Benarkah Afirmasi Positif Punya Efek Baik? Ini Penjelasan Ilmiahnya Menurut Psikolog

Kyla Putri Nathania | Beautynesia
Kamis, 26 Mar 2026 07:30 WIB
Apakah Afirmasi Positif Efektif?
Beberapa studi menunjukkan afirmasi positif dapat meningkatkan kesejahteraan dan harga diri. Namun efeknya cenderung kecil dan tergantung pada konteksnya./ Foto: freepik.com/user18526052

Saat kamu scroll media sosial, kamu mungkin sering melihat kalimat seperti "Aku berharga" atau "Aku memilih bahagia". Janji yang ditawarkan terasa menarik, cukup ulangi afirmasi positif ini, dan kamu akan merasa lebih bahagia, lebih tenang, bahkan lebih sehat.

Secara biologis, manusia memang cenderung menghindari rasa sakit dan ingin merasa aman serta bahagia. Jadi tidak heran banyak orang tergoda mencoba afirmasi positif. Tapi, apakah hal ini benar-benar didukung oleh ilmu pengetahuan? Dan apakah ada risiko yang perlu diperhatikan?

Menurut psikolog, afirmasi positif didasarkan pada teori self-affirmation yang dikembangkan Claude Steele pada akhir 1980-an. Teori ini menyebutkan bahwa manusia memiliki keinginan mendalam untuk membangun narasi pribadi yang meyakinkan diri sendiri bahwa mereka "cukup" dan "berharga". Namun, pengalaman yang menyakitkan seperti nilai buruk, kesalahan di tempat kerja, atau putus cinta dapat mengancam narasi ini dan membuat seseorang menjadi lebih kritis terhadap diri sendiri.

Yuk, simak penjelasan lengkap tentang afirmasi positif dan apa kata psikolog!

Apakah Afirmasi Positif Efektif?

Beberapa studi menunjukkan afirmasi positif dapat meningkatkan kesejahteraan dan harga diri. Namun efeknya cenderung kecil dan tergantung pada konteksnya./ Foto: freepik.com/user18526052

Beberapa studi menunjukkan afirmasi positif dapat meningkatkan kesejahteraan dan harga diri. Namun efeknya cenderung kecil dan tergantung pada konteksnya./ Foto: freepik.com/user18526052

Bukti ilmiah menunjukkan afirmasi positif memang bisa bekerja dalam beberapa konteks. Sebuah tinjauan pada tahun 2025 yang menggabungkan 67 penelitian menemukan bahwa menulis atau mengucapkan afirmasi positif dapat berdampak pada cara seseorang memandang diri sendiri dan berinteraksi dengan orang lain, meski efeknya relatif kecil.

Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa afirmasi positif dapat membantu menjaga harga diri pengguna media sosial dan meningkatkan kesehatan mental mahasiswa.

Contohnya, studi tahun 2025 pada perempuan yang menjalani kemoterapi untuk kanker payudara menemukan bahwa mereka yang mendengarkan musik sekaligus rekaman afirmasi positif merasa lebih sedikit depresi dan mengantuk dibanding yang hanya mendengarkan musik.

Studi lain pada orang dewasa dengan gejala depresi tanpa diagnosis resmi menunjukkan bahwa menulis afirmasi positif pribadi dua kali sehari selama 15 hari meningkatkan rasa percaya diri dibanding yang tidak melakukannya.

Namun, penelitian dari 2009 menyoroti bahwa manfaat afirmasi positif hanya signifikan bagi orang dengan harga diri tinggi. Mereka yang memiliki harga diri rendah justru bisa mengalami mood lebih buruk. Oleh karena itu, efektivitas afirmasi positif masih perlu penelitian lebih lanjut.

Risiko dari Positivitas Berlebihan

Positivitas berlebihan atau toxic positivity bisa membahayakan kesehatan mental. Psikolog menyarankan memahami risiko sebelum terlalu mengandalkan afirmasi positif./ Foto: freepik.com/lookstudio

Positivitas berlebihan atau toxic positivity bisa membahayakan kesehatan mental. Psikolog menyarankan memahami risiko sebelum terlalu mengandalkan afirmasi positif./ Foto: freepik.com/lookstudio

Meski sering dianggap sebagai cara sederhana untuk meningkatkan kepercayaan diri, afirmasi positif ternyata tidak selalu memberikan dampak yang sepenuhnya baik. Jika digunakan tanpa pemahaman yang tepat, praktik ini juga memiliki beberapa risiko yang perlu diperhatikan.

Salah satu risiko yang sering dibahas adalah munculnya toxic positivity. Ketika seseorang terlalu memaksakan diri untuk selalu berpikir positif, ia bisa saja menekan atau bahkan menolak perasaan sulit yang sebenarnya wajar dirasakan. Alih-alih membantu, hal ini justru dapat menimbulkan rasa malu atau bersalah ketika seseorang merasa tidak mampu untuk tetap “bersikap positif” di tengah situasi yang berat.

Selain itu, terlalu sering mengulang afirmasi positif juga bisa memicu fenomena yang dikenal sebagai chasing dopamine. Mengucapkan kalimat-kalimat penyemangat memang bisa memberikan sensasi bahagia atau dorongan emosi sesaat karena adanya pelepasan dopamin di otak. Namun, jika seseorang mulai bergantung pada sensasi bahagia tersebut, hal ini dapat menciptakan ekspektasi yang tidak realistis terhadap kehidupan yang pada dasarnya juga dipenuhi berbagai tantangan.

Risiko lainnya adalah kemungkinan mengabaikan masalah nyata. Afirmasi positif umumnya lebih efektif ketika seseorang berada dalam lingkungan yang aman dan mendukung. Namun dalam situasi yang benar-benar berbahaya atau penuh tekanan, terlalu fokus pada pesan positif justru bisa membuat seseorang mengabaikan sinyal peringatan penting dari instingnya. Padahal, perasaan tidak nyaman atau rasa takut sering kali muncul sebagai bentuk perlindungan diri terhadap situasi yang berisiko.

Strategi yang Lebih Efektif Menurut Psikolog

Cara terbaik berbicara pada diri sendiri adalah dengan menggabungkan kasih sayang diri dan jarak emosional. Ini lebih bermanfaat daripada sekadar afirmasi positif./ Foto: freepik.com//benzoix

Cara terbaik berbicara pada diri sendiri adalah dengan menggabungkan kasih sayang diri dan jarak emosional. Ini lebih bermanfaat daripada sekadar afirmasi positif./ Foto: freepik.com//benzoix

Mengelola emosi tidak selalu harus dengan memaksakan diri untuk terus berpikir positif. Salah satu cara yang lebih membantu adalah dengan menunjukkan kasih sayang pada diri sendiri. Saat sedang stres atau menghadapi situasi sulit, cobalah mengakui perasaan tersebut.

Misalnya ketika pekerjaan menumpuk dan membuatmu kewalahan, kamu bisa mengatakan pada diri sendiri, “Ini memang lagi berat, wajar kalau aku merasa capek.” Kalimat sederhana seperti ini bisa membuatmu lebih menerima situasi tanpa merasa bersalah karena tidak selalu kuat.

Selain itu, kamu juga bisa mencoba menciptakan jarak emosional dengan melihat situasi dari sudut pandang orang ketiga. Misalnya saat kamu merasa kesal karena melakukan kesalahan di tempat kerja, coba katakan, “Dia lagi kesal karena bikin kesalahan, tapi dia juga sudah pernah melewati hal yang lebih sulit.” Cara ini dapat membantu kamu melihat masalah dengan lebih tenang, sehingga tidak langsung bereaksi berlebihan terhadap emosi yang muncul.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(dmh/dmh)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE