Bukan Sekadar Book Club, Dua Lipa Kini Buka Perpustakaan untuk Buku Terlarang

Amanda Nabila Noor Azahra | Beautynesia
Jumat, 03 Jul 2026 10:00 WIB
Bukan Sekadar Book Club, Dua Lipa Kini Buka Perpustakaan untuk Buku Terlarang
Dua Lipa/Foto: instagram.com/ @Service95bookclub

Kecintaan Dua Lipa terhadap buku sudah menjadi identitasnya di industrsi hiburan. Kini, Dua Lipa kembali menunjukkan kecintaannya pada dunia tersebut dengan mendirikan sebuah perpustakaan.

Melalui book club yang dikenal aktif dengan nama Service95 Book Club, penyanyi yang terkenal dengan lagu "New Rules” ini kini meresmikan perpustakaan khusus berisi buku-buku yang dilarang dan disensor yang diberi nama Manifesto Library, di Porto, Portugal.

Hal yang menjadi bagian menarik dari proyek ini adalah bukan hanya tentang membaca, tetapi juga sebagai ruang untuk kebebasan berpikir dan pentingnya menjaga lingkup tersebut agar suara-suara yang dibungkam tetap mampu memberi cerita-cerita yang menantang kekuasaan.

Lantas, seperti apa Manifesto Library milik Dua Lipa? Yuk, simak, Beauties!

Dua Lipa Membuka Manifesto Library di Portugal

Dua Lipa Meresmikan Manifesto Library Melalui Instagram Book Club-nya/Foto: instagram.com/@Service95bookclub & @livraria.lello

Melansir dari Euronews, Manifesto Library resmi dibuka di Livraria Lello, toko buku ikonik yang berada di Porto, Portugal. Perpustakaan yang hadir sebagai bagian dari festival buku BABEL - City of Books yang menjadi ruang pertama Service95 Book Club yang terhubung secara fisik. Artinya klub buku milik Dua Lipa ini adalah hasil dari misi Dua Lipa untuk menghadirkan kesempatan bagi para pembaca dan penulis, di mana pun mereka berada.

Manifesto Library Berisi Buku-Buku yang Pernah Dilarang atau Disensor

Dua Lipa Dengan Wawancaranya Dengan Margaret Atwood/Foto: instagram.com/@Service95bookclub

Hal yang membuat perpustakaan ini unik adalah, Manifesto Library menampilkan sekitar 100 buku kontemporer yang pernah dilarang atau disensor. Apa artinya? Menurut People Magazine, koleksi buku dalam perpustakaan ini dibagi ke dalam empat tema besar, yaitu power, control, voice, dan memory. Hal tersebut juga menandakan bahwa koleksi buku ini dianggap menantang narasi dominan.

Beberapa karya yang disebut masuk ke dalam perpustakaan ini antara lain The Handmaid’s Tale karya Margaret Atwood yang sudah diangkat sebagai salah satu TV Show terkenal di Amerika Serikat, selain itu ada Felon karya Reginald Dwayne Betts, serta karya-karya dari Salman Rushdie dan Olga Tokarczuk. Dua Lipa dalam pernyataannya menyebutkan bahwa buku-buku tersebut dipilih karena adanya pertanyaan yang berani mereka ajukan lewat karyanya, bahkan ketika keberadaannya pernah dipersoalkan.

Manifesto Library Menjadi Kelanjutan dari Service95 Book Club

Dua Lipa Bersama Buku Karya Claire Keegan 'So Late In The Day'/Foto: instagram.com/@Service95bookclub

Mungkin para Beauties yang merupakan pencinta buku atau pengikut pop culture, tidak asing dengan aktivitas Dua Lipa sebagai pendiri book club lewat Service95 Book Club. Platform tersebut rutin digunakan oleh penyanyi kelahiran 1995 ini untuk membagikan rekomendasi buku, mewawancarai penulis, dan memperkenalkan pembacanya pada beragam cerita dari berbagai belahan dunia.

Manifesto Library bukanlah sesuatu yang mengejutkan bagi penggemar serta pengikut komunitas pembacanya, karena langkah tersebut terjadi secara alami, bukan hanya sekadar proyek selebriti sesaat, tetapi bentuk nyata dari minat Dua Lipa pada dunia literasi dan isu kebebasan berekspresi.

Bagi Dua Lipa, Membaca Juga Bisa Menjadi Bentuk Perlawanan

Dua Lipa Bersama Buku Karya Jez Butterworth 'Jerusalem'/Foto: instagram.com/@Service95bookclub

Dalam pernyataannya yang dikutip oleh Euronews, Dua Lipa menyebut Manifesto Library sebagai “shrine” bagi buku-buku yang menghilang, shrine sendiri sering diartikan sebagai tempat yang suci.

Dalam artian lain, Dua Lipa ingin perpustakaan ini menjadi tempat aman bagi para penulis yang berani membongkar berbagai bentuk kekuasaan dan juga melibatkan para pembaca yang menolak diatur tentang apa yang boleh dan tidak boleh mereka baca. Karena menurutnya, di saat sebuah buku mulai dilarang, disensor, atau bahkan dihilangkan, yang hilang bukan hanya sebuah cerita, tetapi juga ruang untuk bertanya, membayangkan, dan memahami dunia.

Adanya Manifesto Library membuktikan bahwa keterlibatan Dua Lipa di dunia literasi bukan sekadar hobi sampingan. Dimulai dari klub buku, wawancara penulis, hingga kini membuka perpustakaan yang mengangkat isu yang cukup sensitif sekalipun, memperlihatkan bahwa ia sebagai figur publik tidak hanya berkarya di dunia hiburan tetapi juga mendorong literasi dan kebebasan berpikir sebagai sisi lainnya. Kehadiran Manifesto Library juga melibatkan pembaca untuk melihat buku sebagai bagian dari percakapan yang lebih luas tentang kebebasan, identitas, dan hak untuk membaca.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE