STATIC BANNER
160x600
STATIC BANNER
160x600
BILLBOARD
970x250

Kenali Bentuk Pola Asuh 'Mengontrol Anak', yang Dipandang Sudah Ketinggalan Zaman

Meuthia Khairani | Beautynesia
Minggu, 23 Oct 2022 17:30 WIB
Kenali Bentuk Pola Asuh 'Mengontrol Anak', yang Dipandang Sudah Ketinggalan Zaman

Berkembangnya zaman dan teknologi informasi yang terjadi, membuka perubahan gaya pengasuhan antara generasi baby boomer (generasi orangtua kita, yaitu orang-orang yang lahir pada kisaran tahun 1946-1964) dan gen X (orang seusia kita yang sudah menjadi orangtua, kelahiran 1981 sampai 1996).

Pola asuh otoriter dipengaruhi oleh ‘seperti apa mereka dididik dan dibesarkan’, dan cenderung skeptis terhadap impian sang anak.

Sebaliknya, orangtua kekinian cenderung membebaskan anak-anak memilih jalan hidupnya sendiri. Pola asuh kekinian seperti ini dinilai lebih mendukung kesehatan mental dan kemajuan hidup sang anak.

Perbedaan yang terlihat mencolok antara gaya pengasuhan dua generasi ini tentunya membuat gaya pengasuhan zaman dulu bisa dibilang tidak cocok lagi bila diterapkan saat ini. Berikut adalah contohnya.

Bercita-cita Sesuai Ambisi Orangtua

Ilustrasi dokter/Foto: Freepik/mdjaff
Kenali bentuk pola asuh 'mengontrol anak', yang dipandang sudah ketinggalan zaman/Foto: Freepik/mdjaff

Profesi seperti dokter, insinyur, dan pengacara di sebagian besar negara-negara Asia dipandang sebagai profesi yang terhormat, bernilai tinggi, dan mendatangkan keuntungan yang besar. Mempunyai ilmu hukum, teknik, ekonomi dan bisnis pun demikian.

Namun, apabila orangtua yang berpemikiran seperti itu kemudian memaksa anaknya untuk menjadi apa yang mereka mau, justru berpotensi membatasi talenta anak di bidang yang disukainya. Anak pun menjadi bosan, frustrasi, suntuk, dan tidak berminat karena harus mempelajari apa yang tidak mereka minati. Pun, orangtua tidak boleh marah dan kecewa bila mereka tidak berhasil di bidang yang mereka paksakan terhadap anak. Demikianlah seperti yang dilansir dari Mrsaimun.

Hal ini berkaitan dengan pemaparan yang dikutip dari Olusegun Akinade, bahwa banyak orangtua yang gagal mencapai cita-citanya untuk mempunyai profesi tertentu dan memaksakan anaknya, untuk berprofesi sesuai impian orangtua yang dulunya gagal teraih. 

Padahal, faktanya kesuksesan atau kekayaan tidak terbatas pada bidang atau profesi tertentu. Kehidupan kita saat ini telah membuktikan bahwa seseorang dapat menjalani pekerjaan dan mencari ilmu apa pun yang sesuai dengan minatnya dan mereka juga bisa sukses dengan pilihannya.

Orangtua Serba Tahu dan Mengontrol

Ilustrasi dokter/Foto: Freepik/frimages
Ilustrasi anak dan orangtua/Foto: Freepik/frimages

Pemikiran bahwa ‘orangtua lebih tua usianya daripada sang anak, sehingga mereka lebih banyak tahu dan paham tentang kehidupan, sehingga merasa sudah cukup memahami kebutuhan dan keadaan psikologis dan pemikiran si kecil cenderung tidak sebaik orangtuanya' merupakan pemikiran yang bisa dibilang keliru. Demikianlah yang dilansir dari DawntoNight.

Generasi yang lebih tua berasumsi bahwa mereka lebih tahu segalanya seiring bertambahnya usia, sehingga merasa lebih berpengalaman dan bijaksana. Tetapi pandangan tersebut tidak cukup relevan karena dalam kenyataannya, usia tidak ada hubungannya dengan kedewasaan dan pengalaman hidup.

Tidak Mendukung Kebebasan Berpikir Anak

Ilustrasi dokter/Foto: Freepik/peoplecreations
Ilustrasi anak dan orangtua/Foto: Freepik/peoplecreations

Sebagian besar masyarakat, terutama orang-orang tua ternyata membenci keragaman. Orangtua ingin membesarkan anak-anak mereka sesuai dengan rencana mereka. Menurut intuisi orangtua, apa pun yang mereka lakukan adalah benar, dan kekritisan atau pertanyaan anak yang terdengar seperti ‘mencecar kebenaran’ pun dianggap sebagai perilaku menantang, tidak hormat, dan tidak patuh kepada orangtua.

Tidak Membiarkan Anak Membuat Keputusan

Ilustrasi dokter/Foto: Freepik/our-team
Ilustrasi anak dan orangtua/Foto: Freepik/our-team

Sikap tidak yakin pada pilihan anak atau tidak membiarkan anak membuat keputusan sendiri menunjukkan bahwa orangtua menolak untuk menerima perubahan, tidak menyadari bahwa sejak kecil pun, anak bisa membuat keputusan hidup mereka sendiri, sehingga pemikiran, pendapat, dan keinginannya selalu dipatahkan oleh orangtua.

Skeptis Terhadap Minat Anak

Ilustrasi dokter/Foto: Freepik/Freepik
Ilustrasi anak/Foto: Freepik/Freepik

Masih dari DawnToNight, selain belajar di sekolah, anak juga perlu menghibur diri dan melakukan apa yang disukainya, seperti mendengarkan atau bermain musik, membaca buku, menggambar, dan hal-hal lain.

Sebagian orangtua—yang gagal memahami bahwa apa yang mereka lakukan adalah hobi dan bisa menjadi membuka peluang kesuksesan anak di kemudian hari—menganggap bahwa kegiatan tersebut hanya membuang-buang waktu.

So, Beauties, terutama bagi kamu yang sudah menjadi orang tua. Ternyata penting dalam pemilihan proses pengasuhan anak yang tepat, agar tumbuh kembangnya dapat berlangsung baik. Pola asuh otoriter yang mungkin lebih sering diterapkan orang tua zaman dulu, tak jarang meninggalkan rasa trauma dan tidak adanya kedekatan antara orang tua dan anak.

---

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(fip/fip)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE