sign up SIGN UP

Babak Baru Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Mahasiswi Unri: Terduga Pelaku Kini Jadi Tersangka

Nadya Quamila | Jumat, 19 Nov 2021 14:00 WIB
Babak Baru Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Mahasiswi Unri: Terduga Pelaku Kini Jadi Tersangka
caption
Jakarta -

Beauties, masih ingatkah dengan kasus dugaan pelecehan seksual yang sempat viral yang dialami mahasiswi Universitas Riau (Unri) akhir Oktober lalu? Mahasiswi berinisial L tersebut diduga mengalami pelecehan seksual oleh dosen pembimbing saat hendak bimbingan skripsi.

Kasus tersebut kini memasuki babak baru. Polisi menetapkan dosen pembimbing yang juga Dekan FISIP Universitas Riau, Syafri Harto, sebagai tersangka. Penetapan tersangka itu dilakukan setelah polisi melakukan gelar perkara.

"Melalui proses gelar perkara, telah ditetapkan status tersangka terhadap Saudara SH (Syafri Harto) dalam kasus tindak pidana dugaan perbuatan cabul," kata Kabid Humas Polda Riau Kombes Sunarto, Kamis (18/11), seperti dilansir dari detikcom.

Selain penetapan tersangka, penyidik juga mengirimkan surat pemberitahuan dimulainya penyidikan kepada jaksa penuntut umum.

"Penyidik akan segera melakukan pemanggilan terhadap Syafri Harto untuk diperiksa sebagai tersangka," kata Sunarto.


Kronologi Kasus Dugaan Pelecehan Seksual

Viral dugaan pelecehan seksual yang dialami mahasiswa unri oleh dosen saat bimbingan skripsiViral dugaan pelecehan seksual yang dialami mahasiswa unri oleh dosen saat bimbingan skripsi/ Foto: Instagram/komahi_ur


Kasus dugaan pelecehan seksual ini menjadi viral setelah video pengakuan mahasiswi tersebut diunggah oleh akun Instagram Korps Mahasiswa Hubungan Internasional FISIP UNRI, @komahi_ur.

Melalui video tersebut, L mengungkapkan hendak melakukan bimbingan skripsi dengan sang dosen pembimbing. Di ruangan tersebut hanya ada mereka berdua dari mulai bimbingan hingga selesai.

Saat bimbingan dimulai, dosen mengajukan beberapa pertanyaan terkait kehidupan pribadi mahasiswi tersebut. Mulai dari pekerjaan, kehidupan, hingga beberapa pertanyaan lain.

"Namun dalam bimbingan tersebut, dosen beberapa kali melontarkan kata-kata yang membuat saya tidak nyaman. Seperti 'i love you' dan membuat saya terkejut," ungkap L dalam video berdurasi 13 menit yang diunggah di akun @komahi_ur.

Seusai bimbingan, mahasiswa bermaksud ingin pamit dengan menyalami tangan dosen. Namun, tiba-tiba dosen tersebut memegang bahu mahasiswi dengan keras dan merayunya. Mahasiswi itu juga mengaku tubuhnya didekatkan dan kepala dipegang hingga kening dan pipi kirinya dicium oleh sang dosen.


Desakan untuk Menonaktifkan Tersangka sebagai Dekan

pelecehan seksualKasus Dugaan Pelecehan Seksual yang Dialami Mahasiswi Unri/Foto: Pinterest.com/grovo


Desakan untuk segera menonaktifkan Syafri Harto sebagai dekan telah muncul dari kalangan mahasiswa Universitas Riau.

"Rektor kemarin kami diskusi bilang belum bisa nonaktifkan karena belum jelas statusnya. Setelah (Syafri) jadi tersangka, Rektorat harus nonaktifkan. Tidak etis rasanya kalau sudah jadi tersangka tidak dinonaktifkan," ungkap Voppi Rosea, Vice Mayor Korps Mahasiswa Hubungan Internasional FISIP Unri, seperti dikutip dari detikcom.

Lebih lanjut, Voppi mengatakan Syafri harus dicopot agar fokus pada kasus yang menjeratnya. Dia mengatakan hal itu juga bakal mempermudah mahasiswa jika berurusan dengan pihak kampus.


Meski Menuai Pro Kontra, Permendikbudristek Bisa Menjadi Angin Segar?

Mendikbudristek Nadiem Makarim rapat bareng Komisi X DPR. Dalam pemaparannya, Nadiem menjelaskan soal seleksi PPPK guru atau pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja.Nadiem Makarim/Foto: Andhika Prasetia/detikcom


Sekitar dua minggu sebelum kasus dugaan pelecehan di Unri terjadi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi diketahui telah mengeluarkan Permen Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) di Lingkungan Perguruan Tinggi.

Dalam Permendikbud tersebut ditegaskan dan diatur cara-cara penanggulangan kekerasan seksual. Termasuk didalamnya membahas empat hal yang wajib dilakukan kampus dalam menanggapi kasus pelecehan seksual.

Keempat hal tersebut secara umum adalah pendampingan, perlindungan, pengenaaan sanksi administratif, serta pemulihan korban.

Terkait sanksi administratif, pelaku yang terbukti melakukan kekerasan seksual akan dikenakan sanksi berdasarkan keputusan yang ditetapkan oleh pemimpin perguruan tinggi berdasarkan rekomendasi dari satuan tugas, seperti dikutip dari detikedu.

Waspada! Kenali tingkatan pelecehan seksual ini agar lebih berhati-hatiIlustrasi pelecehan seksual/Foto: Pexels/Rodnae Productions

Sanksi administratif tersebut terbagi menjadi ringan, sedang, dan berat. Dalam kasus dugaan pelecehan seksual di Unri ini jika dikenai sanksi berat, maka pelaku dapat mendapatkan pencopotan tetap dari jabatan pendidik tenaga kependidikan atau warga kampus, sesuai dengan ketentuan perundang-undangan dan dari kampus bersangkutan.

Permendikbudristek sendiri masih menuai pro kontra dari beberapa pihak karena dianggap melegalkan seks bebas serta tidak sesuai dengan norma agama. Namun Nadiem Makarim selaku Menteri Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menegaskan bahwa Permendikbudristek tersebut sama sekali tidak mendukung seks bebas.

Jika mengacu pada peraturan yang dimuat di dalamnya, termasuk sanksi yang diberikan pada pelaku seperti yang sudah dijelaskan di atas, maka Permendikbudristek ini bisa menjadi angin segar untuk memberantas kasus-kasus pelecehan seksual di lingkungan kampus.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)

Our Sister Site

mommyasia.id