Lebih dari 1000 Siswi di Iran Alami Gejala Keracunan, Pemerintah: Ini Kejahatan yang Tak Termaafkan

Nadya Quamila | Beautynesia
Selasa, 07 Mar 2023 18:15 WIB
Lebih dari 1000 Siswi di Iran Alami Gejala Keracunan, Pemerintah: Ini Kejahatan yang Tak Termaafkan
Lebih dari 1000 Siswi di Iran Alami Gejala Keracunan, Pemerintah: Ini Kejahatan yang Tak Termaafkan/Foto: AFP via Getty Images/WAKIL KOHSAR

Lebih dari 1.000 siswi di 15 kota di Iran dilaporkan mengalami gejala yang sama dengan siswi lain yang menjadi korban serangan gas beracun. Belakangan ini, heboh kabar siswa perempuan di Iran dilaporkan sengaja diracun menggunakan senyawa kimia. Diduga, tujuan siswa perempuan diracun tersebut agar mereka tidak bisa bersekolah. 

Para siswi yang diwawancarai oleh media pemerintah mengatakan bahwa mereka tiba-tiba diliputi oleh bau "buah busuk atau telur busuk atau parfum yang kuat", dan hampir tidak bisa bernapas. Beberapa mengatakan mereka pingsan dan harus 'diseret' untuk mendapatkan udara segar oleh teman-temannya. Yang lain mengatakan mereka merasa pusing dan sakit. Banyak siswi akhirnya dibawa ke rumah sakit.

Pada konferensi pers baru-baru ini, Menteri Dalam Negeri Iran Ahmad Vahidi, yang diminta oleh Presiden Ebrahim Raisi untuk menyelidiki, menyatakan, "lebih dari 90 persen keracunan tidak disebabkan oleh faktor eksternal, dan sebagian besar berasal dari stres dan kekhawatiran yang disebabkan oleh berita," sebagaimana dilansir dari laman DW.

BAMYAN, AFGHANISTAN -- SEPTEMBER 5, 2022: Somira Mousawi 16, left, Sharifa Bahmani, 14, right, and Zoha, 11, center, attend class at a school in Bamyan, Afghanistan, Monday, Sept. 5, 2022. A year after the precipitous fall of the U.S.-backed republic and the TalibanÕs ascension to power, many women across Afghanistan are grappling with the Islamic militantsÕ hard-line vision for the country and its plan to rewind the clock not only on their education but their very presence in public life. Bamyan, a breathtakingly beautiful central Afghan province dominated by the Hazara, a mostly Shiite Muslim minority that has faced persecution from the Taliban, wholeheartedly enlisted in AmericaÕs project. Rather than monochromatic full-body coverings, women here wore colorful headÊscarves and even now still dare to show their faces on the street, despite the occasional admonishment from the TalibanÕs morality police. During the republicÕs time, they took full advantage of the opportunities afforded by the U.S.-led invasion to become doctors, lawyers, soldiers and journalists. (MARCUS YAM / LOS ANGELES TIMES)Ilustrasi/ Foto: Los Angeles Times via Getty Imag/Marcus Yam

Namun, Wakil Menteri Kesehatan Iran Yunes Panahi menyatakan bahwa tujuan serangan itu adalah untuk menutup sekolah perempuan. Parlemen telah menangani masalah ini, dan penyelidikan resmi kini telah dibuka.

"Para orang tua memprotes di depan sekolah," kata seorang ibu berusia 47 tahun dari ibu kota Iran, Teheran, kepada DW.

"Banyak yang mempertimbangkan untuk tidak menyekolahkan anak mereka lagi. Anak perempuan saya yang sudah dewasa adalah seorang pelajar. Dia mengatakan bahwa serangan gas beracun ini dimulai di asrama selama protes nasional. Ada laporan selama berbulan-bulan, tetapi tidak ada yang menganggapnya serius," tambahnya.

