Inspiratif, Pria Ini Dirikan Perpustakaan Publik Pertama di Gaza di Tengah Reruntuhan

Nadya Quamila | Beautynesia
Rabu, 11 Mar 2026 13:15 WIB
Sempat Alami Dilema antara Bertahan Hidup atau Selamatkan Buku
Inspiratif, Pria Ini Dirikan Perpustakaan Publik Pertama di Gaza di Tengah Reruntuhan/Foto: Dok. Omar Hamad/The Jordan Times

Genosida Israel di Palestina telah merenggut tak hanya korban jiwa, tapi juga hak-hak warga, salah satunya akses pendidikan. Bangunan sekolah hancur dan kekacauan yang terjadi membuat pelajar di Palestina tak bisa mengenyam pendidikan. Membaca buku tak lagi jadi hal yang mereka lakukan lantaran sibuk berjuang bertahan hidup dari hari ke hari.

Ketika serangan Israel menghancurkan berbagai wilayah di Palestina, seorang pria bernama Omar Hamad asal Gaza membuat keputusan yang menentukan hidupnya: ia berjanji pada diri sendiri tidak akan meninggalkan koleksi buku-bukunya.

Di tengah pemboman, pengungsian, kelaparan, dan kehancuran, Omar tetap menyimpan perpustakaan pribadinya, membawanya dari satu tempat ke tempat lain saat ia dan keluarganya melarikan diri dari serangan. Kini, Omar berhasil membangun perpustakaan di Gaza sebagai lambang bangkitnya literasi dan budaya membaca. Perpustakaan itu diberi nama Phoenix Library.

Omar telah mengungsi sebanyak 12 kali sejak genosida Israel. Namun, buku-bukunya menjadi salah satu hal yang selalu ia bawa ke mana pun ia pergi. 

"Mungkin terdengar mudah untuk mengatakan, 'Saya telah mengungsi 12 kali,' tetapi kepedihan pengungsian lebih berat daripada kepedihan kehilangan, dan saya telah mengalami keduanya," kata Omar kepada The Jordan Times.

Sempat Alami Dilema antara Bertahan Hidup atau Selamatkan Buku

Inspiratif, Pria Ini Dirikan Perpustakaan Publik Pertama di Gaza di Tengah Reruntuhan

Inspiratif, Pria Ini Dirikan Perpustakaan Publik Pertama di Gaza di Tengah Reruntuhan/Foto: Dok. Omar Hamad/The Jordan Times

Omar membangun sebuah perpustakaan setelah kehancuran universitas, pusat kebudaayaan, dan perpustakaan independen di seluruh Jalur Gaza. Upayanya ini berawal dari aksinya menyelamatkan buku-buku dari institusi yang dibom, rumah-rumah yang ditinggalkan, dan rak-rak yang rusak. 

Upaya penyelamatan besar pertama yang diikuti Omar melibatkan Perpustakaan Edward Said di Beit Lahia.

“Perpustakaan Edward Said di Beit Lahia adalah perpustakaan pertama yang kami selamatkan. Perpustakaan itu milik pemiliknya, penulis Musab Abu Toha, tetapi ia meninggalkan Gaza pada awal genosida, dan rumah serta perpustakaannya hancur,” tutur Omar.

Bersama kedua temannya, Omar menyusuri Gaza utara hingga selatan untuk menemukan sisa-sisa perpustakaan yang masih berdiri.

“Ketika kami kembali dari Gaza selatan ke utara, teman saya Ibrahim, teman saya Hossam, dan saya pergi ke perpustakaan dan mengambil buku-buku yang tersisa,” paparnya.

Ketika ia mendatangi Universitas Islam Gaza, ia melihat bahwa warga sekitar menggunakan buku-buku yang tersisa untuk memasak di tengah kelaparan yang melanda.

“Di perpustakaan universitas, orang-orang mulai mengambil buku untuk digunakan memasak. Saya dan saudara-saudara saya pergi ke sana dan menyelamatkan banyak buku, beberapa berusia lebih dari 100 tahun. Saya mengumpulkannya dalam tas dan membawanya dengan gerobak keledai,” ungkap Omar.

Penghancuran ruang budaya bukanlah hal yang abstrak baginya. Buku-buku membentuk struktur kehidupan sehari-harinya, bahkan dalam kondisi yang paling ekstrem sekalipun.

Warga Gaza tak hanya menghadapi ancaman kehilangan nyawa karena bombardir, tapi juga kelaparan parah yang melanda. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara resmi menyatakan bencana kelaparan di Gaza pada akhir Agustus 2025. Dikutip dari WAFA, lebih dari 500 ribu warga Palestina hidup dalam kondisi Fase 5, yaitu tingkat kerawanan pangan paling parah, yang ditandai dengan kelaparan ekstrem, malnutrisi akut, dan kematian.

Omar menjelaskan bahwa di tengah bombardir daan bencana kelaparan, orang-orang berfokus pada bagaimana caranya mempertahankan kelangsungan hidup. Selama salah satu fase kelaparan terburuk di Gaza, ia menghadapi dilema etis.

“Kelaparan dan penderitaan tidak memungkinkan komunitas kami untuk peduli pada buku. Bahkan selama fase kelaparan terberat, saya menawarkan perpustakaan itu untuk dijual dengan imbalan sekantong tepung,” kenang Omar.

Omar, pada saat itu, menyadari sepenuhnya bahwa sepotong roti di mulut ibu, ayah, saudara kandung, dan keponakannya lebih penting daripada buku. Ia mengenang menyaksikan orang-orang membakar buku untuk memasak makanan.

“Dulu saya sering mengambil buku-buku dari sana untuk menyelamatkannya, sementara orang-orang mengambilnya untuk menyalakan api untuk memasak. Saya tidak mampu memberi tahu mereka bahwa buku-buku ini berharga; kata-kata saya akan terasa tidak berarti dibandingkan dengan penderitaan yang mereka alami, tanpa gas atau kayu bakar. Itulah saat saya merasa paling tidak berdaya,” curhat Omar.

Omar Hamad: Membangun Perpustakaan adalah Tindakan Kebebasan

Omar Hamad

Omar Hamad/Foto: Instagram/omar.hamad7

Hilangnya perpustakaan, sekolah, dan situs budaya sangat memengaruhi Omar. Ia merasa sebagian jiwa dan pengetahuannya sedang dipaksa dihapus.

Banyak keluarga kehilangan kesempatan untuk mengenyam pendidikan, terutama anak-anak. Banyak warga yang mulai menjauh dari membaca dan belajar. Hal ini sulit dilakukan di tengah kehancuran yang menghantui.

“Apa yang bisa Anda harapkan dari sebuah komunitas yang telah kehilangan pendidikan dan kesempatan membaca selama dua tahun penuh, bukan karena pilihan, tetapi dipaksa oleh pembunuhan, kehancuran, pemboman, dan pertumpahan darah?” pungkas Omar.

Meskipun menghadapi tantangan yang luar biasa, semangat Omar tidak luntur. Di tengah keterbatasan, ia berhasil menyelamatkan berbagai judul buku hingga mendirikan perpustakaan. Sebagian besar adalah novel dari sastra Rusia, serta buku teks pendidikan dalam mata pelajaran seperti fisika dan kimia. 

Ada juga buku-buku Islam dari empat imam: Ahmad ibn Hanbal, Anas ibn Malik, Al Shafi’i, dan Al Hanafi. Selain itu, ada novel fiksi seperti Harry Potter, The Lord of the Rings, dan masih banyak lagi.

“Saya berencana untuk menggunakan buku-buku ini, dan saya juga ingin mencetak lebih banyak buku, termasuk buku anak-anak. Akan ada juga bagian khusus untuk seni visual, yang menampilkan karya-karya seniman Gaza yang melukis selama genosida,” jelas Omar.

Inisiatif Omar menonjol sebagai upaya akar rumput untuk melindungi apa yang tersisa dari kehidupan intelektual dan budaya di jalur Gaza. Tujuannya sederhana: untuk melestarikan buku-buku sekarang agar, suatu hari nanti, orang dapat kembali membacanya.

“Bagi saya, buku bukanlah benda suci atau ornamen indah; buku adalah bagian tak terpisahkan dari jiwa saya. Buku adalah ritual harian saya. Buku membentuk kepribadian, pikiran, dan bahkan imajinasi saya. Tidak satu hari pun selama genosida berlalu tanpa saya membaca," ujar Omar.

Omar juga membagikan kegiatannya dalam mendirikan perpustakaan melalui akun Instagramnya, @omar.hamad7. Di salah satu unggahannya, Omar mengatakan, "Seperti yang telah kami katakan, dan seperti yang akan selalu menjadi slogan kami: Terkadang, membangun perpustakaan adalah sebuah tindakan kebebasan."

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE