Tanpa Sidang Pengadilan, Jurnalis Perempuan yang Wawancara Ayah Mahsa Amini Dipenjara 2 Tahun-Dilarang Meninggalkan Iran
Beauties, masih ingatkah kamu dengan nama Mahsa Amini? Ia adalah perempuan Iran berusia 22 tahun yang ditangkap-tewas karena diduga melanggar aturan hijab setempat pada September 2022 lalu. Pasca kematiannya, gelombang protes dan unjuk rasa pecah di Iran, bahkan hingga menimbulkan korban jiwa.
Iran terus mengeluarkan hukuman keras terhadap masyarakat yang menjadi bagian dari protes ditangkap, ditahan di penjara, hingga dieksekusi mati. Baru-baru ini, seorang jurnalis bernama Nazila Maroufian yang pernah mewawancarai ayah Mahsa Amini, dijatuhi hukuman dua tahun penjara dan dikenakan denda sekitar Rp5,2 juta.
Ia juga dilarang meninggalkan Iran selama lima tahun atas tuduhan "propaganda dan penerbitan kebohongan melalui wawancara dengan ayah Mahsa Amini", sebagaimana dilansir dari Iran International.
Nazila Maroufian adalah seorang jurnalis yang berbasis di Teheran dari kampung halaman Amini di Saqqez di provinsi Kurdistan. Sebelumnya, ia ditahan pada bulan Oktober 2022 lalu.
Nazila Maroufian/ Foto: Twitter/KurdistanHRN_En |
Nazila ditangkap di salah satu rumah kerabatnya di Teheran. Ia kemudian dipindahkan ke penjara Evin di ibukota. Penjara Evin sendiri sering dituduh sebagai tempat pemerkosaan dan penyiksaan terhadap para tahanan.
"Sesuai keputusan Pengadilan Revolusi cabang ke-26 yang dipimpin oleh Hakim Afshari, saya dijatuhi hukuman dua tahun penjara, denda... dan larangan meninggalkan negara selama lima tahun," kata Maroufian di Twitter, dilansir dari Alarabiya News.
"Hukuman dua tahun penjara ditangguhkan menjadi lima tahun," katanya.
"Putusan ini diberikan tanpa sidang pengadilan dan pembelaan dari saya," katanya.
Protes kematian Mahsa Amini/ Foto: Getty Images/Omer Messinger |
Saat itu, Maroufian yang bekerja untuk situs berita Ruydad 24, telah menerbitkan wawancara dengan ayah Mahsa Amini, Amjad Amini, di situs berita Mostaghel Online pada 19 Oktober. Judul utama berita itu berbunyi, "Ayah Mahsa Amini: 'Mereka Bohong!'". Meski telah dihapus, namun berita tersebut telah menyebar, di mana ayah Mahsa Amini menyangkal putrinya meninggal karena penyakit bawaan.
Keluarga Amini berpendapat bahwa putrinya mendapat pukulan fatal dalam tahanan polisi. Pihak berwenang Iran membantah hal ini, tetapi kemarahan atas kematiannya memicu gelombang protes.
Amjad Amini mengatakan dia telah diberitahu oleh seorang pejabat kesehatan bahwa pihak tersebut akan menulis dalam laporan akhir "apa pun yang saya suka, itu bukan urusan Anda."
Ribuan Orang Ditangkap Hingga Iran Eksekusi Mati Pendemo
Tanpa Sidang Pengadilan, Jurnalis Perempuan yang Wawancara Ayah Mahsa Amini Dipenjara 2 Tahun-Dilarang Meninggalkan Iran/Foto: NurPhoto via Getty Images/NurPhoto
Pihak berwenang mengatakan ratusan orang, termasuk anggota pasukan keamanan, telah tewas dan ribuan ditangkap selama protes kematian Mahsa Amini. Diperkirakan sekitar 80 wartawan telah ditangkap sejak kerusuhan pecah.
Bahkan, beberapa waktu lalu, Iran mengeksekusi mati seorang demonstran yang terlibat aksi protes kematian Mahsa Amini.Â
Demonstran pria yang bernama Mohsen Shekari tersebut dituduh memblokir jalan di Teheran dan menyerang seorang personel keamanan dengan pisau, dilansir New York Times dari kantor berita Mizan. Shekari adalah salah satu dari 11 pengunjuk rasa yang sejauh ini telah dijatuhi hukuman mati. Ini menjadi pelaksanaan hukuman mati pertama di Teheran terkait unjuk rasa yang terus berlanjut selama nyaris tiga bulan terakhir.
Protes kematian Mahsa Amini/ Foto: AFP via Getty Images/BRYAN R. SMITH |
Shekari ditangkap pada 25 September lalu, dan dijatuhi hukuman pada 20 November oleh Pengadilan Revolusi Iran, pengadilan khusus untuk kasus politik dan tahanan politik. Ia dihukum mati atas 'moharebeh', atau mengobarkan perang melawan Tuhan di bawah hukum syariat Islam yang berlaku di Iran.
Tak berapa lama kemudian, Iran dilaporkan kembali melakukan eksekusi mati seorang tahanan yang dihukum karena terlibat dalam protes kematian Mahsa Amini. Tahanan yang diketahui bernama Majidreza Rahnavard (23), dieksekusi mati dengan digantung di depan umum di Kota Mashhad pada Senin (12/12) pagi.
Rahnavard dieksekusi mati kurang dari sebulan setelah ia menjadi tahanan. Ia dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan di kota Mashhad yang menjadi pusat protes. Ia dihukum atas tuduhan 'moharebeh'. Ia juga diduga membunuh dua anggota pasukan paramiliter Basij dan melukai empat lainnya, sebagaimana dilaporkan The Guardian.
Rahnavard tidak diizinkan memilih pengacaranya sendiri, menggugat bukti yang memberatkannya, atau meminta agar persidangan diadakan di depan umum.
Jaringan aktivis Iran 1500tasvir mengatakan ibu Rahnavard diizinkan mengunjunginya pada malam sebelum dia dihukum gantung. Namun kala itu, baik Rahvanard dan ibunya belum mengetahui bahwa pria berusia 23 tahun tersebut akan dihukum mati. Usai Rahnavard dieksekusi, keluarganya kemudian diberi nama pemakaman dan nomor plot. Ketika mereka muncul, agen keamanan sedang mengubur tubuh Rahnavard.
***
Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!
Nazila Maroufian/ Foto: Twitter/KurdistanHRN_En
Protes kematian Mahsa Amini/ Foto: Getty Images/Omer Messinger
Protes kematian Mahsa Amini/ Foto: AFP via Getty Images/BRYAN R. SMITH