Ratusan Siswa Perempuan di Iran Diracun dengan Senyawa Kimia, Diduga agar Tak Bisa Sekolah

Nadya Quamila | Beautynesia
Rabu, 01 Mar 2023 17:00 WIB
Ratusan Siswa Perempuan di Iran Diracun dengan Senyawa Kimia, Diduga agar Tak Bisa Sekolah
Ratusan Siswa Perempuan di Iran Diracun dengan Senyawa Kimia, Diduga agar Tak Bisa Sekolah/Foto: Foto: Los Angeles Times via Getty Imag/Marcus Yam

Siswa perempuan di Iran dilaporkan sengaja diracun menggunakan senyawa kimia. Diduga, tujuan siswa perempuan diracun tersebut agar mereka tidak bisa bersekolah. Wakil Menteri Kesehatan Iran Younes Panahi mengatakan bahwa "orang-orang tertentu meminta penutupan semua sekolah, terutama sekolah anak perempuan", tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Ratusan kasus keracunan yang menyerang pernapasan telah dilaporkan di kalangan siswi sejak November tahun lalu, terutama di kota Qom. Hal ini telah menyebabkan puluhan siswa perempuan dirawat di rumah sakit, sebagaimana dilansir dari Independent UK.

Setidaknya 14 sekolah telah menjadi sasaran di empat kota, termasuk ibu kota Teheran dan kota Ardebil di barat laut. Insiden itu pertama kali dilaporkan di Qom, yang merupakan rumah bagi ulama dan seminari teologi Iran, terletak 100 mil dari selatan ibukota.

Awal bulan Februari ini, orangtua dari siswa perempuan yang diracun berkumpul di luar kantor gubernur Qom untuk "menuntut penjelasan" dari pejabat pendidikan.

Afghan female students take entrance exams at Kabul University in Kabul on October 13, 2022. (Photo by Wakil KOHSAR / AFP) (Photo by WAKIL KOHSAR/AFP via Getty Images)Ilustrasi/ Foto: AFP via Getty Images/WAKIL KOHSAR

"Kami tidak ingin sekolah yang tidak aman" dan "sekolah harus diamankan", teriak ratusan pengunjuk rasa.

Para korban dilaporkan mengalami gejala mual, sakit kepala, batuk, kesulitan bernapas, dan jantung berdebar-debar.

Majid Monemi, wakil gubernur provinsi Lorestan, melaporkan bahwa 50 siswa perempuan di sebuah sekolah menengah atas di Borujerd diracuni. Jaksa Agung Mohammad Jafar Montazeri memerintahkan penyelidikan yudisial atas peracunan yang dilaporkan pekan lalu.

Sejauh ini, belum ada yang ditangkap karena kasus ini.

Diduga Berkaitan dengan Protes Kematian Mahsa Amini

Afghan female students stand in a queue after they arrive for entrance exams at Kabul University in Kabul on October 13, 2022. (Photo by Wakil KOHSAR / AFP) (Photo by WAKIL KOHSAR/AFP via Getty Images)

Ratusan Siswa Perempuan di Iran Diracun dengan Senyawa Kimia, Diduga agar Tak Bisa Sekolah/Foto: AFP via Getty Images/WAKIL KOHSAR

Pihak berwenang Iran telah mengonfirmasi bahwa mereka sedang menyelidiki laporan terkait siswa perempuan telah diracuni sebagai "balas dendam" atas peran yang dimainkan perempuan dalam protes baru-baru ini terhadap kewajiban jilbab.

"Setelah peracunan beberapa siswa di [kota] Qom ... ditemukan bahwa beberapa orang ingin semua sekolah, terutama sekolah perempuan, ditutup," ungkap Panahi, dilansir dari The Guardian.

“Telah terungkap bahwa senyawa kimia yang digunakan untuk meracuni siswa bukanlah bahan kimia perang… siswa yang diracuni tidak memerlukan perawatan agresif dan sebagian besar bahan kimia yang digunakan dapat diobati," lanjutnya.

Dr Homayoun Sameyah Najafabadi, anggota komisi kesehatan parlemen, juga membenarkan bahwa peracunan siswi "di kota-kota seperti Qom dan Borujerd telah dilakukan dengan sengaja".

Berbicara kepada The Guardian dengan syarat anonim, seorang dokter yang berspesialisasi dalam perawatan korban keracunan mengatakan, “Dengan data yang tersedia, penyebab paling mungkin dari keracunan ini adalah agen organofosfat yang lemah. Bahkan jika beberapa murid yang keracunan menunjukkan tanda-tanda keringat berlebih, air liur berlebih, muntah, hipermotilitas usus, dan diare, maka serangan dilakukan dengan menggunakan agen ini.”

Dokter mengatakan, mereka yakin motifnya adalah untuk "menakut-nakuti para pengunjuk rasa dengan menggunakan kelompok ekstremis [Islamis radikal] di dalam dan di luar negeri".

Protesters display placards with the lettering reading 'Women, Life, Freedom' in a rally in support of the demonstrations in Iran, in Berlin, Germany on October 22, 2022. - Nationwide protests have erupted in Iran after the death of Mahsa Amini, an Iranian woman of Kurdish origin, who was arrested by the country's notorious Protes kematian Mahsa Amini/ Foto: AFP via Getty Images/JOHN MACDOUGALL

“Mereka ingin membalas dendam pada siswi, yang menjadi pelopor protes baru-baru ini,” kata dokter tersebut. “Belum pernah saya merawat seseorang yang diracuni dengan agen organofosfat. Satu-satunya kasus yang saya tangani adalah pekerja yang terpapar agen ini dalam pestisida pertanian.”

Tindakan yang disengaja untuk 'mengeluarkan' perempuan dari sekolah terjadi beberapa bulan setelah protes keras terhadap kepemimpinan Islam Iran meletus atas kematian Mahsa Amini. Mahsa Amini adalah perempuan berusia 22 tahun yang ditangkap-tewas karena diduga melanggar aturan hijab setempat pada September 2022 lalu.

Dilansir dari The Guardian, upaya otoritas Iran untuk 'meredam' protes nasional telah menyebabkan lebih dari 500 orang terbunuh oleh pasukan keamanan, 70 di antaranya adalah anak-anak. Sejauh ini, 4 pengunjuk rasa telah dieksekusi mati, dan diperkirakan angka tersebut akan bertambah. Sementara menurut laporan terbaru oleh Aktivis Hak Asasi Manusia di Iran, 19.603 orang telah ditangkap sehubungan dengan protes tersebut dan masih ditahan.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE