Jarang Disadari, Toxic Feminity Ternyata Sering Ditemui Sehari-hari!

Fahira Mahza | Beautynesia
Senin, 15 Mar 2021 14:30 WIB
Toxic Feminity Ternyata Sering Ditemui Sehari-hari/ foto: freepik.com

Semakin berkembangnya jaman maka berkembang pula ilmu pengetahuan di sekitar kita. Ilmu pengetahuan tak hanya terbatas pada sains dan angka, namun juga pada ilmu-ilmu sosial. Isu-isu sosial muncul dari berbagai fenomena kehidupan yang ada di masyarakat.

Belakangan ini toxic feminity menjadi bahan perbincangan di kalangan masyarakat. Toxic feminity merupakan pandangan seksis yang menerapkan standar tertentu bagi perempuan. Pandangan ini acap kali digunakan untuk menyudutkan wanita oleh suatu lingkungan sosial, bahkan sesama perempuan.

Masih banyak sekali orang yang tidak sadar terhadap status dan derajat perempuan sehingga menciptakan toxic feminity bagi seorang perempuan. Beberapa hal yang dianggap lumrah di masyarakat ini ternyata merupakan bentuk dari toxic feminity loh!

Perempuan harus pandai mengurus rumah


Perempuan harus pandai mengurus rumah/foto: freepik.com

Di abad 21 ini masih banyak orang yang berpikir bahwa perempuan ditakdirkan untuk mengurus rumah dan menjadi ibu rumah tangga. Membersihkan rumah, mencuci pakaian dan sebagainya dianggap tugas utama seorang perempuan.

Padahal hal tersebut tak terbatas oleh gender. Ketika tinggal sendiri ataupun telah berkeluarga tentunya harus melakukan pekerjaan rumah. Baik laki-laki dan perempuan harus bisa mengurus rumah loh. 

Perempuan harus bisa masak


Perempuan harus bisa masak/foto: freepik.com

Seringkali kita mendengar ungkapan bahwa perempuan itu harus bisa masak. Sebenarnya masak merupakan skill dasar bertahan hidup yang sangat penting bukan untuk orang lain melainkan untuk diri sendiri. Baik perempuan ataupun laki-laki sebaiknya memang bisa memasak. Namun, bukan berarti kamu gagal sebagai wanita jika tidak bisa ataupun memilih untuk tidak memasak. 

Perempuan selalu lemah lembut


Perempuan selalu lemah lembut/foto: freepik.com

Banyak yang mengkotakkan sifat seorang perempuan itu selalu lembut. Sejatinya, sikap seseorang bergantung pada kepribadian masing-masing. Sikap ini dapat terbentuk karena lingkungan dan didikan yang diterima sedari kecil. Tak hanya perempuan, bahkan seorang laki-laki pun dapat bersifat lemah lembut dan keibuan. Kamu berhak menjadi diri sendiri selama tidak merugikan orang lain. 

Perempuan tidak perlu sekolah tinggi


Perempuan tidak perlu sekolah tinggi/foto: freepik.com

Hingga kini hal ini masih menjadi stereotype bagi sebagian orang. Bagi orang-orang yang berpikir bahwa kodrat perempuan adalah sebagai ibu rumah tangga masih menerapkan prinsip agar perempuan tak perlu sekolah tinggi.

Jika memang ada kesempatan, maka mengapa tidak belajar setinggi mungkin? Pendidikan adalah sesuatu yang berhak untuk didapat oleh semua orang tanpa dibatasi oleh gender. Pendidikan ada untuk meningkatkan kualitas diri sendiri di kemudian hari. 

Perempuan harus bisa dandan 


Perempuan harus bisa dandan/foto: freepik.com

Merias wajah memang merupakan sesuatu yang identik dengan kaum perempuan. Namun, sebenarnya kembali pada pilihan masing-masing. Kamu bisa memilih untuk berdandan ataupun tidak. Dandan bukanlah sebuah keharusan dan tidak bisa menjadi tolak ukur dirimu sebagai seorang perempuan. Jika memang kamu tidak menyukainya, maka kamu bisa memilih untuk tidak melakukannya. 

Tanpa kita sadari, hal-hal tersebut masih menjadi mindset bagi sebagian masyarakat dan dianggap sebagai hal yang lumrah. Padahal termasuk toxic feminity yang dapat menyudutkan posisi seorang wanita dalam kehidupan bersosial loh. Jadi, cobalah untuk menghentikan toxic feminity yang beredar di masyarakat!

(arm2/arm2)
Loading ...