Kejam! Israel Pakai Senjata Berbahaya yang Bikin Ribuan Warga Gaza Lenyap 'Menguap'

Nadya Quamila | Beautynesia
Rabu, 18 Feb 2026 15:00 WIB
Impunitas Israel
Ilustrasi/Foto: Pexels.com/Mohammed Abubakr

Israel diduga menggunakan senjata termal dan termobarik untuk menyerang ribuan warga Gaza, Palestina. Akibatnya, ribuan warga Gaza diduga "lenyap menguap" akibat senjata tersebut sejak genosida yang berlangsung pada Oktober 2023.

Dugaan penggunaan senjata berbahaya ini berdasarkan laporan investigasi khusus oleh Al Jazeera, sebuah media yang berbasis di Qatar. Investigasi bertajuk "The Rest of the Story" tersebut menyebutkan bahwa sebanyak 2.842 warga Palestina telah "menguap" sejak serangan Israel pada Oktober 2023. Lenyap menguap di sini artinya tidak meninggalkan sisa selain cipratan darah atau potongan kecil tubuh.

Para ahli dan saksi mengaitkan fenomena ini dengan penggunaan sistematis senjata termal dan termobarik oleh Israel. Padahal, senjata ini dilarang secara internasional, yang sering disebut sebagai bom vakum atau aerosol, yang mampu menghasilkan suhu melebihi 3.500 derajat Celsius.

Angka 2.842 bukanlah perkiraan, melainkan hasil perhitungan forensik oleh Pertahanan Sipil Gaza.

Juru bicara Mahmoud Basal menjelaskan kepada Al Jazeera bahwa tim menggunakan "metode eliminasi" di lokasi serangan. "Kami memasuki rumah yang menjadi sasaran dan mencocokkan jumlah penghuni yang diketahui dengan jenazah yang ditemukan," kata Basal.

"Jika sebuah keluarga memberi tahu kami bahwa ada lima orang di dalam, dan kami hanya menemukan tiga jenazah yang utuh, kami menganggap dua jenazah yang tersisa sebagai 'menguap' hanya setelah pencarian menyeluruh tidak menghasilkan apa pun selain jejak biologis-percikan darah di dinding atau fragmen kecil seperti kulit kepala," tambahnya.

Kesaksian Warga Gaza

GAZA CITY, GAZA - OCTOBER 26: A woman holds his 3 year-old son, Ekrem Salih Abu Shemale who died after the Israeli airstrikes that continues in Gaza City, Gaza on October 26, 2023. (Photo by Abed Zagout/Anadolu via Getty Images)

Ilustrasi/Foto: Anadolu via Getty Images/Anadolu Agency

Investigasi yang dilakukan Al Jazeera juga mencakup kesaksian dari warga Palestina yang mencari kerabat mereka yang hilang dalam serangan Israel. Salah satunya adalah Yasmin Mahani.

Mahani berjalan melewati reruntuhan sekolah Al Tabin di Gaza pada 10 Agustus 2024 lalu. Ia mencari keberadaan suami dan putranya di tengah reruntuhan dan asap pasca serangan Israel. Ia berhasil menemukan suaminya yang saat itu berteriak. Namun, ia tidak menemukan jejak putranya, Saad.

“Saya masuk ke masjid dan mendapati diri saya menginjak daging dan darah,” kata Mahani kepada Al Jazeera Arabic. Ia mencari di rumah sakit dan kamar mayat selama berhari-hari tetapi tidak menemukan jejak putranya.

“Kami tidak menemukan apa pun dari Saad. Bahkan tidak ada jenazah untuk dimakamkan. Itu bagian tersulitnya," tuturnya.

Apa Itu Senjata Termal dan Termobarik?

Investigasi "The Rest of the Story" merinci bagaimana komposisi kimia spesifik dalam amunisi Israel mengubah tubuh manusia menjadi abu dalam hitungan detik.

Vasily Fatigarov, seorang ahli militer Rusia, menjelaskan bahwa senjata termobarik tidak hanya membunuh, tetapi senjata ini juga bisa melenyapkan materi. Tidak seperti bahan peledak konvensional, senjata ini menyebarkan awan bahan bakar yang menyala untuk menciptakan bola api yang sangat besar dan efek vakum.

“Untuk memperpanjang waktu pembakaran, bubuk aluminium, magnesium, dan titanium ditambahkan ke dalam campuran kimia,” kata Fatigarov. “Ini meningkatkan suhu ledakan hingga antara 2.500 dan 3.000 derajat Celcius.”

Menurut investigasi, panas yang sangat tinggi sering dihasilkan oleh tritonal, campuran TNT dan bubuk aluminium yang digunakan dalam bom buatan Amerika Serikat seperti MK-84.

Dr. Munir al-Bursh, direktur jenderal Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, menjelaskan dampak biologis dari panas ekstrem tersebut pada tubuh manusia, yang terdiri dari sekitar 80 persen air.

“Titik didih air adalah 100 derajat Celcius,” kata al-Bursh. “Ketika tubuh terpapar energi yang melebihi 3.000 derajat yang dikombinasikan dengan tekanan dan oksidasi yang besar, cairan tersebut langsung mendidih. Jaringan menguap dan berubah menjadi abu. Secara kimiawi, ini tidak dapat dihindari.”

Impunitas Israel

Ilustrasi pro-Palestina

Ilustrasi/Foto: Pexels.com/Mohammed Abubakr

Para ahli hukum mengatakan penggunaan senjata tanpa pandang bulu ini tidak hanya melibatkan Israel tetapi juga pemasok Baratnya.

“Ini adalah genosida global, bukan hanya genosida Israel,” kata pengacara Diana Buttu, seorang dosen di Universitas Georgetown di Qatar.

Berbicara di Forum Al Jazeera di Doha, Buttu berpendapat bahwa rantai pasokan adalah bukti keterlibatan. “Kita melihat aliran senjata yang terus menerus dari Amerika Serikat dan Eropa. Mereka tahu senjata-senjata ini tidak membedakan antara pejuang dan anak-anak, namun mereka terus mengirimkannya.”

Buttu menekankan bahwa berdasarkan hukum internasional, penggunaan senjata yang tidak dapat membedakan antara kombatan dan non-kombatan merupakan kejahatan perang. Sebagai informasi, kombatan adalah individu yang berhak mengambil bagian secara langsung dalam permusuhan atau konflik bersenjata, umumnya anggota angkatan bersenjata suatu negara (kecuali tenaga medis/rohaniwan).

“Dunia tahu Israel memiliki dan menggunakan senjata-senjata terlarang ini,” kata Buttu. “Pertanyaannya adalah mengapa mereka dibiarkan tetap berada di luar sistem pertanggungjawaban.”

Mahkamah Internasional sebenarnya sudah mengeluarkan tindakan terhadap Israel pada Januari 2024. Negara tersebut diperintahkan untuk tidak melakukan genosida, hingga surat perintah penangkapan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada November 2024. Namun, seerangan Israel semakin membabi buta di Palestina.

Tariq Shandab, seorang profesor hukum internasional, berpendapat bahwa sistem peradilan internasional telah “gagal dalam ujian Gaza”.

“Sejak perjanjian gencatan senjata [pada Oktober], lebih dari 600 warga Palestina telah tewas,” kata Shandab. Ia menyoroti bahwa perang terus berlanjut melalui pengepungan, kelaparan, dan serangan. “Blokade terhadap obat-obatan dan makanan itu sendiri merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.”

Shandab menunjuk pada “impunitas” yang diberikan kepada Israel oleh hak veto AS di Dewan Keamanan PBB. Namun, ia mencatat bahwa pengadilan yurisdiksi universal di negara-negara seperti Jerman dan Prancis dapat menawarkan jalur alternatif menuju keadilan, asalkan ada kemauan politik.

Bagi Rafiq Badran, warga Palestina yang kehilangan empat anaknya di kamp pengungsi Bureij selama perang, definisi teknis ini tidak berarti banyak. Ia hanya mampu menemukan sebagian kecil tubuh anak-anaknya untuk dimakamkan.

“Empat anak saya lenyap begitu saja,” kata Badran, menahan air mata. “Saya mencari mereka jutaan kali. Tidak ada sepotong pun yang tersisa. Ke mana mereka pergi?”

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE