Pilunya Kondisi Terkini di Gaza Utara: Hanya 1 Dokter Tersisa dan Tidak Ada Air-Makanan
Lebih dari 42 ribu orang telah meninggal dunia, akibat genosida yang dilakukan oleh Israel sejak 7 Oktober 2023 lalu. Namun, dengan banyaknya jumlah kematian tersebut, tak menghentikan Israel untuk berhenti menyengsarakan warga Palestina.Â
Gaza Utara kini telah berada pada kondisi yang sangat memilukan. Tak sekadar kekurangan pasokan air dan makanan, tapi tenaga medis pun kini hanya tersisa satu dokter saja.
Staf Medis Ditahan, Tersisa 1 Dokter di Gaza Utara
Dokter di RS Kamal Adwan saat serangan Israel/Foto: Mondoweiss
Pada Jumat (25/10), pasukan Israel mengepung Rumah Sakit Kamal Adwan di Gaza Utara. Mereka memerintahkan kepada semua pasien dan tenaga medis untuk keluar dan berkumpul di halaman rumah sakit.
Puluhan petugas kesehatan dari antara 600 warga Palestina yang terjebak di RS, ditahan. Hanya ada satu perawat dan Direktur rumah Sakit, Dr. Husam Abu Safiyeh yang berhasil selamat.Â
Sementara itu, puluhan anggota staf rumah sakit yang ditangkap, masih belum diketahui nasib dan keberadaannya.
Lalu, pada hari Senin (28/10), Israel mengatakan pasukannya telah menahan sekitar 100 "teroris" di rumah sakit Gaza Utara. Israel mengatakan rumah sakit tersebut, di dalam kamp pengungsi Jabalia, telah digunakan oleh Hamas. Klaim tersebut langsung dibantah oleh pejabat kesehatan setempat.Â
Adanya Korban Luka-Luka
Suasana RS Kamal Adwan di Gaza Utara yang Penuh Pasien/ Foto: REUTERS/Stringer |
Razan Zuhud, salah satu warga Gaza yang selamat dari serangan Kamal Adwan mengatakan kejadian terjadi pada pukul 3 pagi. Tentara Israel menembaki warga, hingga luka-luka.
"Kami berada di Kamal Adwan selama empat hari, kemudian pada hari Jumat pukul 3:00 pagi mereka (pasukan Israel) mulai menembaki kami, dan banyak yang terluka. Seorang gadis terluka di lengan. Keponakan saya terluka di wajah dan tangan. Kakak ipar saya terluka di bahu, dan saudara laki-laki saya terluka di dada," jelas Razan.Â
Saksi mata yang lain pun mengatakan, saat itu Israel memanggil orang-orang bersenjata. Namun, tidak ada yang bersenjata, jadi tidak ada keluar. Setelahnya, mereka menembaki rumah sakit.Â
"Mereka (pasukan Israel) mulai menembaki rumah sakit dari segala sisi, dan peluru mulai beterbangan ke klinik luar tempat saya berada, jadi saya menjatuhkan diri ke tanah, dan anak saya terluka di kaki,"Â ujar Marian Zuhud.Â
"Kemudian mereka memaksa para pria untuk menanggalkan pakaian hingga hanya mengenakan pakaian dalam dan memaksa para wanita dan anak-anak untuk berjalan, dengan tank-tank mengawasi kami sepanjang jalan ke rumah sakit Indonesia, dan dari sana ke selatan," kenangnya.
Dalam kerjadian ini, Dr. Husam Abu Safiyeh memang menjadi satu-satunya dokter yang selamat. Namun, tidak dengan putranya. Putra Dr. Abu Safiyeh meninggal dunia dalam serangan Israel tersebut.Â
Ia pun harus merawat puluhan pasien yang terluka atas kejadian ini. Demikianlah melansir Mondoweiss.
Mendesak Bantuan Staf Medis hingga Bantuan Makanan
Kehancuran di area sekitar RS Kamal Adwan /Foto: REUTERS/Stringer/File Photo Purchase Licensing Rights/detik
Melansir BBC, dalam pernyataan video, Dr. Khalil Daqran mendesak organisasi internasional untuk mengirim staf medis ke rumah sakit di wilayah utara Jalur Gaza. Ia mengatakan pasien di sana mengalami pendarah hingga meninggal dunia, karena kurangnya perawatan.Â
Tak hanya menculik para petugas kesehatan, serangan Israel juga telah menyebabkan kerusakan pada bangunan rumah sakit tersebut.Â
"Dua hari yang lalu, tentara menyerbu Rumah Sakit Kamal Adwan, menyebabkan kerusakan luas, membakar sebagian besar bangunan, menghancurkan pintu masuk rumah sakit, dan merobohkan tembok di sekitarnya," ujar Dr. Daqran.Â
"Pasien dan staf medis diserang, banyak pasien dan pendamping ditangkap, bersama dengan sebagian besar staf medis. Nasib 30 tenaga medis masih belum diketahui," jelasnya. Â
"Tentara telah menghentikan operasional rumah sakit sepenuhnya, menghancurkan semua isinya. Sekarang tidak ada obat-obatan, perlengkapan medis, atau makanan di dalam rumah sakit," lanjut Dr. Daqran.Â
Lebih lanjut, Dr. Daqran pun menyampaikan bahwa kondisi Gaza Utara kini sudah sangat buruk. Termasuk tidak adanya air dan makanan.Â
"Kondisi di Gaza utara sangat buruk: tidak ada air, makanan, atau susu formula bayi. Infrastruktur telah hancur, limbah dan kotoran menumpuk di antara penduduk, yang menyebabkan penyebaran penyakit dan epidemi," pungkas Dr. Daqran.
***
Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk gabung ke komunitas pembaca Beautynesia B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!
Suasana RS Kamal Adwan di Gaza Utara yang Penuh Pasien/ Foto: REUTERS/Stringer