Perhatian dunia kembali tertuju pada Israel yang melancarkan serangan udara di Jalur Gaza sejak Jumat (5/8), menewaskan kurang lebih 44 nyawa, termasuk 6 anak-anak, di mana salah satunya adalah anak perempuan berusia 5 tahun. Serangan udara yang dilancarkan Israel juga menyebabkan dua komandan senior Gaza meninggal dunia.
Mengapa Israel menyerang jalur Gaza Palestina tanpa adanya peringatan terlebih dahulu? Dilansir dari CNN Indonesia, militer Israel menyebut kembali melancarkan serangan udara besar-besaran ke Gaza untuk operasi pembersihan dan pencegahan terhadap kelompok jihad Islam di daerah itu.
Dilansir dari Aljazeera, Perdana Menteri Israel Yair Lapid mengatakan perlu untuk meluncurkan operasi "pendahuluan" terhadap kelompok Jihad Islam, karena ada informasi kelompok tersebut merencanakan serangan setelah berhari-hari terjadinya ketegangan di sepanjang perbatasan dengan Gaza.
Ketegangan dimulai setelah pasukan Israel menangkap Bassam al-Saadi, seorang komandan kelompok Jihad Islam, pada hari Senin dalam serangan di kota Jenin yang juga mengakibatkan pembunuhan seorang remaja.
Pada Jumat (5/8), pasukan Israel mengebom sebuah gedung apartemen di pusat kota Gaza, menewaskan Tayssir al-Jabari, seorang komandan utara kelompok Jihad Islam. Serangan di hari itu setidaknya menewaskan 9 orang lainnya, termasuk seorang anak perempuan berusia 5 tahun dan seorang perempuan berusia 23 tahun.
"Israel menggunakan warga Gaza sebagai pion pengorbanan dalam perjuangan mereka untuk mendapatkan kekuasaan dan bertindak tanpa hukuman karena mereka tahu tidak ada yang bisa atau akan meminta pertanggungjawaban mereka," ungkap Jaringan Kebijakan Palestina Tariq Kenney-Shawa Al Shabka, dilansir dari AJ Plus.
Pembangkit listrik satu-satunya di Gaza ditutup setelah kehabisan bahan bakar, lima hari setelah Israel menutup perlintasan dengan Gaza. Israel telah membatasi akses warga Gaza ke listrik, air minum bersih, dan perawatan medis selama lebih dari 15 tahun.
Merespon serangan udara Tel Aviv, kelompok Jihad Islam mengaku telah menembakkan lebih dari 100 roket ke sejumlah kota Israel pada Jumat (5/8). Dilaporkan tidak ada korban jiwa atas serangan tersebut.
Pada Minggu (7/8), Israel dan milisi Palestina sepakat untuk melakukan gencatan senjata. Dikabarkan gencatan senjata tersebut mulai berlaku pukul 23.30 waktu setempat. Dilansir dari Aljazeera, Kementerian Kesehatan Palestina dalam sebuah pernyataan mengatakan setidaknya 44 orang tewas dalam serangan Israel di Gaza, dengan lebih dari 350 warga sipil Palestina terluka dalam tiga hari terakhir.
Dilansir dari Reuters, diumumkan dalam pernyataan terpisah oleh kelompok Jihad Islam dan Israel, Mesir membantu keduanya dalam mencapai kesepakatan untuk melakukan gencatan senjata.
Serangan udara baru-baru ini menjadi yang terburuk sejak Mei 2021, di mana Israel menewaskan sedikitnya 250 orang di Gaza, termasuk 67 anak-anak. Warga Palestina yang menjadi korban dari serangan tersebut membongkar reruntuhan rumah untuk menyelamatkan barang-barang.
"Siapa yang mau perang? Tidak ada. Tapi kami juga tidak suka diam ketika perempuan, anak-anak dan pemimpin terbunuh," kata seorang sopir taksi Gaza yang hanya mengidentifikasi dirinya sebagai Abu Mohammad, dikutip dari Reuters.
Kesehatan mental anak-anak Palestina yang tinggal di Jalur Gaza telah memburuk secara drastis selama bertahun-tahun di bawah blokade kekerasan. Anak-anak merupakan 47 persen dari populasi Gaza, di mana dari lima anak mengatakan bahwa mereka hidup dengan depresi, kesedihan, dan ketakutan.
***
Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!