun pada orang egois, yang sering terjadi justru sebaliknya, yakni mereka lebih banyak mengambil daripada memberi. Mereka nyaman menerima perhatian, bantuan, waktu, bahkan pengorbanan orang lain, tetapi jarang melakukan hal yang sama saat diminta. Ketimpangan ini sering dianggap sepele di awal, apalagi jika dibungkus dengan sikap ramah atau kata-kata manis.

Lambat laun, pola ini membuat satu pihak merasa dimanfaatkan. Hubungan terasa berat sebelah karena hanya satu orang yang terus berusaha menjaga, sementara pihak lainnya menikmati hasil tanpa kontribusi sepadan. Orang egois cenderung merasa hal tersebut wajar, karena fokus utama mereka adalah kenyamanan dan kebutuhan pribadi, bukan keseimbangan dalam relasi.

7. Sering Mengeluh dan Memainkan Peran “Korban”

Ilustrasi curhat/Freepik: freepik

Ciri lain yang kerap muncul pada orang egois adalah kebiasaan mengeluh berlebihan dan memposisikan diri sebagai korban dalam hampir setiap situasi. Apa pun masalah yang terjadi, mereka selalu merasa paling dirugikan, paling lelah, atau paling disakiti, meskipun kenyataannya mereka juga berperan dalam konflik tersebut. Dengan memainkan peran korban, mereka berharap mendapatkan simpati, pembelaan, dan perhatian dari orang sekitar.

Sayangnya, sikap ini sering digunakan untuk menghindari tanggung jawab. Alih-alih mencari solusi atau memperbaiki diri, mereka justru terus mengulang narasi bahwa dunia tidak adil pada mereka. Dalam jangka panjang, hubungan menjadi melelahkan karena orang lain dipaksa terus memahami, sementara mereka sendiri enggan berubah atau melihat situasi dari sudut pandang yang lebih jujur dan seimbang.

Beauties, dengan lebih peka dan jujur pada diri sendiri, kamu bisa menciptakan relasi yang penuh empati, saling menghargai, dan tumbuh bersama.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI! 

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE