Apakah Tren Kerja Secukupnya Bagus di Dunia Kerja? Ini Kata Pakar

Budi Rahmah Panjaitan | Beautynesia
Rabu, 26 Aug 2026 12:30 WIB
Apakah Quiet Quitting Bisa Berdampak Positif?
ika dilakukan dengan tetap bertanggung jawab, quiet quitting dapat membantu pekerja menjaga energi, beristirahat, dan memiliki kehidupan di luar pekerjaan/ Foto: Magnific.com/Magnific

Pernahkah Beauties merasa harus selalu bekerja lebih lama agar dianggap sebagai karyawan yang baik? Belakangan, muncul istilah quiet quitting, yaitu kebiasaan bekerja sesuai tugas dan jam kerja tanpa terus mengambil pekerjaan tambahan. Namun, apakah ini berarti seseorang malas bekerja? Jawabannya belum tentu.

Quiet quitting bisa menjadi cara untuk menjaga batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Namun, kebiasaan ini juga bisa menjadi masalah jika membuat seseorang benar-benar kehilangan motivasi dan tidak lagi peduli dengan pekerjaannya. Lantas, sebenarnya apakah quiet quitting baik untuk dilakukan? Berikut penjelasan para pakar.

Apa Itu Quiet Quitting?

Quiet quitting bukan berarti berhenti bekerja, melainkan bekerja sesuai tanggung jawab tanpa merasa harus selalu melakukan lebih dari kewajiban/ Foto: Magnific.com/Prostooleh
Quiet quitting bukan berarti berhenti bekerja, melainkan bekerja sesuai tanggung jawab tanpa merasa harus selalu melakukan lebih dari kewajiban/ Foto: Magnific.com/Prostooleh

Quiet quitting bukan berarti benar-benar berhenti dari pekerjaan. Istilah ini lebih mengarah pada sikap bekerja sesuai tanggung jawab yang sudah diberikan, tanpa merasa harus selalu melakukan lebih. Misalnya, menyelesaikan tugas selama jam kerja, tidak terus-menerus lembur, atau berani mengatakan tidak pada pekerjaan tambahan yang memang tidak diperlukan.

Mengutip CNBC, Michael Timmes, senior specialist dari perusahaan konsultan sumber daya manusia Insperity, mengatakan bahwa konsep ini sebenarnya bukan hal baru. Namun, istilah quiet quitting semakin populer karena dibicarakan luas di media sosial.

Kenapa Banyak Pekerja Melakukannya?

Keinginan menjaga work-life balance dan menghindari kelelahan menjadi salah satu alasan pekerja mulai menetapkan batas dalam pekerjaan/ Foto: Magnific.com/Magnific

Salah satu alasannya adalah keinginan untuk memiliki work-life balance yang lebih sehat. Terlalu sering bekerja lembur atau selalu mengatakan “iya” pada pekerjaan tambahan bisa membuat seseorang kelelahan. Jaya Dass, Managing Director Randstad untuk Singapura dan Malaysia, melihat quiet quitting sebagai bentuk keinginan pekerja untuk mengambil kembali kendali atas kehidupan kerja dan pribadinya.

Sementara itu, Kelsey Wat, seorang career coach, mengatakan bahwa tren ini juga dapat menjadi respons terhadap anggapan bahwa seseorang harus selalu melakukan lebih untuk bisa dianggap sukses di tempat kerja.

Apakah Quiet Quitting Bisa Berdampak Positif?

ika dilakukan dengan tetap bertanggung jawab, quiet quitting dapat membantu pekerja menjaga energi, beristirahat, dan memiliki kehidupan di luar pekerjaan/ Foto: Magnific.com/Magnific

Bisa, terutama jika tujuannya adalah menjaga batas kerja, bukan bermalas-malasan. Dengan waktu istirahat yang cukup, pekerja dapat merasa lebih segar dan menggunakan waktu kerjanya dengan lebih efektif. Michael Timmes menilai quiet quitting dapat memberi pekerja lebih banyak waktu untuk melakukan hal-hal di luar pekerjaan, sehingga mereka bisa kembali bekerja dengan pikiran yang lebih segar dan bahkan lebih efisien.

Kelsey Wat juga menyebut bahwa mengambil jarak dari pekerjaan untuk sementara dapat membantu seseorang memulihkan diri dari burnout dan memahami kembali batasan yang dibutuhkan di tempat kerja.

Kapan Quiet Quitting Justru Jadi Masalah?

Quiet quitting menjadi masalah ketika batas kerja berubah menjadi sikap tidak peduli, minim usaha, dan enggan berkembang atau bekerja sama dengan tim/ Foto: Magnific.com/Benzoix

Quiet quitting mulai menjadi masalah jika berubah menjadi sekadar melakukan pekerjaan seminimal mungkin tanpa peduli pada hasilnya. Timmes menegaskan bahwa ada perbedaan antara menjaga work-life balance dan benar-benar tidak terlibat dalam pekerjaan.

Contohnya, seseorang terus menolak tugas tanpa alasan yang jelas, tidak mau mengembangkan keterampilan, tidak fleksibel, atau tidak tertarik bekerja sama dengan tim. Menurutnya, kondisi seperti ini bahkan dapat memicu konflik karena rekan kerja bisa merasa harus menanggung beban pekerjaan yang lebih besar.

Jadi, Haruskah Ikut Quiet Quitting?

Tidak perlu mengikuti tren. Yang terpenting adalah menemukan batas kerja yang sehat tanpa mengabaikan tanggung jawab dan kualitas pekerjaan/ Foto: Magnific.com/Kamranaydinov

Tidak perlu mengikuti tren ini hanya karena sedang populer. Hal lebih penting adalah menemukan cara bekerja yang sehat, tetap bertanggung jawab, dan sesuai dengan batas diri. Maggie Perkins, yang pernah menerapkan quiet quitting saat menjadi guru, mengatakan dirinya tetap menghargai pekerjaan dan menjalankan tanggung jawab, tetapi ingin lebih menghormati waktu serta energinya.

Ia bahkan kembali bersedia memberikan usaha ekstra ketika bekerja di lingkungan yang sehat dan merasa dihargai. Jadi, quiet quitting bukan tentang bekerja sebanyak-banyaknya atau sesedikit mungkin, melainkan mengetahui kapan harus memberikan yang terbaik dan kapan perlu menetapkan batas.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(dmh/dmh)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE