sign up SIGN UP

Belenggu Budaya Patriarki di Dunia Kerja Jadi Salah Satu Penghambat Kesuksesan Pekerja Perempuan

Nadya Quamila | Beautynesia
Kamis, 04 Aug 2022 19:00 WIB
Belenggu Budaya Patriarki di Dunia Kerja Jadi Salah Satu Penghambat Kesuksesan Pekerja Perempuan
Ilustrasi pekerja perempuan/Foto: Getty Images/LumiNola
Jakarta -

Kini perempuan bisa jauh lebih bebas menentukan jalan hidupnya, termasuk soal berkarier di bidang yang mereka inginkan. Ini menjadi bukti bahwa perjuangan para perempuan terkait kesetaraan gender telah membuahkan hasil. Namun perjalanan masih panjang, sebab masih banyak bentuk nyata kesenjangan gender yang ditemui di dunia kerja.

Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Ida Fauziyah mengatakan bahwa partisipasi perempuan di sektor ketenagakerjaan masih menghadapi berbagai tantangan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Februari 2022 menunjukkan tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) perempuan masih berada jauh di bawah pria, di mana TPAK pria sebesar 83,6 persen sementara perempuan hanya sebesar 54,2 persen.

"Hal inilah yang menyebabkan hanya 40 persen dari 144 juta angkatan kerja perempuan, padahal setengah dari populasi kita saat ini adalah perempuan," tuturnya pada acara 'Women in Leadership: Perempuan di Tempat Kerja, Mengatasi Tantangan, Menggapai Keberhasilan' yang diadakan secara daring pada Jumat, (29/7).

Temuan ini, menurut Ida, sedikit banyak berkaitan dengan budaya patriarki yang masih mengakar, di mana pekerja pria dianggap lebih kompeten daripada pekerja perempuan. Tak hanya itu, perempuan juga masih menerima berbagai stigma di tempat kerja. Misalnya, dianggap sosok yang emosional sehingga dianggap tidak layak menjadi pemimpin. Atau contoh lainnya, ketika mereka bersemangat bekerja, mereka dianggap 'bossy' dan terlalu ambisius.

Perempuan di tempat kerja masih harus menerima kenyataan bahwa mereka belum sepenuhnya merdeka dari stigma. Dan lagi-lagi, budaya patriarki menjadi salah satu faktornya.

Ilustrasi Perempuan Bekerja/Pexels/Mikhail NilovIlustrasi Perempuan Bekerja/Foto: Pexels/Mikhail Nilov

Ida mengatakan bahwa pendidikan dan kompentensi sebenarnya merupakan modal dasar untuk berdaya. Data menunjukkan semakin tinggi pendidikan perempuan maka akan semakin besar proporsinya yang masuk ke pasar kerja.

Ida juga menuturkan permasalahan kesenjangan upah antara pekerja perempuan dan pria. Selain terus terjadi dari tahun ke tahun, diskriminasi ini juga ditemukan pada semua tingkatan latar belakang pendidikan, kelompok umur, hingga jenis pekerjaan.

"Melihat berbagai tantangan perempuan di dunia kerja, tentu kita sadar bahwa masih banyak permasalahan yang harus ditangani. Padahal pemberdayaaan perempuan sangatlah penting karena dampak ekonomi dan pembangunan yang dihasilkan sangat dibutuhkan. Riset dari McKinsey menunjukkan bahwa Indonesia bisa meningkatkan PBD-nya sebesar 9 persen pada tahun 2025 apabila TPAK perempuan meningkat," ungkapnya.

Webinar Women in Leadership: Perempuan di Tempat KerjaWebinar Women in Leadership: Perempuan di Tempat Kerja/ Foto: Tangkapan Layar

Di kesempatan yang sama, Ketua Umum Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Nita Yudi mengatakan bahwa salah satu tantangan yang dihadapi pekerja perempuan adalah perempuan masih dianggap rendah dan tidak memiliki potensi. Senada dengan Ida, Nita juga mengungkapkan salah satu penyebabnya adalah dunia kerja yang masih melanggengkan budaya patriarki.

"Belum adanya kesadaran tentang kesetaraan gender juga menjadi sebuah permasalahan," tuturnya.

Karena budaya patriarki yang masih mengakar, perempuan seakan dikungkung dan seolah-olah hanya berhadapan dengan dapur, kasur, sumur. Padahal, perempuan juga memiliki potensi yang bisa ditunjukkan dan dapat berkontribusi untuk keuntungan suatu perusahaan. Oleh karena itu, Nita berharap hal tersebut bisa segera dihilangkan.

Ilustrasi Perempuan Bekerja/Pexels/fauxelsIlustrasi Perempuan Bekerja/Foto: Pexels/fauxels/ Foto: Diny Tiara Putri

"Kepada para perempuan untuk menggali ilmu seluas-luasnya dan harus percaya diri dan harus mengikuti teknologi terbaru, semua perempuan harus maju. Mari kita maju bersama. Perempuan berdaya, Indonesia maju," ungkapnya.

Menyinggung kembali soal kesenjangan upah, dilansir dari International Labour Organization (ILO), secara global perempuan dibayar lebih rendah daripada pria, dengan kesenjangan upah gender diperkirakan 16 persen. Sementara itu di Indonesia, perempuan berpenghasilan 23 persen lebih rendah daripada pria. 

Menanggapi fenomena tersebut, pendiri PT Paragon Technology and Innovation Nurhayati Subakat menuturkan bahwa perempuan sebenarnya memiliki potensi yang luar biasa, namun sering kali tidak terlihat, bisa karena memang tidak ditunjukkan atau karena lingkungan yang tidak mendukung.

"Perempuan sebetulnya punya potensi, jadi kita harus dorong dan perempuan juga harus berani menunjukkan dan menggali potensinya. Ke depannya perusahaan juga seharusnya menilai dari hasil pekerjaan, bukan dari gendernya," tuturnya.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)

Our Sister Site

mommyasia.id