sign up SIGN UP

Lelah dengan Budaya Hustle Culture, Anak Muda di China Terima Jalani Kehidupan 'Biasa-biasa Saja'! Ada Apa?

Nadya Quamila | Beautynesia
Kamis, 22 Sep 2022 22:30 WIB
Lelah dengan Budaya Hustle Culture, Anak Muda di China Terima Jalani Kehidupan 'Biasa-biasa Saja'! Ada Apa?
Anak muda di China memutuskan jalani hidup 'biasa-biasa saja, ada apa?/Foto: Freepik/benzoix
Jakarta -

Tak bisa dipungkiri, kehidupan di era modern saat ini berjalan begitu cepat dan dinamis. Banyak orang yang memiliki rutinitas begitu padat disertai dengan tekanan yang besar. Hal ini akhirnya membuat sebagian orang menerapkan gaya hidup hustle culture, yaitu terus-terusan bekerja keras dan hanya meluangkan sedikit waktu untuk beristirahat.

Namun, berbeda halnya dengan apa yang terjadi baru-baru ini pada anak muda di China. Dilaporkan CNBC, anak muda di China merasa kecewa dan frustasi dengan pekerjaan dan kehidupan sehari-hari yang dijalani saat ini. Mereka tidak lagi ingin berkutat dengan gaya hidup hustle culture karena berbagai tantangan, seperti meningkatnya angka pengangguran, PHK, dan ketidakpastian ekonomi.

Selain itu, persaingan di dunia kerja juga semakin ketat, membuat sebagian dari mereka memutuskan untuk menyerah. Konsep "tang ping" yang berarti "berbaring datar" dalam bahasa China menjadi istilah yang dipopulerkan di China tahun lalu. Bahkan, menjadi salah satu dari 10 kata kunci internet teratas di China pada tahun 2021, menurut Pusat Pemantauan dan Penelitian Sumber Daya Bahasa Nasional.

Asian girls are sitting stressed studying online with a tutor on a laptop while sitting in the bedroom at home night. Concept online learning at homeIlustrasi lelah bekerja/ Foto: Getty Images/iStockphoto/sorrapong

"Popularitas kata ini mencerminkan stres dan kekecewaan yang dirasakan kaum muda," kata Jia Miao, asisten profesor sosiologi dari New York University Shanghai, dilansir dari CNBC.

"Tang ping adalah penolakan terhadap kerja berlebihan, di mana Anda membiarkan segala sesuatunya terjadi dan melakukan seminimal mungkin," lanjut Miao.

Di bulan Maret lalu, ada istilah lain yang muncul di China, yaitu "ban lain" yang berarti "biarkan membusuk". Postingan yang terkait dengan topik tersebut telah mengumpulkan lebih dari 91 juta tampilan di media sosial China, Weibo.

"Bai lan adalah ketika anak-anak muda menolak untuk melakukan upaya lebih lanjut [dalam hidup] karena mereka tidak dapat melihat harapan dalam melakukannya," tambah Miao.

Ilustrasi stres saat kehilangan pekerjaan/Foto: Freepik.com/Wiroj SidhisoradejaIlustrasi stres/Foto: Freepik.com/Wiroj Sidhisoradeja

Istilah seperti "tang ping" yang merujuk pada penolakan terhadap gaya hidup hustle culture, disinyalir memiliki beberapa kesamaan dengan tren yang juga sempat viral di media sosial, yaitu quiet quitting, istilah untuk menggambarkan seorang pekerja yang hanya bekerja seperlunya saja sesuai job desk dan menetapkan batasan untuk tidak terlalu banyak mengerjakan pekerjaan tambahan. 

Namun menurut Miao, "bai lain" bisa menjadi istilah yang memiliki dampak lebih negatif. Sebab, ini mengacu pada kondisi kemunduran seseorang yang melepaskan segala harapan dalam hidupnya. Lantas, apa penyebab anak-anak muda di China mengalami kekecewaan dan hilang harapan tersebut?

Pengangguran dan Ketidakpastian

Ilustrasi sedihIlustrasi sedih/ Foto: Getty Images/iStockphoto/Pheelings Media

Menurut Miao, istilah "tang ping" dan "bai lan" mencerminkan ketatnya persaingan yang dihadapi oleh anak muda China saat ini.

"Meskipun persaingan diharapkan terjadi di masyarakat, ini di atas ketidakpastian yang disebabkan oleh pandemi COVID-19 dan ... tahun ini jauh lebih sulit bagi kaum muda untuk mencari pekerjaan," tuturnya.

Menurut Biro Statistik Nasional China, tingkat pengangguran bagi mereka yang berusia antara 16 dan 24 tahun hampir 20 persen pada bulan Juli, jauh di atas tingkat pengangguran perkotaan nasional sebesar 5,6 persen. Tingkat pengangguran untuk kelompok usia itu adalah 16,2 persen satu tahun yang lalu.

Harapan yang Tampak Mustahil Dicapai

Tidak hanya di Indonesia, di China pun rupanya juga terdapat anggapan bahwa hidup sukses berarti bisa membeli rumah atau tempat tinggal, membangun keluarga, dan memiliki karier yang cemerlang.

Namun, kerasnya persaingan dunia kerja serta ketidakpastian ekonomi saat ini membuat anak-anak muda berpikir bahwa sekeras apapun mereka bekerja, definisi sukses yang sudah terpatri di masyarakat tersebut sangat sulit digapai.

Misalnya, membeli rumah di kota-kota besar seperti Shanghai dan Beijing, menurut Miao, menjadi "hampir mustahil" bagi rata-rata anak muda China. Menurut Zhuge, sebuah lembaga pemantauan dan penelitian pasar real estat di China, pada tahun 2021, harga rumah rata-rata 12 kali lebih tinggi dari pendapatan rata-rata, data dari Zhuge menunjukkan.

Kurangnya mobilitas sosial yang dirasakan, ditambah dengan meningkatnya biaya hidup, mendorong anak-anak muda untuk "meninggalkan" harapan tersebut.

"Begitu banyak orang memilih untuk tidak memikirkannya. Mereka menolak untuk berpartisipasi dalam kompetisi, mereka menolak untuk bersaing demi uang, apartemen, atau pernikahan," tambahnya.

Lelah dengan Gaya Hidup Hustle Culture

Seseorang yang mengalami stres biasanya karena pekerjaan, hubungan, keuangan dan lingkungan fisik.Ilustrasi lelah bekerja/Foto: Freepik.com

Sekilas mungkin bekerja keras tanpa mengenal waktu terlihat seperti hal yang positif, namun justru sebaliknya. Terus-terusan bekerja tanpa beristirahat hanya akan menjadi bumerang bagi diri sendiri di kemudian hari.

Menurut seorang perempuan di China, Guo (30), harapan masyarakat bahwa seseorang harus bisa memiliki rumah, membanggakan pekerjaan dan keluarga yang baik, paling terasa ketika dia membandingkan dirinya dengan teman-temannya.

"Ada harapan untuk memiliki rumah, karier yang baik, dan keluarga - yang tidak saya miliki," paparnya.

Menolak gaya hidup hustle culture telah memberinya waktu untuk memikirkan apa yang dia hargai dalam hidup. 

"Ketika saya berusia 22 tahun, saya khawatir jika saya tidak akan mencapai apa-apa pada usia 30 tahun. Tetapi sekarang pada usia 30 tahun, saya menerima menjadi biasa saja. Saya pikir tidak penting untuk menjadi kaya, atau mampu membeli rumah lagi," ungkapnya.

"Ketika saya bekerja, hidup saya akan berputar di sekitar pekerjaan dan saya merasa seperti saya kehilangan waktu untuk diri saya sendiri," tutupnya.

Wah, bagaimana menurutmu, Beauties? Apakah kamu termasuk penganut gaya hidup hustle culture? Atau memutuskan berdamai dengan segala harapan dan ekspektasi masyarakat dan menerima untuk menjalankan hidup biasa-biasa saja?

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)

Our Sister Site

mommyasia.id