Mengenal Tren "Soft Launch Relationship" yang Populer di Kalangan Gen Z

Adira P | Beautynesia
Sabtu, 07 Feb 2026 13:15 WIB
Cara Melakukan Soft Launch yang Sehat
Cara Melakukan Soft Launch yang Sehat/Foto: Unsplash/Priscilla Du Preez

Beauties, pernahkah kamu melihat teman kamu memposting foto tangan yang saling menggenggam, dua piring di meja, atau pemandangan dari tempat yang sama tanpa menunjukkan siapa yang menemani mereka? Ini bukan sekadar gaya fotografi yang artistik, tetapi fenomena yang disebut "soft launch relationship".

Berbeda dengan generasi sebelumnya yang langsung mengumumkan status hubungan mereka dengan foto pasangan serta caption romantis, Gen Z memilih pendekatan yang lebih halus. Tren ini bukan sekadar soal gaya, tetapi mencerminkan pergeseran budaya yang lebih dalam tentang bagaimana Gen Z mengelola intimasi, serta komitmen di ruang publik digital.

Yuk, simak 5 hal penting tentang tren soft launch relationship ini!

Apa Itu Soft Launch Relationship?

Soft launch relationship berarti menunjukkan hubungan baru dengan cara yang halus, bahkan hampir tersembunyi. Alih-alih memposting foto lengkap pasangan kamu dengan nama serta caption romantis, kamu hanya memberikan petunjuk kecil seperti tangan yang saling menggenggam, dua cangkir kopi di meja, sepatu pasangan di foto, atau lokasi yang sama tanpa menandai siapa yang menemani.

Istilah ini sebenarnya dipinjam dari dunia marketing di mana perusahaan meluncurkan produk secara perlahan sebelum peluncuran resmi yang besar. Dalam konteks hubungan, ini seperti memberitahu dunia "Aku sedang bersama seseorang, tapi aku belum siap menunjukkan siapa mereka."

Mengapa Gen Z Memilih Soft Launch Relationship?

Ilustrasi pasangan yang mendengarkan dengan empati/Foto: Pexels/Juan Pablo Serrano Arenas

Mengapa Gen Z Memilih Soft Launch Relationship?/Foto: Pexels/Juan Pablo Serrano Arenas

Alasan utama di balik tren soft launch adalah perlindungan emosional diri. Gen Z tumbuh dengan menyaksikan pasangan generasi Milenial mendokumentasikan hubungan mereka dari kencan pertama hingga lamaran, hanya untuk kemudian melakukan perpisahan publik yang menyakitkan di mana setiap foto harus dihapus dari feed media sosial.

Menjaga hubungan dalam fase soft launch, pasangan mendapatkan zona aman yang berharga. Jika hubungan memudar setelah beberapa minggu, mereka tidak perlu repot-repot menghapus berbagai banyak foto atau mengubah caption karena dari awal, semuanya terasa samar dan tersembunyi.

"Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada patah hati yang sudah cukup sulit, jadi ketika semua orang tahu segalanya terlalu dini, kamu merasa berutang penjelasan kepada orang lain, bahkan orang asing, tentang apa yang terjadi," kata seorang Gen Z bernama Jillian St. Onge, dikutip dari CNN.

Mengurangi Tekanan serta Perbandingan Sosial

Ilustrasi Bertanya Pada Pasangan

Mengurangi Tekanan serta Perbandingan Sosial/Foto: pexels/samson katt

Salah satu manfaat terbesar dari soft launch adalah berkurangnya tekanan untuk mempertahankan citra hubungan yang sempurna, Beauties.

"Ada lebih sedikit keinginan untuk 'mengikuti' postingan orang lain. Ini dapat melindungi dari iri ekspektasi hubungan yang terdistorsi dan membandingkan hubungan dengan presentasi publik orang lain," kata Dr. Pamela Rutledge, direktur Media Psychology Research Center serta profesor di Fielding Graduate University, dikutip dari CNN.

Pergeseran Gen Z ke arah privasi sebagian berasal dari ketidaknyamanan yang berkembang tentang bagaimana media sosial membentuk serta mendistorsi hubungan romantis, menurut Rae Weiss, pelatih kencan Gen Z yang sedang menempuh gelar master dalam psikologi di Columbia University.

Pasangan yang tampak seperti “couple goals” mungkin memamerkan liburan mewah mereka bersama, malam kencan yang sempurna, pakaian yang serasi, serta gestur romantis yang besar. Tetapi Gen Z sudah cukup lama berselancar di dunia maya untuk tahu itu semua hanya tipuan yang dikurasi dengan hati-hati.

"Tidak lagi menjadi rahasia bahwa di media sosial, kamu hanya memposting momen terbaik dalam hidup kamu, sudut terbaik, foto terbaik. Orang menjadi lebih sadar bahwa ini dapat menciptakan tingkat disonansi serta ketidakamanan ketika hubungan kamu tidak terlihat seperti itu sepanjang waktu," kata Weiss, dikutip dari CNN.

Cara Melakukan Soft Launch yang Sehat

Ilustrasi pasangan (Foto: Unsplash/Priscilla Du Preez)

Cara Melakukan Soft Launch yang Sehat/Foto: Unsplash/Priscilla Du Preez

Meskipun soft launch memiliki banyak manfaat, para ahli menekankan pentingnya komunikasi terbuka antara pasangan tentang batasan digital sejak awal. Konteks serta niat di balik soft launch lebih penting daripada perilaku itu sendiri.

Beauties, jika kamu ingin melakukan soft launch dengan cara yang sehat, berikut beberapa saran dari para ahli. Pertama, komunikasikan dengan pasangan kamu tentang ekspektasi media sosial sejak awal.

Kedua, pastikan keputusan untuk soft launch adalah kesepakatan bersama, bukan satu pihak yang merasa tidak nyaman. Ketiga, tetapkan batasan yang jelas tentang apa yang boleh serta tidak boleh dibagikan. Keempat, percayai bahwa hubungan kamu tidak kurang nyata hanya karena tidak sepenuhnya didokumentasikan.

Tren soft launch relationship di Gen Z bukan sekadar tentang gaya posting di media sosial, tetapi mencerminkan pergeseran yang lebih dalam tentang bagaimana generasi ini mengelola intimasi, privasi, serta kesejahteraan mental di era digital. Apa pendapat kamu tentang tren ini, Beauties?

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiwa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE