Menurut Psikolog, Ini 5 Hal Tentang Diri yang Tidak Boleh Dibagikan Sembarangan

Florence Febriani Susanto | Beautynesia
Senin, 12 Jan 2026 20:00 WIB
Orang yang Tidak Kamu Sukai
Orang yang Tidak Kamu Sukai/Foto: Freepik

Hal tentang diri sering kali terasa ingin dibagikan, apalagi ketika kamu merasa dekat atau ingin dianggap terbuka. Di era media sosial, kebiasaan bercerita semakin tidak terbendung karena semua terasa aman dan instan. Namun, pernahkah kamu berpikir bahwa terlalu banyak berbagi justru bisa membawa masalah?

Secara psikologis, keterbukaan memang penting untuk membangun koneksi, tetapi tetap membutuhkan batas yang sehat. Budaya oversharing tidak hanya terjadi di media sosial, tetapi juga dalam percakapan sehari-hari. Tanpa sadar, kamu bisa membuka celah bagi penilaian, konflik, bahkan manipulasi.

Psikolog hubungan Dr. Susan Trotter, Ph.D., menyebut bahwa kebiasaan membagikan informasi pribadi memiliki risiko tersembunyi. Informasi tersebut bisa digunakan orang lain dengan cara yang tidak selalu baik. Oleh karena itu, memahami mana yang layak dibagikan menjadi bentuk perlindungan diri.

Sebelum masuk ke pembahasan utama, penting untuk diingat bahwa tidak semua hal harus dirahasiakan dari semua orang. Pasangan, terapis, atau tenaga medis tetap membutuhkan informasi tertentu. Anggap daftar ini sebagai panduan agar kamu lebih bijak dalam berbagi, Beauties!

Detail Keuangan yang Terlalu Pribadi

Detail Keuangan yang Terlalu Pribadi/Foto: Freepik

Meskipun kamu sudah terbiasa menjaga kata sandi rekening, masih banyak detail finansial lain yang sering dibagikan tanpa sadar. Misalnya penghasilan, jumlah tabungan, atau kondisi utang yang sebenarnya bersifat sensitif.

Dr. Susan Trotter menjelaskan bahwa informasi keuangan sering memicu perbandingan sosial. Orang lain bisa merasa tidak nyaman, iri, atau bahkan merendahkan diri sendiri. Dalam jangka panjang, hubungan pun dapat berubah tanpa disadari.

Senada dengan itu, psikolog Dr. Joel Frank, Psy.D., menegaskan bahwa membahas keuangan secara terbuka bisa membuka peluang eksploitasi. Selain itu, kamu juga berisiko menerima penilaian yang tidak kamu butuhkan. Karena itu, sebaiknya berbagi hanya pada pihak terpercaya.

Masalah Intim dalam Hubungan

Masalah Intim dalam Hubungan/Foto: Freepik

Ketika emosi sedang memuncak, bercerita memang terasa melegakan. Namun, membagikan konflik hubungan pada banyak orang justru bisa memperpanjang masalah. Apalagi jika ceritanya tidak utuh.

Dr. Joel Frank menyarankan agar isu intim hanya dibicarakan pada orang yang tepat. Gosip sering muncul bukan karena niat buruk, tetapi karena cerita berpindah tangan. Hal ini bisa merusak kepercayaan pasangan.

Dr. Susan Trotter juga mengingatkan bahwa teman bisa mengingat cerita lama. Walaupun hubunganmu sudah membaik, persepsi mereka belum tentu berubah. Untuk ruang aman, terapis tetap menjadi pilihan terbaik karena terikat kode etik profesional.

Orang yang Tidak Kamu Sukai

Orang yang Tidak Kamu Sukai/Foto: Freepik

Setiap orang pasti pernah merasa kesal pada orang lain. Namun, mengungkapkan rasa benci secara terbuka sering membawa dampak tak terduga. Apalagi jika emosi itu bersifat sementara.

Psikolog Dr. Michele Leno, Ph.D., menyebut bahwa emosi bisa berubah seiring waktu. Ketika kamu membagikannya, konflik bisa tercipta tanpa manfaat nyata. Selain itu, kamu bisa dicap sebagai pribadi yang gemar bergosip.

Jika kamu butuh pelampiasan, menulis jurnal bisa menjadi alternatif sehat. Cara ini membantu memproses emosi tanpa melibatkan pihak lain. Dengan begitu, kamu tetap menjaga relasi sosial.

Trauma Masa Lalu

Trauma Masa Lalu/Foto: Freepik

Trauma bukan sesuatu yang harus disembunyikan karena rasa malu. Namun, cara dan waktu berbagi sangat menentukan dampaknya. Baik bagi kamu maupun orang yang mendengarkan.

Dr. Joel Frank menyarankan untuk menghindari pembahasan trauma di situasi kasual. Cerita tersebut bisa memicu ketidaknyamanan atau trigger emosional. Tidak semua ruang aman untuk cerita berat.

Di lingkungan kerja, batasan menjadi lebih penting. Menurut Dr. Jolie Silva, Ph.D., rekan kerja hanya perlu tahu informasi yang relevan dengan tugas profesional. Dengan begitu, profesionalitas tetap terjaga.

Kekhawatiran dan Kegagalan Pribadi

Kekhawatiran dan Kegagalan Pribadi/Foto: Freepik

Kekhawatiran dan kegagalan adalah bagian dari proses hidup. Namun, membagikannya tanpa pertimbangan bisa membuatmu rentan. Terutama jika lawan bicara tidak memiliki empati.

Dr. Susan Trotter menjelaskan bahwa informasi ini dapat digunakan untuk menghakimi. Dalam beberapa kasus, bisa terjadi manipulasi atau gaslighting. Hal tersebut tentu berdampak buruk bagi kesehatan mental.

Sebaiknya, simpan cerita ini untuk orang yang benar-benar aman. Pasangan, sahabat dekat, atau terapis adalah pilihan tepat. Dengan begitu, kamu tetap bisa jujur tanpa merasa terancam.

Pada akhirnya, keterbukaan tetap dibutuhkan dalam hidup. Namun, keterbukaan tanpa batas justru bisa melemahkan posisi diri. Psikologi mengajarkan bahwa privasi adalah bentuk perlindungan, bukan ketertutupan.

Dengan memahami hal-hal sensitif dan menyaring cerita yang dibagikan, kamu sedang menjaga diri sendiri. Ingat, Beauties, tidak semua orang berhak tahu segalanya tentangmu.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.