sign up SIGN UP

Pro Kontra Permendikbudristek No. 30, Nadiem Makarim: Kami Tidak Mendukung Seks Bebas

Nadya Quamila | Kamis, 11 Nov 2021 15:45 WIB
Pro Kontra Permendikbudristek No. 30, Nadiem Makarim: Kami Tidak Mendukung Seks Bebas
caption
Jakarta -

Komnas Perempuan mencatat bahwa kampus menjadi salah satu tempat rentan terjadinya pelecehan seksual. Sudah tak terhitung berapa kasus pelecehan seksual yang terjadi dan viral, namun upaya penyelesaian kasusnya pun banyak yang masih jauh dari kata tuntas.

Baru-baru ini, Kemendikbud Ristek telah menetapkan Peraturan Menteri "Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual" (PPKS) di kampus. Tapi ternyata, masih ada pro kontra dari berbagai pihak atas peraturan tersebut.

Melalui acara Mata Najwa bertajuk "Ringkus Predator Seksual Kampus" pada Rabu (10/11), Najwa Shihab mengundang Nadiem Makarim selaku Menteri Pendidikan Kebudayan, Riset, dan Teknologi untuk membahas pro kontra Permendikbud yang ramai diperbincangkan tersebut.

Pelecehan Seksual Sudah Menjadi Pandemi

Waspada! Kenali tingkatan pelecehan seksual ini agar lebih berhati-hatiIlustrasi pelecehan seksual/ Foto: Pexels/Anete Lusina


Berdasarkan survei Ditjen Diktiristek di tahun 2020, 77 persen dosen di perguruan tinggi menyatakan bahwa kekerasan seksual terjadi di kampus dan 63 persen tidak melaporkan kasus yang diketahuinya.

Menurut Nadiem, ada beberapa alasan mengapa masih banyak kasus yang tidak terlapor. Mulai dari stigma yang diasosiasikan dengan pelecehan dan kekerasan seksual, risiko yang dihadapi pelapor, dan adanya victim blaming ke korban.

"Ini adalah situasi yang menurut saya pemerintah nggak bisa hanya duduk diam saja, ini sudah menjadi suatu pandemi tersendiri yang menyebar dan kita harus mengambil posisi yang tegas," ungkap Nadiem Makarim dalam acara Mata Najwa, Rabu (10/11).

Tidak akan ada yang namanya pembelajaran jika tidak ada rasa aman dan nyaman di kampus. "Sebelum kita bisa meningkatkan kualitas pendidikan, tidak mungkin bisa terwujud tanpa mahasiswa merasa aman di kampus," tambahnya.


Pro Kontra Permendikbud soal Kekerasan Seksual

pelecehan seksualPro kontra terkait Permendikbud No 30 Tahun 2021 tentang PPKS/Foto: Pinterest.com/grovo


Permendikbudristek No. 30 Tahun 2021 tentang PPKS yang baru-baru ini diterbitkan Mendikbud Ristek menuai pro kontra. Ada anggapan bahwa peraturan tersebut tidak sesuai dengan norma agama yang berlaku dan seakan mengisyaratkan melegalisasi perbuatan seksual di luar nikah. Sehingga, ada banyak pihak yang menginginkan agar Permendikbudristek ini direvisi atau bahkan dicabut.

Tidak hanya mengundang Nadiem Makarim, Najwa Shihab juga mengundang salah satu pihak yang ingin Permendikbudristek tersebut direvisi, yakni Ikatan Da'i Indonesia (IKADI) yang diwakili oleh Ahmad Kusyairi Suhail, Sekjen IKADI.

Menurut Ahmad, ada beberapa pasal tercantum dalam Permendikbudristek yang mengabaikan norma agama. Salah satu yang menjadi sorotan ialah kata 'tanpa persetujuan' yang bisa dianggap frase yang melegalisasi perzinaan.

"Padahal kita hidup di negara Pancasila dan sila pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Kami menginginkan perlu dimasukkan norma agama. Selain itu, di pasal lima ini banyak mendapat sorotan. Terlihat ada kesan menimbulkan legalisasi terhadap tindakan seks bebas," ungkapnya.

Saat ini sudah banyak pula kelompok-kelompok penyintas kekerasan seksual yang bisa kamu jadikan tempat mencurahkan isi hati dan pikiran.Ilustrasi penyintas pelecehan seksual/Foto: Freepik


Namun, Jaringan Kongres Ulama Perempuan Indonesia ternyata memiliki tanggapan yang berbeda. Diwakili oleh Ala'i Najib selaku anggota melalui panggilan video, ia mengungkapkan bahwa zina dan kekerasan seksual adalah hal yang berbeda.

"Kita ingin bahwa peraturan ini untuk melindungi semua, karena melindungi semua, di dalamnya tidak boleh ada yang multitafsir. Maka itu harus didialogkan bersama. Bahwa zina dan kekerasan seksual adalah hal yang berbeda," ujarnya.


Nadiem: Permendikbud No. 30 Tidak Mendukung Seks Bebas


Nadiem Makarim menanggapi langsung kritikan soal Permendikbud yang dianggap multitafsir dan melegalisasi perzinahan.

Pemerintah memahami bahwa situasi banyaknya kasus pelecehan dan kekerasan seksual ini sudah gawat darurat. Dibutuhkan adanya kebijakan atau regulasi yang dapat mengatur hal tersebut. Maka, diterbitkanlah Permendikbudristek No. 30 Tahun 2021.

"Kekerasan seksual itu definisinya kekerasan, itu adalah secara paksa. Dan apa itu secara paksa? Artinya tanpa persetujuan, saya tidak mau itu dilakukan kepada saya tapi itu terjadi. Itulah alasannya kenapa secara yuridis memfokuskan peraturan ini hanya untuk kekerasan seksual," jelas Nadiem.

"Kami di Kemendikbud Ristek sama sekali tidak mendukung seks bebas. Saya juga tidak bisa menerima fitnah bahwa saya melegalkan zina dan seks bebas," tambahnya.


3 Esensi Penting dari Permendikbudristek No. 30 Tahun 2021

Jangan Khawatir, Lakukan 5 Tips Ini dalam Menghadapi Pelecehan SeksualEsensi Penting dari Permendikbudristek No. 30 Tahun 2021/ Foto: beautynesia


Nadiem mengungkapkan bahwa ada 3 esensi dari Permendikbud tersebut. Pertama, dibutuhkan unit bernama Satgas yang bertanggung jawab untuk melakukan semua pelaporan, pemulihan, perlindungan, dan monitoring rekomendasi sanksi.

"Kedua, penjabaran. Untuk pertama kalinya di Indonesia kita ada definisi sangat spesifik. Ada 20 perilaku yang dimasukkan dalam kategori kekerasan seksual, bukan hanya fisik tapi juga verbal bahkan secara digital. Ini adalah inovasi terbesar. Dan ketiga, partisipasi daripada seluruh civitas akademika di dalam proses ini," tutur Nadiem.

Nadiem Makarim menganggap Permendikbud ini bisa menjadi langkah awal yang penting untuk menangani kekerasan seksual di kampus.

"Ketika saya bertanya kepada audiens saat sosialisasi terkait Permendikbud ini, saya bertanya apa yang akan mereka lakukan untuk melindungi anak-anak kita di kampus? Dan jawaban mereka adalah apapun. Apapun akan dilakukan," tutup Nadiem.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)

Our Sister Site

mommyasia.id