7 Krisis Minyak Dunia yang Paling Mengguncang Sepanjang Sejarah

Natasha Riyandani | Beautynesia
Jumat, 24 Apr 2026 10:30 WIB
4. Krisis Minyak 2008: Efek Subprime Mortgage
Ilustrasi krisis minyak tahun 2008/ Foto: Unsplash.com/Erik Mclean

Sejak beberapa bulan terakhir, dunia sedang dihadapkan pada potensi krisis minyak mentah setelah perang yang terjadi antara Israel – Amerika Serikat (AS) dengan Iran.

Dampaknya pun nggak main-main dan harus dibayar mahal oleh banyak negara, terutama setelah Republik Islam Iran secara resmi menutup akses Selat Hormuz di Telur Persia. Hal ini menyebabkan kekacauan di jalur nadi perdagangan minyak dan gas (migas) dunia.

Kenaikan harga minyak pun tak bisa dielakkan. Beberapa negara telah mengalami kelangkaan lantaran terbatasnya jumlah pasokan minyak mentah yang ada. Namun, krisis minyak mentah bukan kali ini saja terjadi, sebelumnya juga pernah menerpa dunia.

Berikut ini 7 krisis minyak dunia yang paling mengguncang sepanjang sejarah, seperti dilansir dari CNBC Indonesia.

1. Krisis Minyak 1973: Perang Yom Kippur dan Embargo OPEC

Krisis minyak tahun 1973 menjadi peristiwa krisis minyak paling mengguncang sepanjang sejarah. Krisis ini disebabkan oleh Perang Yom Kippur dan embargo oleh negara-negara anggota OPEC.

Ilustrasi/Foto: Freepik.com

Sekitar tahun 1970 – 1971, serangkaian krisis yang dikenal sebagai “Guncangan Minyak” mulai muncul di sejumlah negara, tepatnya ketika sistem keuangan internasional Bretton Woods ditinggalkan.

Krisis itu semakin memanas selama Perang Yom Kippur pada 1973, ketika negara-negara anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) mengumumkan embargo minyak terhadap negara yang mendukung Israel, termasuk Amerika Serikat, Belanda, Portugal, dan Afrika Selatan.

Akibatnya, harga minyak melonjak tajam hingga empat kali lipat, dari USD3 menjadi hampir USD12 per barel. Dampaknya pun tidak hanya terasa pada sektor energi, tetapi juga meluas ke ekonomi global yang memicu inflasi tinggi dan resesi di banyak negara maju.

Pendapatan ekspor minyak negara OPEC pun melonjak dari USD7,7 miliar pada 1970, menjadi USD88,8 miliar pada 1974, menandai lahirnya era petrodollar.

Embargo akhirnya dicabut pada 1974. Meski sebenarnya hanya mengurangi sekitar 9% pasokan minyak dunia selama lima bulan, namun penggunaan minyak bumi sebagai “senjata” menimbulkan kepanikan global dan menunjukkan kekuatan geopolitik baru negara-negara penghasil minyak.

2. Krisis Minyak 1979: Revolusi Iran

Antrian mobil di pom bensin di utara Texas tahun 1979/ Foto: dok. The Dallas Morning News

Usai embargo minyak OPEC berakhir, krisis minyak global kembali terjadi ketika revolusi menggulingkan Shah Iran pada 1979. Produksi minyak mentah negara tersebut langsung anjlok.

Akibatnya, OPEC pun memutuskan untuk menaikkan harga minyak mentah rata-rata 10% per tahun secara bertahap. Harga minyak melonjak dari sekitar USD15 per barel, menjadi USD40 per barel hanya dalam waktu singkat. Krisis ini akhirnya memicu inflasi tinggi di Amerika Serikat dan Eropa.

3. Krisis Minyak 1990: Perang Teluk

Krisis minyak tahun 1990/ Foto: dok. Foreign Affairs

Pada 1990, Irak menyerbu Kuwait yang memicu pecahnya Perang Teluk Persia. Pasukan Irak bergerak ke ladang-ladang minyak mentah di Teluk Persia dan menghancurkan ladang-ladang minyak di Kuwait.

Berdasarkan laporan Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA), perang tersebut menyebabkan harga minyak mentah meningkat drastis, yang sebelumnya berkisar USD15 – USD17, melonjak hingga mencapai USD40 per barelnya.

Akhirnya, Badan Energi Internasional (IEA) memutuskan untuk melepas cadangan energi strategis sebesar 2,5 juta barel minyak ke pasar setiap hari. Langkah tersebut dapat meredakan efek dari perang yang terjadi.

4. Krisis Minyak 2008: Efek Subprime Mortgage

Ilustrasi krisis minyak tahun 2008/ Foto: Unsplash.com/Erik Mclean

Tahun 2008 menjadi momen paling dramatis dalam sejarah pasar energi. Kebangkrutan bank investasi global AS Lehman Brother karena krisis hipotek (subprime mortgage) memicu efek domino yang menyebabkan krisis keuangan global.

Kondisi itu mendorong harga minyak ke rekor tertinggi sepanjang sejarah, mencapai USD140 per barel. Diketahui, lonjakan ini dipicu kombinasi spekulasi pasar komoditas, permintaan energi dari China dan India, serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Tak lama setelahnya, dunia dilanda krisis finansial global yang mengguncang ekonomi internasional. Akibatnya, permintaan minyak yang telah meningkat sejak akhir Perang Teluk Persia, menurun pada 2008 – 2009.

5. Krisis Minyak 2020: Pandemi Covid-19 dan Perang Harga Arab Saudi – Rusia

Ilustrasi krisis minyak tahun 2020/ Foto: Unsplash.com/Chris LeBoutillier

Pandemi Covid-19 yang terjadi pada tahun 2020, memicu penurunan permintaan energi secara dramatis. Hal ini disebabkan oleh lockdown global dan pembatasan mobilitas. Kontraksi permintaan membuat harga minyak jatuh bebas, bahkan sempat mengalami fenomena yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Salah satunya adalah kontrak berjangka minyak West Texas Intermediate (WTI) sempat diperdagangkan di harga negatif. Hal itu mencerminkan terjadi defisit yang cukup besar antara permintaan dan pasokan.

Masih di tahun yang sama, kondisi tersebut diperparah dengan terjadinya perang harga antara Rusia dengan Arab Saudi. Dalam riset lembaga TRT World Research Centre mencatat harga minyak mentah WTI pada April 2020 sempat amblas, dari sekitar USD50 per barel menjadi sekitar USD10 per barel.

Diketahui, saat pandemi Covid-19, konsumsi bensin turun sebesar 46,40% dari 9,45 juta barel per hari, menjadi hanya 5,1 juta barel per hari. Namun, setelah Arab Saudi dan Rusia terlibat dalam perang harga selama hampir sebulan, keduanya sepakat untuk mengurangi produksi minyak mentah. Hingga akhirnya, dalam pertemuan negara-negara OPEC dan non-OPEC menyepakati pemangkasan produksi tersebut.

6. Krisis Minyak 2022: Invasi Rusia ke Ukraina

Ilustrasi krisis minyak tahun 2022/ Foto: Unsplash.com/Mihai

Invasi Rusia ke Ukraina membuat pasar minyak global kembali terguncang. Harga minyak Brent melonjak hingga sekitar USD130 per barel, tertinggi sejak 2008.

Rusia sebagai salah satu produsen minyak terbesar mendapat sanksi ekonomi dari negara Barat, lantaran membuat pasokan energi global terancam dan mendorong harga minyak kembali di level tertingginya.

7. Krisis Minyak 2026: Perang Israel – Amerika Serikat dengan Iran dan Penutupan Selat Hormuz

Krisis minyak tahun 2026 menjadi peristiwa krisis minyak paling mengguncang sepanjang sejarah. Krisis ini disebabkan oleh perang antara Israel - Amerika Serikat (AS) dengan Iran, serta ditutupnya Selat Hormuz di Teluk Persia.

Ilustrasi Filipina yang terdampak kenaikan BBM/Foto: Unsplash.com/Myk Miravalles

Serangan yang dilakukan Israel – Amerika Serikat ke Iran pada 28 Februari 2026 menjadi babak baru guncangan pasar minyak global terdahsyat sepanjang sejarah.

Harga minyak mentah pun melonjak tajam setelah Iran memblokade akses Selat Hormuz usai perang tersebut. Tak sampai satu bulan, kekurangan pasokan energi dan bahan bakar mulai bermunculan di negara-negara Asia, mulai dari Thailand hingga Pakistan.

Diperkirakan, krisis bahan bakar akan segera menyebar ke negara-negara Barat. Eropa kemungkinan besar menghadapi lonjakan harga dan berisiko kekurangan solar dalam beberapa waktu mendatang.

Pada 2 April 2026 ini, harga minyak dunia melonjak tajam menjadi USD109 per barel. Sejumlah pakar energi memperingatkan, harga minyak mentah dikhawatirkan akan terus meningkat jika perang masih berlanjut dan Selat Hormuz tetap tertutup. Akibatnya, dunia harus mengurangi penggunaan minyak dan gas secara signifikan.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE