7 Kebiasaan Orang Empatik yang Energinya Cepat Terkuras saat Berada di Keramaian Menurut Psikolog

Retno Anggraini | Beautynesia
Minggu, 20 Sep 2026 15:00 WIB
2. Selalu Membaca Situasi Sekitar
Orang empatik selalu membaca situasi di tengah keramaian/Foto: Magnific.com/magnific

Konser, pesta, pusat perbelanjaan, sampai acara keluarga menawarkan banyak hal untuk dinikmati. Namun, bagi orang empatik, berada di tengah banyak orang justru bisa membuat energi terkuras lebih cepat. Setelah acara selesai, rasanya ingin segera pulang, mencari tempat tenang, dan menghabiskan waktu sendirian.

Menurut psikolog sekaligus Wakil Presiden Perawatan Klinis di Octave, Dr. Golee Abrishami, PhD, individu yang mudah terkuras di tengah keramaian bisa termasuk introvert dan orang dengan tingkat empati yang lebih tinggi. Mereka bukan hanya menghadapi suara bising atau banyaknya orang, tetapi juga memproses berbagai emosi dan dinamika sosial di sekitarnya.

Kondisi ini bisa dilihat dari kebiasaan-kebiasaan yang tanpa sadar mereka lakukan di tengah keramaian. Melansir dari Parade, berikut 7 kebiasaan orang empatik yang energinya cepat terkuras saat berada di keramaian.

1. Menyerap Emosi Orang Lain

Salah satu kebiasaan orang empatik yang mudah kehabisan energi di keramaian adalah mudah menangkap emosi orang lain, bahkan sampai ikut merasakan kecemasan atau kesedihan yang sebenarnya bukan miliknya.
Orang empatik lebih mudah menyerap emosi di tengah keramaian/Foto: Magnific.com/magnific

Orang empatik biasanya cukup peka terhadap perasaan orang di sekitarnya. Ketika melihat seseorang sedang cemas, sedih, atau kesal, mereka bukan hanya menyadari perubahan suasana tersebut, tetapi juga bisa ikut merasakan emosinya. Kemampuan ini membuat mereka seolah mengambil satu langkah lebih jauh dibanding sekadar memahami perasaan orang lain.

Ketika berada di sebuah acara yang dipenuhi puluhan atau bahkan ratusan orang, mereka bisa menangkap berbagai emosi tersebut secara bersamaan. Semakin banyak orang yang ada di sekitar, semakin besar pula beban emosional yang mungkin mereka rasakan.

2. Selalu Membaca Situasi Sekitar

Orang empatik selalu membaca situasi di tengah keramaian/Foto: Magnific.com/magnific

Ada orang yang datang ke sebuah acara lalu fokus menikmati makanan, musik, atau obrolan dengan teman. Namun, orang empatik bisa melakukan lebih dari itu.

Mereka cenderung memperhatikan bahasa tubuh, ekspresi wajah, serta berbagai dinamika yang tidak diucapkan secara langsung. Hal ini membuat perhatian mereka terus tertuju pada orang-orang di sekitarnya. Kemampuan membaca situasi ini seolah tidak memiliki tombol mati.

Di tempat ramai, selalu ada wajah baru, percakapan berbeda, atau perubahan suasana yang bisa diperhatikan. Kondisi ini bisa menjadi sangat melelahkan karena mereka seperti terus mengalami dan memproses keberadaan orang-orang di sekitar tanpa jeda.

3. Merasa Obrolan Basa-Basi Lebih Menguras Energi

Orang empatik cenderung lebih menyukai percakapan yang mendalam sehingga obrolan ringan di tengah keramaian dapat terasa kurang nyaman dan menguras energi.
Orang empatik merasa small talk melelahkan/Foto: Pexels.com/Yaroslav Shuraev

Orang empatik cenderung mencari percakapan yang lebih dalam dan benar-benar bermakna. Tidak mengherankan jika mereka bisa tiba-tiba mengajukan pertanyaan yang terasa cukup personal hanya karena ingin melewati percakapan di permukaan. Keadaan ini menjadi lebih sulit ketika percakapan berlangsung di tempat ramai.

Suara orang yang bercampur, minimnya privasi, dan banyaknya gangguan membuat obrolan mendalam semakin sulit dilakukan. Tidak mengherankan kalau interaksi sosial yang sebenarnya sederhana terasa lebih menguras energi bagi orang empatik karena mereka juga harus menghadapi lingkungan yang penuh stimulasi. 

4. Sulit Mematikan Kesadaran terhadap Orang Lain

Orang empatik sulit mematikan kesadaran di keramaian/Foto: Pexels.com/David Malca

Saat berada di acara ramai, sebagian orang bisa dengan mudah melupakan keadaan sekitar dan menikmati momennya. Namun, beda halnya dengan orang empatik yang bisa terus memperhatikan apa yang sedang terjadi di sekeliling, bahkan ketika sebenarnya ingin bersantai. Dr. Abrishami menggambarkan kondisi ini sebagai perhatian yang terus aktif terhadap orang lain dan situasi di sekitar.

Kebiasaan ini membuat tubuh dan pikiran seolah terus berada dalam kondisi siaga. Mata terus berpindah dari satu orang ke orang lain, sementara pikiran mencoba memahami apa yang sedang terjadi. Bagi orang empatik, kemampuan ini bisa menjadi sesuatu yang melelahkan jika berlangsung terlalu lama.

5. Membutuhkan Waktu Sendiri Setelah Berada di Keramaian

Setelah menghadapi keramaian, orang empatik dapat membutuhkan waktu sendiri untuk memproses pengalaman, menenangkan diri, dan memulihkan energi.
Orang empatik membutuhkan waktu sendiri setelah berada di keramaian/Foto: Magnific.com/magnific

Orang empatik bisa membutuhkan waktu lebih banyak untuk memproses berbagai hal yang dialami setelah berada di tengah banyak orang. Bahkan, acara sosial yang tidak sebesar konser pun bisa terasa cukup melelahkan.

Kebutuhan untuk menyendiri setelah acara menjadi kesempatan untuk melakukan decompress, memproses pengalaman, dan beristirahat. Bagi mereka, memberi ruang untuk diri sendiri bisa menjadi bagian dari cara mengembalikan energi.

6. Sering Mendahulukan Orang Lain

Orang empatik selalu mendahulukan orang lain/Foto: Magnific.com/magnific

Dalam sebuah kelompok, siapa yang biasanya memastikan semua orang baik-baik saja? Kemungkinan besar jawabannya adalah orang empatik.

Mereka cenderung memperhatikan anggota kelompok lain, mencoba membuat semua orang merasa dilibatkan, hingga membantu ketika suasana terasa canggung. Sikap seperti ini tanpa disadari bisa menguras energi.

Hal yang membuat hal ini semakin melelahkan adalah pekerjaan tersebut sering tidak terlihat. Tidak ada yang secara khusus meminta seseorang untuk memperhatikan semua orang, tetapi orang empatik bisa mengambil peran tersebut dengan sendirinya.

Mereka mungkin sibuk memastikan orang lain nyaman tanpa menyadari bahwa dirinya sendiri juga membutuhkan istirahat. Dalam situasi ramai, kebiasaan ini bisa menambah beban emosional yang sudah diterima dari lingkungan.

7. Mudah Mengalami Overstimulasi

Orang empatik dapat lebih mudah kewalahan oleh suara keras, cahaya terang, dan jarak fisik yang terlalu dekat dengan banyak orang.
Orang empatik mudah mengalami overstimulasi di keramaian/Foto: Pexels.com/pexels-Plato Terentev

Suara musik atau percakapan yang keras, lampu terang, serta keberadaan banyak orang dalam jarak dekat bisa terasa berlebihan bagi sebagian orang. Aspek fisik dari keramaian tersebut bisa menjadi tantangan tersendiri bagi orang yang sangat empatik.

Ketika terlalu banyak rangsangan masuk dalam waktu bersamaan, seseorang bisa mengalami overstimulasi. Menurut Dr. Abrishami, orang yang mudah mengalami kondisi ini sering kali tidak memberi dirinya waktu untuk beristirahat ketika masih berada di acara. Akibatnya, rasa lelah baru benar-benar terasa setelah semuanya selesai.

Ada banyak faktor yang bisa membuat keramaian terasa berat, terutama bagi orang empatik. Namun, Dr. Abrishami menegaskan bahwa menjadi sangat empatik di dunia yang penuh suara dan stimulasi merupakan kemampuan untuk membuat orang lain merasa dilihat dan didengar.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE