sign up SIGN UP

Inflasi Nyaris Samai Kenaikan UMP Jakarta! Duh, Indonesia Bakal Resesi?

Tim Redaksi CNBC Indonesia | Beautynesia
Kamis, 04 Aug 2022 15:00 WIB
Inflasi Nyaris Samai Kenaikan UMP Jakarta! Duh, Indonesia Bakal Resesi?
Inflasi Nyaris Samai Kenaikan UMP Jakarta/Foto: Getty Images/iStockphoto/Damir Khabirov
Jakarta -

Beauties, tren kenaikan inflasi di Indonesia masih terus berlanjut. Bahkan, kini mendekati kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI Jakarta tahun 2022! Lantas, apakah Indonesia bakal alami resesi?

Akhir tahun lalu, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, menetapkan UMP DKI Jakarta 2022 naik sebesar 5,1 persen dari 2021 menjadi Rp 4.641.854. Meski kini Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 1517 tentang Penetapan Upah Minimum Provinsi tersebut dinyatakan batal demi hukum oleh Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN), dan Anies sedang mengajukan banding.

Kenaikan UMP di DKI Jakarta tersebut terbilang cukup tinggi, dan inflasi kini hampir menyamainya.

Inflasi Nyaris Samai Kenaikan UMP Jakarta

Senin kemarin, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan data inflasi Indonesia periode Juli 2022. Hasilnya tidak jauh dari ekspektasi, inflasi semakin tinggi, nyaris mencapai 5 persen.

Tingginya inflasi tersebut membuat rupiah kemarin melemah 0,27 persen ke Rp 14.870/US$. Sebab, meski inflasi terus menanjak, Bank Indonesia (BI) masih enggan menaikkan suku bunga, Beauties. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga kesulitan bertahan di atas 7.000.

Kepala BPS Margo Yuwono melaporkan laju inflasi domestik bulan lalu adalah 0,64 persen dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/mtm).Lebih tinggi dibandingkan Juni 2022 yang sebesar 0,61 persen.

Kebiasaan Buruk Saat Gajian yang Bikin Kamu Susah Kaya Dan Tips Untuk MemperbaikinyaIlustrasi/Foto: Pexels.com/Karolina Grabowska

Namun secara tahunan (year-on-year/yoy), laju inflasi terakselerasi. Inflasi Juli 2022 tercatat 4,94 persen (yoy), lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang 4,35 persen sekaligus jadi yang tertinggi sejak Oktober 2015. Inflasi tahun kalender (Januari - Juli 2022) tercatat 3,85 persen.

Inflasi inti juga tercatat naik menjadi 2,68 persen (yoy) lebih tinggi dari sebelumnya 2,63 persen (yoy).

"Terkait perkembangan harga komoditas global, indeks harga komoditas global terlihat sejak Februari sampai Juni baik itu energi, makanan, pupuk, menunjukkan adanya peningkatan. Demikian pula harga pangan, sejak semester I-2022 trennya cenderung mengalami peningkatan," kata Margo.

Ilustrasi mencatat pengeluaran dan pemasukan uang.Ilustrasi/Foto: Pexels/karolina grabowska

Dari dalam negeri, perkembangan curah hujan di beberapa daerah penghasil cabai rawit, cabai merah, dan bawang merah dikategorikan tinggi. Ini akan mempengaruhi produksi.

Inflasi bahan makanan tersebut, yang termasuk dalam kelompok volatile tercatat melesat 10,88 persen (yoy), tertinggi sejak 2014. Sepanjang tahun berjalan kenaikannya mencapai 8,83 persen, yang tentunya menggerus daya beli masyarakat.

Pemerintah, lanjut Margo, juga menyesuaikan harga energi. Pertamax Turbo naik 12 persen, Dexlite naik 16 persen, Pertamina Dex naik sekitar 20 persen, gas Elpiji juga naik 14 persen. Tarif listrik per 1 Juli 2022 ada kenaikan untuk golongan 3.500 VA.

kiat mengelola uangIlustrasi mengelola uang/Foto: Pexels.com/Karolina Grabowska/ Foto: Cynthia Claudia

Dengan inflasi yang semakin tinggi, kenaikan UMP yang diterima masyarakat tentunya menjadi tidak berarti. Apalagi jika sampai lebih tinggi dari kenaikan UMP, daya beli masyarakat artinya akan tergerus.

Itu jika dibandingkan dengan kenaikan UMP DKI. Dibandingkan dengan kenaikan UMP nasional, inflasi kini sudah jauh lebih tinggi.

Pemerintah pusat melalui Kementerian Ketenagakerjaan sudah memberi pernyataan bahwa rata-rata kenaikan upah minimum provinsi (UMP) adalah sebesar 1,09 persen. Nilai tersebut tidak mutlak, melainkan rata-rata dari seluruh provinsi di Indonesia. Sehingga bisa jadi ada yang lebih besar, namun ada juga yang lebih kecil.

Artinya, inflasi sudah jauh lebih tinggi, dan daya beli masyarakat sudah tergerus. Hal ini bisa menjadi masalah bagi perekonomian, sebab konsumsi rumah tangga merupakan penyumbang terbesar Produk Domestik Bruto (PDB) berdasarkan pengeluaran.

Untuk baca analisis selengkapnya, klik di sini, Beauties!

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)

Our Sister Site

mommyasia.id