Reaksi Pemerintah Iran: Ini Kejahatan Tak Termaafkan

BAMYAN, AFGHANISTAN -- SEPTEMBER 5, 2022: Somira Mousawi 16, left, Sharifa Bahmani, 14, right, and Zoha, 11, center, attend class at a school in Bamyan, Afghanistan, Monday, Sept. 5, 2022. A year after the precipitous fall of the U.S.-backed republic and the TalibanÕs ascension to power, many women across Afghanistan are grappling with the Islamic militantsÕ hard-line vision for the country and its plan to rewind the clock not only on their education but their very presence in public life. Bamyan, a breathtakingly beautiful central Afghan province dominated by the Hazara, a mostly Shiite Muslim minority that has faced persecution from the Taliban, wholeheartedly enlisted in AmericaÕs project. Rather than monochromatic full-body coverings, women here wore colorful headÊscarves and even now still dare to show their faces on the street, despite the occasional admonishment from the TalibanÕs morality police. During the republicÕs time, they took full advantage of the opportunities afforded by the U.S.-led invasion to become doctors, lawyers, soldiers and journalists. (MARCUS YAM / LOS ANGELES TIMES)

Lebih dari 1000 Siswi di Iran Alami Gejala Keracunan, Pemerintah: Ini Kejahatan yang Tak Termaafkan/Foto: Los Angeles Times via Getty Imag/Marcus Yam

Pemimpin tertinggi Iran mengatakan bahwa jika serangkaian dugaan peracunan di sekolah perempuan terbukti disengaja, pelakunya harus dihukum mati karena melakukan "kejahatan yang tak termaafkan."

Ini adalah pertama kalinya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, yang memiliki keputusan akhir tentang semua urusan negara, berbicara secara terbuka tentang dugaan peracunan, yang dimulai akhir tahun lalu dan telah membuat ratusan anak sakit, dilansir dari AP News.

Pejabat Iran hanya mengakuinya dalam beberapa pekan terakhir dan tidak memberikan perincian tentang siapa yang mungkin berada di balik serangan itu atau bahan kimia apa yang telah digunakan. Tidak seperti negara tetangga Afghanistan, Iran tidak memiliki sejarah ekstremis agama yang menargetkan pendidikan perempuan.

“Jika peracunan siswa terbukti, mereka yang berada di balik kejahatan ini harus dihukum mati dan tidak akan ada amnesti bagi mereka,” kata Khamenei, menurut kantor berita IRNA yang dikelola pemerintah.

A woman holds a banner during solidarity demonstration in memory of Mahsa Amini, at the Main Square in Krakow, Poland on October 1st, 2022. Protests have erupted across Iran and worldwide after Mahsa Amini, a 22-year old Kurdish Iranian girl was brutally killed by the morality police of Islamic republic for her alleged failure to fully observe Islamic dress regulations. (Photo by Beata Zawrzel/NurPhoto via Getty Images)Protes kematian Mahsa Amini/ Foto: NurPhoto via Getty Images/NurPhoto

Siswi yang keracunan dilaporkan mengeluh sakit kepala, jantung berdebar-debar, merasa lesu atau tidak bisa bergerak. Laporan menunjukkan setidaknya 400 anak sekolah telah jatuh sakit sejak November. Menteri Dalam Negeri Iran Ahmad Vahidi mengatakan dalam pernyataannya bahwa dua siswi masih dirawat di rumah sakit karena kondisi kronis yang mendasarinya. Belum ada korban jiwa yang dilaporkan.

Tindakan yang disengaja untuk 'mengeluarkan' perempuan dari sekolah terjadi beberapa bulan setelah protes keras terhadap kepemimpinan Islam Iran meletus atas kematian Mahsa Amini. Mahsa Amini adalah perempuan berusia 22 tahun yang ditangkap-tewas karena diduga melanggar aturan hijab setempat pada September 2022 lalu.

Dilansir dari The Guardian, upaya otoritas Iran untuk 'meredam' protes nasional telah menyebabkan lebih dari 500 orang terbunuh oleh pasukan keamanan, 70 di antaranya adalah anak-anak. Sejauh ini, 4 pengunjuk rasa telah dieksekusi mati, dan diperkirakan angka tersebut akan bertambah. Sementara menurut laporan terbaru oleh Aktivis Hak Asasi Manusia di Iran, 19.603 orang telah ditangkap sehubungan dengan protes tersebut dan masih ditahan.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk gabung ke komunitas pembaca Beautynesia B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE