Mengenal Kirab Malam 1 Suro, Momen Sakral untuk Refleksi Diri dalam Tradisi Jawa

Narita Fuji Triani | Beautynesia
Selasa, 16 Jun 2026 07:00 WIB
Sejarah dan Makna Kirab Malam 1 Suro
Sejarah dan makna Kirab Malam 1 Suro. Disusun oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo/Foto: instagram.com/mangkunegaran

Setiap Tahun Baru Jawa, masyarakat di berbagai daerah, terutama di Surakarta dan Yogyakarta menggelar tradisi Kirab Malam 1 Suro. Tradisi ini menjadi ritual yang sakral dan penuh makna spiritual, refleksi diri, dan pelestarian warisan leluhur.

Kirab malam 1 suro dilaksanakan bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender hijriyah atau Tahun Baru Islam. Bukan tentang kemewahan dengan pesta yang meriah seperti perayaan tahun baru pada umumnya, kirab malam 1 suro justru diisi dengan suasana yang khidmat, hening, dan penuh perenungan.

Sejarah dan Makna Kirab Malam 1 Suro

Sejarah dan makna Kirab Malam 1 Suro. Disusun oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo/Foto: instagram.com/mangkunegaran

Kirab Malam 1 Suro berakar dari Kalender Jawa yang disusun oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo Raja Mataram Islam periode 1613-1645. Melansir dari laman detikJatim, Sultan Agung memadukan kalender Saka yang digunakan masyarakat Jawa dengan kalender Hijriah, sehingga lahirlah kalender Jawa yang digunakan sejak tahun 1633 Masehi. Sejak saat itulah, tanggal 1 Suro ditetapkan sebagai awal tahun Jawa hingga saat ini.

Pada masa Sultan Agung, pergantian tahun malam 1 Suro memiliki banyak kegiatan keagamaan, seperti pengajian, pertemuan rutin pemerintahan, hingga ziarah ke makam Sunan Ampel dan tokoh-tokoh penting lainnya menjadi salah satu tradisi yang berkembang dan diwariskan turun-temurun.

Seiring berjalannya waktu, pergantian tahun Jawa bukan hanya menjadi penanda kalender, tetapi berkembang menjadi tradisi budaya yang mengandung nilai spiritual dan sosial. Malam 1 Suro memiliki makna dan filosofi sebagai waktu untuk perenungan diri. Beberapa aktivitas yang dilakukan biasanya mulai dari berdoa, berpuasa, hingga menjalankan tirakat.

Tradisi Kirab Malam 1 Suro di Indonesia

Tradisi Kirab Malam 1 Suro di Indonesia. Tradisi di Surakarta dan Yogyakarta/Foto: instagram.com/karatosurakartahadiningrat

Salah satu tradisi yang paling terkenal yaitu Kirab Malam 1 Suro di Keraton Surakarta, Pura Mangkunegaran, dan Yogyakarta Kirab Malam 1 Suro yang bertepatan dengan Tahun Baru Islam ini menjadi agenda budaya yang menarik banyak menarik perhatian publik.

Kirab Pusaka Keraton Kasunanan Surakarta

Kirab Pusaka Keraton Kasunanan Surakarta memiliki prosesi yang unik, yaitu Cucuk Lampah Kebo Bule di mana barisan depan kirab dipimpin oleh kawanan kerbau albino atau kebo bule keturunan Kiai Slamet. Kebo bule disakralkan sebagai pembuka jalan. Selain itu, para abdi dalem dengan mengenakan pakaian adat Jawa lengkap akan melakukan arak-arakan pusaka milik keraton dengan mengelilingi kawasan luar benteng pada tengah malam. Kebo bule menjadi simbol kesuburan duniawi, sementara benda pusaka melambangkan kekuatan spiritual dari Ilahi. 

Kirab Pusaka Pura Mangkunegaran

Kirab pusaka Pura Mangkunegaran menjadi salah satu prosesi malam 1 Suro yang menarik perhatian dan wisatawan untuk melihat lebih dekat tradisi istana yang masih terjaga hingga kini. Pura Mangkunegaran memiliki ciri khas utama yaitu kewajiban bagi seluruh peserta untuk berjalan mengitari rute di sekitar Pura Mangkunegaran tanpa sepatah kata pun.

Meski tidak identik dengan tradisi Kebo Bule Kyai Slamet yang menjadi ciri khas Kirab 1 Suro di Keraton Surakarta, namun kirab ini memiliki suasana yang khidmat dan penuh penghormatan. Ritual ini memiliki makna untuk menahan diri berbicara yang menjadi simbol pengendalian hawa nafsu dan refleksi batin yang mendalam.

Lampah Budaya Mubeng Beteng Yogyakarta

Lampah Budaya Mubeng Beteng menjadi tradisi Kirab Malam 1 Suro di Keraton Yogyakarta. Melansir dari laman Museum Sonobudoyo Yogyakarta, tradisi ini dibuka dengan ritual Jamasan Pusaka. Beberapa benda sakral dicuci dan dimandikan dengan khidmat. Ritual ini menjadi penghormatan kepada leluhur, sekaligus pengingat akan tanggung jawab dan menjaga warisan.

Tradisi yang diinisiasi para abdi dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan diikuti oleh ribuan masyarakat umum mengikuti Mubeng Beteng di malam hari. Dalam ritual Mubeng Beteng, para peserta berjalan mengelilingi benteng keraton tanpa alas kaki, tanpa suara, dalam suasana Tapa Bisu. Tradisi ini memiliki makna sebagai perjalanan lahir batin, merefleksi diri, kerendahan hati, dan kedekatan manusia dengan alam semesta.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(dmh/dmh)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE