Kisah Dariah "Dar Mortir" dan Nyi Kusnah Ruswo, Srikandi Dapur Umum Kemerdekaan

Sri Purwantiningrum | Beautynesia
Senin, 17 Aug 2026 10:30 WIB
Ibu Ruswo: Srikandi Logistik Yogyakarta dan Pembela Hak Perempuan
Ibu Ruswo, tokoh penggerak dapur umum di Yogyakarta yang juga aktif memperjuangkan hak-hak perempuan/ Foto: budaya.jogjaprov.go.id

Ada pepatah mengatakan, logistik tidak akan memenangkan perang, tetapi tanpa logistik perang tidak akan dimenangkan. Di balik deru senjata menuju kemerdekaan, kemenangan Indonesia turut dimasak di atas tungku dapur umum oleh para pahlawan perempuan.

Dua sosok kuncinya adalah Dariah “Dar Mortir” di Jawa Timur dan Nyi Kusnah Ruswo di Yogyakarta. Keduanya memastikan perut para pejuang tetap terisi demi tegaknya Republik Indonesia.

Dirangkum dari laman detikJatim, CXO Media, Integrative Perspectives of Social and Science Journal (IPSSJ), Ensiklopedia P2K STEKOM, dan Dinas Kebudayaan DIY, berikut kisah kedua srikandi logistik kemerdekaan ini. Yuk, simak kisah selengkapnya!

Bu Dar Mortir: Sang Inisiator Logistik Garis Depan Surabaya

Bu Dar Mortir, sosok yang memprakarsai berdirinya 51 titik dapur umum untuk pejuang di Surabaya/ Foto: detik.com

Lahir di Purwokerto pada 1904 dari keluarga pamong praja, Dariah Soerodikoesoemo berani meninggalkan kehidupan nyamannya. Julukan "Dar Mortir" melekat padanya karena kebiasaan melempar susur (sirih) kepada pemuda yang meledeknya atau anak buahnya yang lamban bekerja.

Pada masa itu, Bu Dar Mortir bersama para ibu berinisiatif mengurus dapur umum untuk memberi makan para pejuang di Surabaya yang dikenal dengan istilah jaminan makan. Prinsipnya, orang dapat bekerja dengan tenang dan penuh semangat bila perut kenyang. Dapur tersebut beroperasi 24 jam dan mampu memproduksi hingga 15 ribu nasi bungkus setiap harinya yang selalu siap didistribusikan sebelum matahari terbit.

Ia melakukan pendistribusian logistik dengan menyamar sebagai pedagang. Saat menemukan masalah nasi bungkus yang sering basi akibat dibungkus dalam keadaan panas, ia memecahkan masalah itu dengan membangun 51 titik dapur umum di sepanjang garis pertahanan Gresik-Sidoarjo.

Pengorbanan luar biasanya terjadi ketika mundurnya Surabaya ke Jombang pada Maret 1947. Saat itu, banyak penduduk kota yang telah pergi dan pasukan mulai kelaparan, ia menggadaikan 100 gram gelang dan kalung emasnya di toko Tionghoa untuk membeli bahan makanan. Selain logistik pangan, ia juga menginisiasi pos-pos Palang Merah Indonesia (PMI) untuk merawat prajurit yang terluka.

Ibu Ruswo: Srikandi Logistik Yogyakarta dan Pembela Hak Perempuan

Ibu Ruswo, tokoh penggerak dapur umum di Yogyakarta yang juga aktif memperjuangkan hak-hak perempuan/ Foto: budaya.jogjaprov.go.id

Nyi Kusnah Ruswo Prawiroseno atau lebih dikenal dengan nama Ibu Ruswo adalah pahlawan dari Yogyakarta yang lahir pada tahun 1905. Ia mulai mengurus logistik sejak kegiatan Jambore Perkino 1941. Kemudian, BKR menugaskannya untuk mengatur makan dan minum tentara. Bahkan saat Agresi Militer Belanda II, rumahnya dijadikan sebagai Pos Komando SWK 101.

Ibu Ruswo mengkoordinasikan ibu-ibu di Yogyakarta dan sekitarnya untuk mencari bahan makanan dan memasaknya di dapur umum. Ia juga mengatur distribusi logistik tersebut kepada prajurit di luar daerah seperti Magelang, Ambarawa, dan Semarang. Di sela kesibukan dapur, bersama suaminya, ia juga menjadi kurir rahasia, menyelundupkan dokumen Jenderal Sudirman dan Letkol Suharto di dalam stang (handvat) dan sadel sepeda.

Meski hanya bersekolah hingga kelas 2 SD, pemikirannya sangat maju dalam menyuarakan isu perempuan. Pada masa penjajahan Belanda, ia aktif di Isteri Indonesia, menggalang dana perjuangan dengan membuka stan makanan saat perayaan Sekaten. Melalui P4A (Perkumpulan Pemberantasan Perdagangan Perempuan dan Anak), ia melindungi buruh perempuan dan menentang keras perdagangan perempuan yang ia sebut sebagai penyakit dunia yang merajalela melintasi ras maupun kelas sosial.

Pada masa pendudukan Jepang, pengabdiannya berlanjut di BPKKP (Badan Penolong Keluarga Korban Perjuangan). Dedikasinya yang tulus dalam merawat prajurit membuat ia sangat dihormati, hingga dianggap sebagai ibu sendiri oleh para prajurit dan dijuluki Ibu Prajurit.

Penghargaan dan Warisan Kemanusiaan

Dariah “Dar Mortir” di Jawa Timur dan Nyi Kusnah Ruswo di Yogyakarta ikut berjuang dalam mencapai kemerdekaan melalui dapur umum.

Suasana para tenaga Dapur Umum pimpinan Bu Dar Mortir di Krian (1945-1946) pada masa revolusi kemerdekaan/ Foto: musea.surabaya.go.id

Pasca perang, keduanya terus melanjutkan pengabdiannya. Bu Dar Mortir membentuk Corps Wanita Berjuang (CWB) untuk membantu para janda pejuang yang kesulitan ekonomi. Ia juga mendirikan Panti Hargo Dedali yang hingga kini eksis sebagai rumah singgah yang menyediakan perawatan dan dukungan sosial bagi para veteran serta lansia.

Di sisi lain, Ibu Ruswo bergabung dengan Komite Pembela Buruh Perempuan, terus menunjukkan kepeduliannya pada isu perempuan di saat belum banyak tokoh yang menyuarakan hal tersebut.

Atas pengabdian panjang mereka, jejak perjuangan keduanya tersimpan dalam bentuk diorama di Museum Sepuluh Nopember dan Museum Dharma Wiratama. Dedikasi Ibu Ruswo juga diakui lewat Piagam Penghargaan Panglima Divisi III (1947), Bintang Gerilya (1958), dan namanya diabadikan menjadi Jalan Ibu Ruswo di Yogyakarta (1981).

Beauties, mungkin nama mereka jarang tersorot, tapi kisah keduanya menunjukkan bahwa cinta Tanah Air tidak bisa ditakar dengan harta. Mereka menjadi pengingat manis bahwa keringat di dapur umum merupakan pilar kemenangan, dan garis belakang pertahanan sama pentingnya dengan garis depan demi mencapai kemerdekaan.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE