Saat kamu scroll media sosial, kamu mungkin sering melihat kalimat seperti "Aku berharga" atau "Aku memilih bahagia". Janji yang ditawarkan terasa menarik, cukup ulangi afirmasi positif ini, dan kamu akan merasa lebih bahagia, lebih tenang, bahkan lebih sehat.
Secara biologis, manusia memang cenderung menghindari rasa sakit dan ingin merasa aman serta bahagia. Jadi tidak heran banyak orang tergoda mencoba afirmasi positif. Tapi, apakah hal ini benar-benar didukung oleh ilmu pengetahuan? Dan apakah ada risiko yang perlu diperhatikan?
Menurut psikolog, afirmasi positif didasarkan pada teori self-affirmation yang dikembangkan Claude Steele pada akhir 1980-an. Teori ini menyebutkan bahwa manusia memiliki keinginan mendalam untuk membangun narasi pribadi yang meyakinkan diri sendiri bahwa mereka "cukup" dan "berharga". Namun, pengalaman yang menyakitkan seperti nilai buruk, kesalahan di tempat kerja, atau putus cinta dapat mengancam narasi ini dan membuat seseorang menjadi lebih kritis terhadap diri sendiri.
Yuk, simak penjelasan lengkap tentang afirmasi positif dan apa kata psikolog!