Protes Kematian Mahsa Amini: Pengakuan Pilu Pengunjuk Rasa Iran, Disiksa hingga Alami Kekerasan Seksual

Nadya Quamila | Beautynesia
Senin, 20 Feb 2023 17:00 WIB
Protes Kematian Mahsa Amini: Pengakuan Pilu Pengunjuk Rasa Iran, Disiksa hingga Alami Kekerasan Seksual
Protes Kematian Mahsa Amini: Pengakuan Pilu Pengunjuk Rasa Iran, Dipukuli hingga Alami Kekerasan Seksual/Foto: dia images via Getty Images/dia images

Pasca kematian Mahsa Amini, perempuan berusia 22 tahun yang ditangkap-tewas karena diduga melanggar aturan hijab setempat pada September 2022 lalu, unjuk rasa pecah di Iran. Protes yang kian bergejolak itu bahkan menelan korban jiwa.

Dilansir dari The Guardian, upaya otoritas Iran untuk 'meredam' protes nasional telah menyebabkan lebih dari 500 orang terbunuh oleh pasukan keamanan, 70 di antaranya adalah anak-anak. Sejauh ini, 4 pengunjuk rasa telah dieksekusi mati, dan diperkirakan angka tersebut akan bertambah. Sementara menurut laporan terbaru oleh Aktivis Hak Asasi Manusia di Iran, 19.603 orang telah ditangkap sehubungan dengan protes tersebut dan masih ditahan.

Pengakuan Pengunjuk Rasa yang Alami Penyiksaan: Dipukuli hingga Alami Pelecehan Seksual

Pada 15 Oktober 2022 lalu, ketika protes di jalanan Iran pasca kematian Mahsa Amini mencapai puncaknya, Dorsa (bukan nama sebenarnya) yang berusia 25 tahun di sebuah pos pemeriksaan saat  mengemudi melalui sebuah kota di provinsi Gilan utara negara itu.

Situasi di pos pemeriksaan itu kacau; 25 hingga 30 petugas keamanan bersenjata lengkap berteriak dan meneriaki orang-orang untuk keluar dari kendaraan mereka.

Dorsa saat itu sedang bersama saudara perempuannya dan dua temannya. Mobil mereka digeledah dan ketika dua kaleng cat semprot ditemukan di tas saudara perempuannya, terjadi kekacauan.

Protesters display placards with the lettering reading 'Women, Life, Freedom' in a rally in support of the demonstrations in Iran, in Berlin, Germany on October 22, 2022. - Nationwide protests have erupted in Iran after the death of Mahsa Amini, an Iranian woman of Kurdish origin, who was arrested by the country's notorious Protes kematian Mahsa Amini/ Foto: AFP via Getty Images/JOHN MACDOUGALL

Dorsa bersama saudaranya mengaku bahwa mata mereka ditutup dan tangan mereka diikat ke belakang sebelum mereka didorong ke belakang mobil polisi. Perempuan itu mengatakan mereka dibawa ke sebuah gedung di mana mereka dipaksa untuk menandatangani pengakuan yang mengatakan bahwa mereka telah melakukan protes, sebelum dipisahkan. Sendirian di ruang interogasi, Dorsa mengatakan dia bisa mendengar jeritan dua temannya yang disiksa di dekatnya.

Saat tiba gilirannya untuk diinterogasi, Dorsa mengatakan dia dipukul berulang kali sementara aparat keamanan berteriak bahwa dia adalah pelacur dan pengkhianat. Dia mengklaim telah dipaksa makan balon plastik kecil yang telah diisi pengunjuk rasa dengan cat merah untuk digunakan melawan polisi di jalanan. Akhirnya, dia dibawa ke ruangan lain.

"[Mereka] menutupi wajah saya dengan syal dan saya tidak bisa melihat apa-apa. Saya ditelanjangi dan diberitahu bahwa seorang dokter perempuan akan masuk ke ruangan dan memeriksa saya. Beberapa menit kemudian, seseorang datang ke ruangan dan ketika mereka menyentuh saya, saya tahu itu adalah seorang pria," katanya kepada The Guardian.

ISTANBUL, TURKEY - SEPTEMBER 29: Women hold signs and chant slogans during a protest over the death of Iranian Mahsa Amini outside the Iranian Consulate on September 29, 2022 in Istanbul, Turkey. Mahsa Amini fell into a coma and died after being arrested in Tehran by the morality police, for allegedly violating the countries hijab rules. Amini's death has sparked weeks of violent protests across Iran.  (Photo by Chris McGrath/Getty Images)Protes kematian Mahsa Amini/ Foto: Getty Images/Chris McGrath

"Dia terus menyentuh sekujur tubuh saya dan kemudian mengambil sebuah benda dan memasukkannya ke dalam alat kelamin saya. Dia terus memasukkan benda itu, sementara tangannya yang lain terus menyentuh tubuh saya. Saya membeku dan masih kesakitan akibat pukulan yang saya terima selama interogasi. Saya berbaring di sana karena saya tidak tahu berapa lama. Dia kemudian pergi," lanjutnya.

Dorsa diantar berkeliling selama berjam-jam sebelum dilepaskan di lokasi terpencil di luar kota pada pukul 3 pagi. Ketika dia sampai di rumah, dia muntah dan tidak bisa tidur sepanjang malam akibat penyiksaan yang ia alami.

Beberapa hari berikutnya, Dorsa pun pergi menemui dokter untuk memeriksakan kondisinya. Menurut dokter, Dorsa telah diperkosa dengan suatu benda hingga menyebabkan infeksi. Dorsa mengaku butuh waktu berbulan-bulan untuk sembuh. Ia pun mengalami gangguan mental akibat peristiwa itu.

"Saya trauma dan sudah menemui psikiater. Saya sedang dalam pengobatan dan saya panik setiap kali harus pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan. Saya benar-benar hancur," tuturnya.

Protes Kematian Mahsa Amini: Pengakuan Pilu Pengunjuk Rasa Iran, Dipukuli hingga Alami Kekerasan Seksual

BERLIN, GERMANY - OCTOBER 15: Demonstrators, some hold banners with the image of Mahsa Amini and Shah-era flags, march in solidarity with protesters in Iran on October 15, 2022 in Berlin, Germany. Nationwide protests in Iran following the death of Mahsa Amini in mid-September are ongoing, with over 200 people killed in clashes with police so far. (Photo by Omer Messinger/Getty Images)

Protes Kematian Mahsa Amini: Pengakuan Pilu Pengunjuk Rasa Iran, Dipukuli hingga Alami Kekerasan Seksual/Foto: Getty Images/Omer Messinger

Awal Februari lalu, Amnesty International merilis laporan terperinci yang mengonfirmasi tuduhan pemerkosaan, kekerasan, dan "penyiksaan ekstrem" terhadap pengunjuk rasa dalam penahanan di Iran.

Amnesty International mengatakan bahwa tiga pengunjuk rasa muda, yaitu Arshia Takdastan (18), Mehdi Mohammadifard (19), dan Javad Rouhi (31) menjadi sasaran “penyiksaan mengerikan termasuk cambuk, disetrum, digantung terbalik, dan diancam mati di bawah todongan senjata”.

Organisasi hak asasi manusia itu juga mengatakan bahwa salah satu pria diperkosa dan yang lainnya dilecehkan secara seksual oleh penjaga saat berada dalam tahanan.

The Guardian telah mewawancara 11 pengunjuk rasa, baik perempuan dan pria, yang mengklaim bahwa mereka juga menjadi sasaran pemerkosaan, kekerasan seksual, pemukulan dan penyiksaan saat ditahan oleh pasukan keamanan. Beberapa mengatakan bahwa mereka diserang di dalam mobil polisi atau di jalanan dan beberapa selama dalam tahanan di kantor polisi atau penjara.

Seorang perawat dari sebuah rumah sakit di Gilan mengatakan dia telah bertemu dengan beberapa pengunjuk rasa perempuan dalam beberapa bulan terakhir yang menunjukkan tanda-tanda kekerasan seksual dan pemerkosaan.

“Saya telah merawat setidaknya lima pengunjuk rasa perempuan di bawah 30 tahun yang datang dengan infeksi vagina dan memberi tahu saya bahwa mereka diserang dalam tahanan polisi. Beberapa dari mereka mengeluarkan darah dari alat kelamin mereka,” katanya.

ISTANBUL, TURKIYE- OCTOBER 22: Protests in Iran, which started with the death of 22-year-old Mahsa Amini after being detained on the grounds that she did not comply with the headscarf rules, continue. The protest at the Iranian consulate in Istanbul continues on October 22, 2022 in İstanbul, Türkiye. (Photo by Omer Kuscu/ dia images via Getty Images )Protes kematian Mahsa Amini/ Foto: dia images via Getty Images/dia images

Sara (bukan nama sebenarnya), seorang perempuan berusia 40-an dari Sanandaj, di wilayah Kurdistan, mengatakan pasukan keamanan telah menggunakan kekerasan seksual dan pemukulan untuk memadamkan protes yang meletus di Iran sejak September 2022 lalu.

Sara mengatakan dia ditangkap selama gelombang protes pertama dan dilecehkan secara seksual oleh petugas keamanan.

“Ada delapan petugas dan mereka menyeret saya ke mobil. Sementara itu, mereka terus menendang saya dengan kasar. Mereka menyentuh payudara saya, pantat saya, meletakkan tangan mereka di antara paha saya dan menekan bagian pribadi saya,” katanya.

Tak hanya Sara, ada tiga perempuan lainnya yang juga telah ditangkap. Para petugas keamanan itu menggunakan jilbab yang dikenakan para perempuan tersebut untuk membungkam mulut mereka.

"Ketika mereka mendekati saya untuk menutupi mulut saya, saya bertanya mengapa mereka sekarang boleh membiarkan rambut saya tidak tertutup? Mereka membalas dengan tendangan ke punggung dan kaki saya. Salah satu dari perempuan ini dipukuli dengan sangat parah sehingga dia terbaring lumpuh. Dia tidak bergerak sedikit pun. Dia kemudian dibawa ke rumah sakit," ungkap Sara.

Ketika polisi akhirnya membawanya ke penjara, dia mengatakan ada 70 perempuan lain di sana, semuanya menunjukkan tanda-tanda telah dipukuli dan diserang. Sara diinterogasi berjam-jam setiap hari selama dua minggu sebelum dibebaskan.

ISTANBUL, TURKEY- DECEMBER 10: Protestors take part in an anti Iran demonstration on December 10, 2022 in Istanbul, Turkey. After the suspicious death of Masha Amini, Anti Iran protests began to be held in many parts of the world. (Photo by Hakan Akgun/ dia images via Getty Images)Protes kematian Mahsa Amini/ Foto: dia images via Getty Images/dia images

“Saya belum memberi tahu suami saya tentang pelecehan seksual. Dia mencintai saya dan kejadian ini akan menghancurkannya. Saya tidak tahu apakah saya harus curhat pada keluarga saya. Saya kira ini adalah harga yang harus dibayar untuk kebebasan," ungkapnya.

Human Rights Watch (HRW), yang juga mendokumentasikan pelanggaran serius dan kekerasan seksual terhadap pengunjuk rasa di tahanan, mengatakan komunitas internasional gagal menghentikan penyiksaan.

“Otoritas Iran secara dramatis meningkatkan pelanggaran terhadap pengunjuk rasa dalam tahanan,” kata seorang juru bicara HRW. “Pemerintah yang berusaha meminta pertanggungjawaban Iran atas pelanggaran hak asasi harus memberi perhatian khusus pada pelanggaran serius terhadap tahanan.”

Mengutuk laporan penyiksaan dan pemerkosaan, anggota parlemen Eropa juga meminta otoritas barat untuk menunjuk Pengawal Revolusi Iran (IRGC) sebagai kelompok teror.

Kamyar (bukan nama sebenarnya), seorang pria berusia 30 tahun asal Masyhad, mengklaim bahwa dia dilecehkan secara seksual oleh polisi di sebuah van pada 9 November 2022 lalu saat dia bergabung dalam protes pasca 40 hari kematian Mahsa Amini. Kala itu, puluhan demonstran ditembak mati oleh aparat keamanan.

“Kami bahkan tidak meneriakkan slogan-slogan ketika petugas pria mendekati saya dan membawa saya ke mobil polisi. Saya masih merasa sulit untuk membicarakannya. Saya bahkan tidak ingat wajah mereka. Saya tidak mau," tutur Kamyar.

Signs of  picture of Mahsa Amini  are seen  in front of Dom Cathedral in Cologne, Germany on September 21, 2022 to protest against woman's death in the custody which sparked outrage against government in Iran (Photo by Ying Tang/NurPhoto via Getty Images)Protes kematian Mahsa Amini/ Foto: NurPhoto via Getty Images/NurPhoto

Ketika Iran terus menjatuhkan hukuman penjara yang lama, protes telah berkurang di seluruh negeri. Namun, protes terus berlanjut di wilayah Kurdi dan provinsi Sistan-Baluchistan meskipun tindakan keras oleh pasukan keamanan meningkat.

Kamyar mengatakan, pasukan keamanan percaya bahwa dengan melakukan pelecehan seksual kepada para aktivis dan pendemo, akan menghentikan aksi protes mereka.

“Entah bagaimana mereka mengira penghinaan disematkan pada kita. Padahal itu ada pada mereka. Salah satu dari mereka mengatakan kepada saya, 'Sudah 60 hari dan kami belum bisa tidur karena Anda para pengunjuk rasa.' Dia menampar saya setelah setiap penghinaan,” katanya.

“Tapi saya tidak mengasihani diri saya sendiri, saya mengasihani orang-orang yang menjijikkan dan menjalani kehidupan kecil ini. Seharusnya mereka yang merasa terhina, bukan kami yang menjadi korban.”

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE