STATIC BANNER
160x600
STATIC BANNER
160x600
BILLBOARD
970x250

Mengenal Tren Quiet Quitting, Bekerja Secukupnya yang Disebut Bermanfaat untuk Kesehatan Mental Pekerja

Putri Rizki Aulika | Beautynesia
Senin, 12 Sep 2022 14:30 WIB
Mengenal Tren Quiet Quitting, Bekerja Secukupnya yang Disebut Bermanfaat untuk Kesehatan Mental Pekerja

Tren quiet quitting” kini menjadi perbincangan warganet, khususnya di kalangan pekerja anak muda. Istilah baru ini populer karena mengacu pada prinsip bekerja secukupnya, tidak berlebihan atau melampaui batas.

Dilansir dari Healthline, quiet quitting bisa mencegah overwork alias bekerja berlebihan akibat persaingan tidak sehat di tempat kerja sehingga pekerja tidak merasa kelelahan secara fisik maupun mental. Sebagai contoh penerapannya, seseorang yang memegang prinsip quiet quitting akan menyelesaikan pekerjaan tepat waktu setiap hari, selalu istirahat makan siang, atau menolak proyek yang tidak berkaitan dengan jobdesk.

Lantas, apa, sih, sebenarnya quiet quitting? Benarkah bisa bermanfaat untuk kesehatan mental pekerja? Dirangkum dari beberapa sumber terkait, yuk simak penjelasannya berikut ini.

Apa itu Quiet Quitting?

Ilustrasi bekerja/Foto: Freepik.com/cookie_studio
Ilustrasi bekerja/Foto: Freepik.com/cookie_studio

Dikutip dari Very Well Mind, Paula Allen sebagai Pemimpin Global dan Wakil Presiden Senior Riset dan Kesejahteraan Total di LifeWorks, mengungkapkan hal-hal yang menandakan quiet quitting:

  • Mengatakan tidak untuk tugas di luar deskripsi pekerjaan.
  • Tidak membalas email atau pesan di luar waktu bekerja.
  • Pulang kerja tepat waktu.
  • Tidak ada lagi pencapaian yang berlebihan.
  • Bekerja secara profesional.
  • Berkurangnya minat untuk bekerja secara berlebihan (overwork)

Dalam beberapa hal, quiet quitting mirip dengan gagasan bekerja seminimal mungkin. Contohnya tidak bekerja lembur, tidak memeriksa email selama akhir pekan, atau tidak melakukan tugas tambahan.

Mengapa Orang-orang Quiet Quitting?

Ilustrasi bekerja/Foto: Freepik.com/tirachardz
Ilustrasi bekerja/Foto: Freepik.com/tirachardz

Ada banyak alasan mengapa orang-orang mengikuti tren quiet quitting. Melansir dari Very Well Mind, salah satu alasan utamanya adalah untuk mendapatkan kembali keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi.

Sebelumnya, banyak pekerja yang memilih bekerja secara berlebihan demi mengejar karier agar kinerja kerja semakin diakui. Namun, tidak dapat dipungkiri hal tersebut dapat menyebabkan fisik dan mental menjadi lebih lelah.

Quiet quitting bisa dijadikan strategi untuk melindungi diri kita dari kerja berlebihan dan kelelahan. Jika terjebak dengan banyak pekerjaan, kamu akan kesulitan untuk meluangkan waktu bersantai, merawat diri, bertemu keluarga dan teman, berolahraga serta kegiatan lainnya.

Dikutip dari Healthline, dengan menerapkan quiet quitting dapat memberdayakan pekerja untuk memiliki waktu berkualitas, menciptakan ruang untuk refleksi serta meningkatkan produktivitas.

Menjaga Kesehatan Mental

Ilustrasi bekerja/Foto: Pexels.com/Tirachard Kumtanom
Ilustrasi bekerja/Foto: Pexels.com/Tirachard Kumtanom

Dilansir dari Shape, tren quiet quitting semakin diikuti oleh karyawan perusahaan sejak pandemi Covid-19 yang mengharuskan work from homeQuiet quitting mungkin bisa menjadi solusi untuk mencegah beban kerja yang tidak adil atau tidak sesuai jobdesk. Namun, tren ini hanya bersifat sementara untuk masalah yang jauh lebih besar. 

Dikutip dari Very Well Mind, Paula Allen menegaskan bahwa tidak ada yang salah dengan bekerja keras, terutama jika seseorang bekerja untuk mencapai karier atau promosi jabatan impian. Sebab manusia perlu memiliki rasa pencapaian untuk mendukung kesejahteraan mental.

Akan tetapi, yang terpenting adalah bagaimana usaha kita untuk menemukan keseimbangan kerja dan kehidupan yang baik.

Dengan menerapkan batasan sendiri di tempat kerja, maka hati akan terasa tenang dan damai hati. Prinsip quiet quitting atau kerja sewajarnya ini menciptakan kebiasaan bekerja secara optimal sesuai tanggung jawab dan jam, dan tidak terlalu pusing tentang jenjang karir.

Perlu diingat, setiap orang memiliki cara tersendiri dalam melakukan quiet quitting, karena tugas dan pekerjaan yang pasti berbeda-beda.

Bagaimana menurutmu, Beauties?

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE