Kenalan Sama FOPO, Si Perusak Percaya Diri yang Sering Nggak Disadari

Retno Anggraini | Beautynesia
Jumat, 06 Feb 2026 10:00 WIB
Kenalan Sama FOPO, Si Perusak Percaya Diri yang Sering Nggak Disadari
FOPO, rasa takut berlebihan terhadap penilaian orang lain yang menggerus percaya diri/Foto: Freepik.com/jcomp

Kita hidup di era di mana validasi seolah menjadi mata uang utama. Tanpa sadar, banyak dari kita yang memasang radar 24 jam hanya untuk memindai apa yang dipikirkan orang lain tentang kita. Fenomena ini dikenal sebagai FOPO alias Fear of Other People's Opinions.

FOPO membuat kita jadi ragu untuk mengutarakan pendapat, terlalu lama menimbang reaksi orang lain, atau merasa cemas berlebihan setelah melakukan sesuatu. Melansir HuffPost dan Time & Leisure, ada beberapa hal penting tentang FOPO yang perlu kita pahami agar rasa percaya diri tidak terus terkikis dan kita bisa kembali mendengarkan suara diri sendiri.

Pengertian FOPO

FOPO merupakan rasa takut berlebihan terhadap pendapat orang lain. Rasa takut ini bisa mebuat seseorang terjebak dalam siklus cemas berkepanjangan.
FOPO, ketakutan berlebihan terhadap opini orang lain/Foto: Freepik.com/Freepik

FOPO adalah singkatan dari Fear of Other People’s Opinions, yaitu rasa takut berlebihan terhadap pendapat, penilaian, atau respons orang lain. FOPO bukan sekadar ingin diterima secara sosial, tapi sudah sampai tahap mengorbankan kenyamanan dan keaslian diri demi menghindari kritik atau penolakan.

FOPO sering kali tumbuh dari lingkungan yang menuntut kesempurnaan, budaya membandingkan diri, dan paparan media sosial yang intens. Rasa takut berlebihan ini bisa membuat kita terjebak dalam siklus cemas yang berkepanjangan. Kita jadi terlalu sibuk membaca reaksi orang lain sampai lupa mendengarkan suara diri sendiri.

Fase-Fase FOPO

Tiga fase pemicu FOPO meliputi anticipatory phase, checking phase, dan responding phase/Foto: Freepik.com/Freepik

Fear of Other People’s Opinions tidak terjadi begitu saja. Psikolog Michael Gervais, yang juga menulis topik ini dalam bukunya yang berjudul The First Rule of Mastery: Stop Worrying About What People Think of You, mengatakan kalau rasa takut berlebihan ini memiliki tiga fase pemicu.

Pertama adalah anticipation phase. Ini adalah fase ketika pikiran kita mulai merakit skenario buruk tentang bagaimana orang lain akan menilai. Kita sibuk memproyeksikan kritik atau penolakan yang sebenarnya belum tentu terjadi.

FOPO memiliki tiga fase pemicu, yaitu anticipation phase atau rasa cemas yang muncul di awal, scanning phase atau kewaspadaan berlebih, dan responding phase atau cara diri memberikan respons.
Tiga fase pemicu FOPO meliputi anticipatory phase, checking phase, dan responding phase/Foto: Freepik.com/garetsvisual

Kedua adalah scanning phase. Ketika interaksi sedang berlangsung, FOPO muncul sebagai radar bawah sadar yang terus-menerus memindai sekeliling demi mencari validasi. Bukannya menikmati obrolan yang sedang terjadi, fokus kita malah terpecah untuk mendeteksi apakah orang lain setuju atau tidak dengan kita.

Fase terakhir FOPO adalah responding phase, yaitu bagaimana kita menyesuaikan perilaku setelah menerima respons orang lain. Responding phase membuat FOPO semakin mengakar dan membuat kita mulai membentuk identitas berdasarkan ekspektasi orang lain. Dalam jangka panjang, hal ini bisa menurunkan rasa percaya diri dan membuat kita kehilangan arah.

Ciri-Ciri FOPO

Ciri-ciri FOPO yang sering tidak disadari/Foto: Freepik.com/DC Studio

FOPO sering kali sulit disadari karena gejalanya terlihat seperti sifat umum. Salah satu ciri FOPO yang paling umum adalah kecenderungan people pleasing, yaitu selalu ingin menyenangkan orang lain meski harus mengorbankan diri sendiri. Kita merasa tidak enak berkata tidak dan takut mengecewakan.

Ciri lainnya adalah overthinking, sensitif terhadap kritik, dan rasa cemas setelah interaksi sosial. FOPO juga bisa muncul dalam bentuk perfeksionisme dan kebutuhan konstan akan persetujuan. Jika dibiarkan, FOPO dapat berdampak pada kesehatan mental dan hubungan sosial kita.

Cara Mengatasi FOPO

FOPO bisa diatasi dengan menempatkan opini orang lain pada porsi yang sehat, fokus pada nilai dan tujuan pribadi, berlatih self-compassion, dan berani mengekspresikan pendapat.
FOPO bisa diatasi dengan melatih fokus pada nilai dan tujuan pribadi/Foto: Freepik.com/benzoix

Langkah awal yang bisa kita lakukan dalam mengatasi FOPO adalah dengan menyadari bahwa kita tidak mungkin disukai oleh semua orang. Ketika kita bisa melepaskan ekspektasi ini dan menerima bahwa kita tidak akan mungkin untuk disukai oleh semua orang, maka kita bisa lebih nyaman menjadi diri kita sendiri.

Selanjutnya, kita bisa melatih diri untuk fokus pada nilai dan tujuan pribadi. Membatasi paparan media sosial, berlatih self-compassion, serta berani mengekspresikan pendapat secara jujur adalah cara efektif mengurangi FOPO. Seiring waktu, kepercayaan diri akan tumbuh ketika kita memilih untuk menghargai diri sendiri lebih dulu.

Dengan mengenali FOPO, memahami fase-fasenya, dan menerapkan cara mengatasinya, kita punya kesempatan untuk hidup lebih autentik. Yuk, mulai sekarang belajar memberi ruang bagi diri sendiri untuk tumbuh tanpa terus dibayangi penilaian orang lain.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE