Pernahkah Beauties merasa harus selalu bekerja lebih lama agar dianggap sebagai karyawan yang baik? Belakangan, muncul istilah quiet quitting, yaitu kebiasaan bekerja sesuai tugas dan jam kerja tanpa terus mengambil pekerjaan tambahan. Namun, apakah ini berarti seseorang malas bekerja? Jawabannya belum tentu.
Quiet quitting bisa menjadi cara untuk menjaga batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Namun, kebiasaan ini juga bisa menjadi masalah jika membuat seseorang benar-benar kehilangan motivasi dan tidak lagi peduli dengan pekerjaannya. Lantas, sebenarnya apakah quiet quitting baik untuk dilakukan? Berikut penjelasan para pakar.
Apa Itu Quiet Quitting?
|
Quiet quitting bukan berarti berhenti bekerja, melainkan bekerja sesuai tanggung jawab tanpa merasa harus selalu melakukan lebih dari kewajiban/ Foto: Magnific.com/Prostooleh |
Quiet quitting bukan berarti benar-benar berhenti dari pekerjaan. Istilah ini lebih mengarah pada sikap bekerja sesuai tanggung jawab yang sudah diberikan, tanpa merasa harus selalu melakukan lebih. Misalnya, menyelesaikan tugas selama jam kerja, tidak terus-menerus lembur, atau berani mengatakan tidak pada pekerjaan tambahan yang memang tidak diperlukan.
Mengutip CNBC, Michael Timmes, senior specialist dari perusahaan konsultan sumber daya manusia Insperity, mengatakan bahwa konsep ini sebenarnya bukan hal baru. Namun, istilah quiet quitting semakin populer karena dibicarakan luas di media sosial.