Kekerasan dalam rumah tangga mengacu pada pola perilaku apa pun yang digunakan seseorang untuk mendapatkan atau mempertahankan kekuasaan dan kendali atas individu lain dalam hubungan. Menurut Elizabeth Fedrick, seorang konselor profesional berlisensi dan pendiri Evolve Counseling, beberapa contoh dari kekerasan dalam rumah tangga di antaranya kekerasan fisik dan agresi, penghinaan secara verbal, pelecehan emosional, pelecehan psikologis, pengendalian keuangan, dan penguntitan.
Kekerasan dalam rumah tangga bisa dialami oleh siapa pun, tanpa memandang usia, jenis kelamin, atau ras. Semua jenis pelecehan dapat berdampak negatif pada kesejahteraan seseorang secara keseluruhan.
Menurut para ahli, ada 5 tanda halus kekerasan dalam rumah tangga yang mungkin jarang disadari. Berikut ulasannya yang telah dilansir dari Insider.
Penghinaan yang Disamarkan sebagai Lelucon
Ilustrasi/Foto: Freepik.com/beststudio |
Salah satu bentuk kekerasan verbal yang paling umum adalah komentar yang merendahkan atau meremehkan, terutama jika dilakukan di depan umum. Komentar-komentar negatif ini dimulai dari komentar sederhana seperti penampilan kamu. Setelah mengucapkan komentar-komentar tersebut, pelaku kekerasan dalam rumah tangga akan mengatakan dalih seperti, "Hanya bercanda," tanpa peduli bagaimana perasaan kamu.
"Bentuk kontrol ini dimaksudkan untuk mengikis harga diri pasangan," kata Fedrick. "Ini dapat sangat memengaruhi harga diri pasangan secara umum, yang dapat menyebabkan gejala kecemasan atau depresi."
Jika kamu menjadi korban, hal ini akan menjadi ketakutan untuk kamu saat bersama pasangan di tempat umum karena kamu menjadi tidak yakin dengan apa yang akan pasangan kamu katakan atau bagaimana mereka bertindak.
Upaya untuk Mengontrol Keputusan Hidup
Ilustrasi/Foto: Freepik.com/opatsuvi |
Memberikan peraturan dengan siapa saja kamu boleh menghabiskan waktu, apa yang boleh kamu pakai, dan bagaimana kamu menggunakan uang merupakan beberapa contoh dari perilaku mengontrol. Fedrick mengatakan perilaku ini sering kali dimulai secara halus sebagai saran. Kemudian ketika pasangan kamu merasa nyaman dengan perilaku ini, saran tersebut akan berubah menjadi tuntutan.
Pada akhirnya, mungkin kamu akan merasa tidak mampu membuat keputusan untuk kamu sendiri, yang bisa merusak harga diri. Seiring berjalannya waktu, kamu mungkin akan kehilangan kepercayaan pada kemampuan kamu dalam membuat keputusan dan ini dapat memengaruhi hal-hal lain dalam kehidupan kamu.