sign up SIGN UP

Mirip Kasus Johnny Depp-Amber Heard, Suami di Tiongkok Minta Perlindungan dari KDRT yang Dilakukan Istri

Risqi Nurtyas Sri Wikanti | Beautynesia
Rabu, 01 Jun 2022 19:30 WIB
Mirip Kasus Johnny Depp-Amber Heard, Suami di Tiongkok Minta Perlindungan dari KDRT yang Dilakukan Istri
caption

Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang melibatkan seorang istri sebagai pelaku dan sang suami sebagai korban masih kerap terjadi. Setelah sebelumnya ada kasus Johnny Depp dan Amber Heard yang jadi sorotan dunia, kini ada kasus serupa yang terjadi di Tiongkok. Seorang suami meminta perlindungan dari KDRT yang dilakukan sang istri.

Sebuah pengadilan di Tiongkok telah memberikan perintah perlindungan kepada Li, pria berusia 49 tahun yang berasal dari kota Beihai, daerah otonomi Guangxi Zhuang, Tiongkok Selatan. Pria ini mengajukan permintaan habeas corpus, yang merupakan perintah perlindungan keselamatan pribadi yang bertujuan untuk menghentikan dugaan kekerasan fisik oleh istrinya.

Dikutip dari South China Morning Post, Li khawatir akan keselamatannya setelah sudah bertahun-tahun menerima penyiksaan dari istrinya yang memiliki marga Bai. Kasus ini kemudian viral di komunitas internet Tiongkok. Berbagai perdebatan terjadi antara warganet yang membela sang suami dengan yang menyalahkannya.

KDRT Sudah Terjadi Sejak Awal Pernikahan

 

Ilustrasi pertengkaran antara pasangan/ Foto: pexels.com/Rodnae Productions
Ilustrasi pertengkaran antara pasangan/ Foto: pexels.com/Rodnae Productions

Li mengatakan kalau hubungannya dengan Bai sudah menjurus ke toxic relationship sejak awal pernikahan pada tahun 1997. Lebih dari 20 tahun, Bai telah melakukan penyerangan bertubi-tubi terhadapnya. Selain itu, Li juga menuduh Bai melakukan penguntitan dan pelecehan. Suatu hari, dia bahkan pernah digigit oleh sang istri.

Sang Istri Dilaporkan Setelah Mengumpulkan Cukup Bukti

Ilustrasi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dilakukan istri kepada suami/ Foto: pexels.com/Karolina Grabowska
Ilustrasi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dilakukan istri kepada suami/ Foto: pexels.com/Karolina Grabowska

Sudah tidak tahan dengan tindakan istrinya, Li memutuskan untuk meminta perlindungan dan melaporkan kasus tersebut ke polisi. Dia mengumpulkan banyak bukti penganiayaan dan catatan medis dari rumah sakit. Setelah itu, polisi menyarankan Li meminta perlindungan hukum dari pengadilan.

Di hari yang sama Li mengajukan permohonan perlindungan, dan pengadilan langsung memproses kasus tersebut. Sang istri, Bai, menolak untuk menerima putusan resmi dan mengajukan banding. Untungnya, pengadilan menolak permohonan bandingnya karena tidak ada cukup bukti.

Pendapat Beragam Warganet Tiongkok

Ilustrasi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dilakukan istri kepada suami/ Foto: pexels.com/Karolina Grabowska
Ilustrasi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dilakukan istri kepada suami/ Foto: pexels.com/Karolina Grabowska

Kasus KDRT Li dan Bai ini kemudian viral di platform media sosial Tiongkok, Weibo. Berbagai diskusi muncul untuk membahas KDRT yang dilakukan istri kepada suami. Cukup mengejutkan ketika pendapat mereka beragam. Ada yang membela si suami, namun ada juga yang membela si istri.

Seorang warganet menuliskan, "Kenapa banyak orang yang mencoba untuk membuat perdebatan antara pria dan perempuan? Ketika KDRT terjadi, apakah pentingnya gender?"

Warganet lainnya yang mengaku guru juga menambahkan kalau dia sangat mendukung adanya komisi yang bertujuan untuk melindungi hak-hak hukum pria menikah di Tiongkok.

Namun, ada beberapa warganet yang berbeda pendapat dengan dua komentar di atas. Mereka malah menyalahkan korban dengan alasan pria memiliki stereotip buruk dalam hubungan.

"Apakah penganiayaan terjadi karena suaminya selingkuh? Kalau tidak, perempuan umumnya sangat toleran. Pasti karena si pria punya banyak kesalahan, kan?” tulis warganet yang kontra dengan Li.

Kekerasan Pada Pria adalah Isu yang Tabu di Tiongkok

Seorang pengacara yang berbasis di Guangzhou menyampaikan kalau KDRT terhadap pria adalah masalah yang tabu untuk dibicarakan di masyarakat Tiongkok. Hal ini dikarenakan adanya stereotip sosial tentang KDRT dan gender.

Persentase dari KDRT yang dilakukan perempuan terhadap pria memang lebih kecil, namun tidak berarti fenomena tersebut tidak ada. Dikatakan juga bahwa masyarakat di Tiongkok biasa menilai dari sudut pandang perempuan. Mereka terus mencari bukti kesalahan yang dilakukan pria, meskipun pria adalah korbannya.

Terkadang, pria tidak sadar akan penderitaan mereka sendiri ketika perempuan melakukan serangan non-fisik. Contohnya adalah pelecehan verbal, pemaksaan, dan pembatasan kebebasan pribadi. Maka dari itu, perlu kesadaran diri dari pria sendiri untuk waspada dan mengerti akan jenis-jenis KDRT yang bisa jadi terjadi kepadanya.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)

Our Sister Site

mommyasia.id