Dulu Selalu Dilakukan, 5 Tradisi Imlek Ini Kini Mulai Dilupakan

Aqida Widya Kusmutiarani | Beautynesia
Jumat, 09 Feb 2024 17:30 WIB
Membuat Fermentasi Tepung di Tanggal 28 Bulan Ke-12 Imlek
Tradisi membuat fermentasi tepung saat Imlek (Tahun Baru Imlek/Foto: pexels.com/Angela Roma )

Imlek menjadi salah satu perayaan yang paling dinantikan masyarakat Tionghoa di seluruh dunia. Tahun 2024 ini, perayaan Imlek akan jatuh pada tanggal 10 Februari. 

Hari besar masyarakat Tionghoa ini biasanya dirayakan dengan berbagai tradisi dan adat. Misalnya, sembahyang leluhur, membersihkan rumah, hingga mendekor rumah dengan ornamen-ornamen Imlek yang identik dengan warna merah. 

Selain itu, ada juga beberapa tradisi Imlek  lain yang dilakukan. Sayangnya, tradisi tersebut sebagian sudah mulai dilupakan. Apa saja tradisi Imlek yang mulai dilupakan tersebut? Melansir dari China Highlights, berikut ulasan selengkapnya.

Menyambut Dewa Dapur

Perayaan tahun baru imlek
Tahun baru imlek/Foto: pexels.com/Angela Roma

Menurut legenda kuno, Dewa Dapur atau Dewa Kompor akan pergi ke Surga setiap tanggal 23 atau bulan ke-12 berdasarkan penanggalan lunar Tiongkok. Setelah itu, Dewa Dapur akan melaporkan kepada Kaisar Langit tentang apa yang dilakukan si pemilik dapur dalam setahun terakhir.

Masyarakat Tionghoa tentunya berharap sang dewa akan mengatakan hal-hal yang baik. Oleh karena itu, mereka menyajikan makanan yang manis-manis, seperti kue gula, panekuk goreng, dan sup buncis sebelum malam Tahun Baru Imlek sebagai persembahan kepada dewa dapur. 

Sayangnya, tradisi Imlek ini sudah jarang dilakukan karena banyak keluarga yang beralih ke rumah modern tanpa tungku masak tradisional.

Membuat Fermentasi Tepung di Tanggal 28 Bulan Ke-12 Imlek

Tradisi membuat fermentasi tepung saat Imlek (Tahun Baru Imlek/Foto: pexels.com/Angela Roma )

Tradisi Imlek berikutnya yang mulai dilupakan adalah membuat fermentasi tepung di tanggal 18 bulan ke-12 Imlek. Fermentasi tepung ini nantinya akan dimasak menjadi roti kukus. 

Zaman dulu, setiap rumah akan sibuk menyiapkan makanan untuk Imlek, khususnya roti kukus. Mereka membuatnya dengan mencampurkan adonan roti dengan ragi, lalu menunggu selama dua hari sebelum perayaan Imlek dimulai. Setelah dua hari, adonan akan terfermentasi sempurna dan siap diolah menjadi hidangan yang lezat. 

Sekarang kebiasaan ini sudah jarang terlihat karena tersedianya baking powder, kulkas, dan toko roti sehingga orang-orang bisa membuatnya dengan cepat. Kalau tidak mau repot, tinggal beli saja di toko roti. 

Menyapu Lantai maupun Membuang Sampah

Dilarang menyapu lantai dan membuang sampah adalah salah satu tradisi Imlek (Perayaan Imlek/Foto: pexels.com/Angela Roma)

Berkunjung ke rumah kerabat dekat adalah salah satu tradisi penting yang sering dilakukan saat perayaan Tahun Baru Imlek. Biasanya, tradisi ini dilakukan di hari pertama. 

Setelah menerima kunjungan kerabat, tak heran jika rumah menjadi kotor dan sampah berserakan. Namun, di hari pertama dan kedua perayaan Imlek, masyarakat Tionghoa dilarang menyapu lantai maupun membuang sampah karena dipercaya bisa membawa sial. 

Tradisi ini sudah cukup jarang dilakukan masyarakat Tionghoa yang tinggal di perkotaan, tetapi masih sering dilakukan oleh mereka yang tinggal di pedesaan atau kota kecil. 

Mengadakan Ritual Persembahan untuk Dewa Keberuntungan

Mengadakan ritual persembahan untuk dewa keberuntungan adalah tradisi imlek yang mulai dilupakan (Imlek/Foto: pexels.com/Angela Roma)

Masyarakat Tionghoa dulu memiliki kebiasaan untuk mengadakan ritual persembahan kepada Dewa Keberuntungan pada hari ke-2 (di Tiongkok Utara) atau hari ke-5 (di Tiongkok Selatan) saat perayaan Imlek. 

Persembahan dilakukan di toko atau rumah, melibatkan kurban berupa babi utuh, kambing, ayam, bebek, atau ikan mas hidup. Tradisi ini dilakukan sebagai upaya untuk mendapatkan keberuntungan dalam tahun yang akan datang. 

Menurut legenda, Dewa Keberuntungan terkait dengan Dewa Lima Jalan, yaitu Jalan Selatan, Jalan Utara, Jalan Tengah, Jalan Barat, dan Jalan Timur.

Tetap di Rumah Pada Hari Ketiga

Tidak keluar rumah pada hari ketiga adalah tradisi imlek yang dulu sering dilakukan (Imlek/Foto: pexels.com/RDNE Stock project)

Hari ketiga perayaan Imlek dikenal sebagai Hari Anjing Merah. Menurut cerita rakyat Tionghoa, anjing merah adalah Dewa Kemarahan. Barangsiapa yang bertemu dengannya akan mendapat nasib buruk. 

Oleh karena itu, masyarakat Tionghoa memilih untuk tetap di rumah, tidak berkunjung ke rumah kerabat, ataupun menerima tamu pada hari ketiga Imlek daripada bertemu dengan anjing merah. 

Namun, masyarakat Tiongkok modern sudah jarang mengikuti tradisi ini. Bahkan, mereka tetap berkunjung ke rumah teman atau kerabat pada hari ketiga perayaan Tahun Baru Imlek.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(dmh/dmh)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE