sign up SIGN UP

Jadi Sorotan, Presiden Iran Batalkan Wawancara usai Jurnalis Senior CNN Tolak Permintaan Pakai Jilbab

Nadya Quamila | Beautynesia
Jumat, 23 Sep 2022 12:00 WIB
Jadi Sorotan, Presiden Iran Batalkan Wawancara usai Jurnalis Senior CNN Tolak Permintaan Pakai Jilbab
Presiden Iran Ebrahim Raisi/Foto: Getty Images/Anna Moneymaker
Jakarta -

Presiden Iran Ebrahin Raisi baru-baru ini jadi perhatian usai menolak wawancara dengan jurnalis senior CNN International, Christiane Amanpour. Seorang ajudan Raisi mengatakan bahwa sang presiden menyarankan agar Amanpour menggunakan jilbab. Namun, Amanpour 'menolak dengan sopan'.

Amanpour, yang dibesarkan di ibu kota Iran, Teheran, dan fasih berbahasa Farsi, mengatakan bahwa dia mengenakan jilbab saat meliput di Iran untuk mematuhi hukum dan kebiasaan setempat.

"Jika tidak [menggunakan jilbab] Anda tidak dapat beroperasi sebagai jurnalis," tuturnya, dilansir dari CNN.

Namun Amanpour mengatakan tidak akan menggunakan jilbab untuk melakukan wawancara dengan seorang pejabat Iran di luar negara, karena tidak ada aturan yang mengatur hal tersebut. Diketahui wawancara tersebut dilakukan di Majelis Umum PBB di New York.

LONDON, ENGLAND - NOVEMBER 14:  Christiane Amanpour speaks on stage at the SeriousFun Children's Network Campfire Bash on November 14, 2019 in London, England. (Photo by Mike Marsland/Mike Marsland/Getty Images for SeriousFun)Christiane Amanpour/ Foto: Mike Marsland/Getty Images for S/Mike Marsland

"Di sini, di New York, atau di mana pun di luar Iran, saya tidak pernah diminta oleh presiden Iran mana pun - dan saya telah mewawancarai setiap dari mereka sejak 1995 - baik di dalam maupun di luar Iran, tidak pernah diminta untuk mengenakan jilbab," lanjutnya.

"Saya menolak dengan sangat sopan atas nama saya sendiri dan CNN, dan jurnalis perempuan di mana pun karena itu bukan keharusan," ungkapnya.

Sebagai informasi, hukum di Iran mengharuskan semua perempuan untuk mengenakan penutup kepala dan pakaian longgar di publik. Aturan tersebut telah diberlakukan sejak Revolusi Islam 1979

Hukum Iran mengharuskan semua wanita untuk mengenakan penutup kepala dan pakaian longgar di depan umum. Aturan tersebut telah diberlakukan di Iran sejak Revolusi Iran 1979. Sejak peraturan tersebut berlaku, semua perempuan, termasuk turis, tokoh politik yang berkunjung, hingga jurnalis, wajib menaatinya.

Ajudan Raisi, tutur Amanpour, menjelaskan bahwa wawancara tersebut tidak akan terjadi jika dia tidak mengenakan jilbab. Ajudan tersebut juga mengatakan bahwa hal tersebut berkaitan dengan situasi yang kini tengah terjadi Iran.

Signs of  picture of Mahsa Amini  are seen  in front of Dom Cathedral in Cologne, Germany on September 21, 2022 to protest against woman's death in the custody which sparked outrage against government in Iran (Photo by Ying Tang/NurPhoto via Getty Images)Unjuk rasa masyarakat Iran atas kematian Mahsa Amini/ Foto: NurPhoto via Getty Images/NurPhoto

Saat ini, protes dan unjuk rasa sedang bergejolak di Iran akibat tewasnya seorang perempuan bernama Mahsa Amini yang ditangkap polisi moral karena melanggar aturan hijab. 

Ribuan orang turun ke jalan, beberapa perempuan memotong rambut mereka sebagai bentuk protes terhadap peraturan pemerintah. Dikabarkan hingga saat ini ada 17 orang tewas dalam aksi protes kematian Mahsa Amini.

Mahsa Amini yang dikenal dengan nama Jina, adalah seorang perempuan berusia 22 tahun dari kota barat Saqqez di provinsi Kurdistan, Iran. Polisi moral Iran menahannya di luar stasiun metro di Teheran dengan alasan tidak memakai hijab dengan benar.

Sebelum peristiwa, Mahsa Amini dikabarkan sedang bepergian dengan keluarganya dari provinsi Kurdistan ke Teheran, ibu kota Iran, untuk mengunjungi kerabatnya. Lalu penangkapan pun terjadi. Saksi mata melaporkan bahwa Amini dipukuli di dalam mobil polisi.

Mahsa AminiMahsa Amini/ Foto: Twitter via The Guardian

Saksi mata juga menyatakan bahwa Amini dipukuli saat dibawa polisi ke pusat penahanan, hingga membuatnya mengalami cedera serius. Amini meninggal di rumah sakit setelah menghabiskan tiga hari dalam keadaan koma.

Pasukan keamanan Iran telah mengeluarkan pernyataan yang mengklaim bahwa Amini meninggal karena serangan jantung di pusat penahanan. Padahal, keluarganya telah membantah klaim ini, mengatakan bahwa putri mereka dalam keadaan sehat ketika dia ditahan.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)

Our Sister Site

mommyasia.id