Puluhan Siswi SD di Afghanistan Diracun hingga Dirawat di Rumah Sakit, Apa Penyebabnya?

Nadya Quamila | Beautynesia
Kamis, 08 Jun 2023 17:00 WIB
Puluhan Siswi SD di Afghanistan Diracun hingga Dirawat di Rumah Sakit, Apa Penyebabnya?
Puluhan Siswi SD di Afghanistan Diracun hingga Dirawat di Rumah Sakit, Apa Penyebabnya?/Foto: AFP via Getty Images/WAKIL KOHSAR

Hampir 80 siswa Sekolah Dasar (SD) di Afghanistan, kebanyakan perempuan, diduga telah diracun. Siswi malang tersebut dibawa ke rumah sakit di distrik Sangcharak, Afghanistan, menurut laporan Mohammad Rahmani, kepala Departemen Pendidikan di provinsi Sar-e-Pul utara, kepada CNN.

Satuan kepolisian daerah mengatakan mereka masih menyelidiki masalah ini, menurut Rahmani. Sejauh ini belum diketahui pelaku, motif, dan potensi jenis racun yang mungkin digunakan terhadap para siswi tersebut.

Awal kasus tersebut terungkap ketika sekitar 17 siswi di satu sekolah melaporkan kondisi mereka. Kemudian disusul laporan dari 60 siswa, yang sebagian besar perempuan, di sekolah lainnya.

Para siswi tersebut mengaku merasa pusing, sakit kepala, dan mual.

Child patient with IV line in hand sleep on hospital bed. Medical palliation healthcare conceptIlustrasi/ Foto: Getty Images/iStockphoto/Pornpak Khunatorn

"Sesampainya di sekolah pada pagi hari, para siswa tiba-tiba mulai merasa pusing, sakit kepala, dan mual," kata Rahmani. Para siswa dirawat di rumah sakit setempat, tetapi 14 orang yang situasinya lebih kritis dibawa ke rumah sakit di ibu kota provinsi.

Seorang dokter di rumah sakit Sar-i-Pul mengonfirmasi kepada CNN bahwa beberapa siswi dirawat di rumah sakit dan dia yakin mereka diracuni berdasarkan gejalanya.

Dugaan yang beredar, para siswi yang diduga diracun berkaitan dengan aturan Taliban yang melarang anak perempuan untuk mengenyam pendidikan di bangku sekolah menengah hingga kuliah.

Puluhan Siswi SD di Afghanistan Diracun hingga Dirawat di Rumah Sakit, Apa Penyebabnya?

BAMYAN, AFGHANISTAN -- SEPTEMBER 5, 2022: Somira Mousawi 16, left, Sharifa Bahmani, 14, right, and Zoha, 11, center, attend class at a school in Bamyan, Afghanistan, Monday, Sept. 5, 2022. A year after the precipitous fall of the U.S.-backed republic and the TalibanÕs ascension to power, many women across Afghanistan are grappling with the Islamic militantsÕ hard-line vision for the country and its plan to rewind the clock not only on their education but their very presence in public life. Bamyan, a breathtakingly beautiful central Afghan province dominated by the Hazara, a mostly Shiite Muslim minority that has faced persecution from the Taliban, wholeheartedly enlisted in AmericaÕs project. Rather than monochromatic full-body coverings, women here wore colorful headÊscarves and even now still dare to show their faces on the street, despite the occasional admonishment from the TalibanÕs morality police. During the republicÕs time, they took full advantage of the opportunities afforded by the U.S.-led invasion to become doctors, lawyers, soldiers and journalists. (MARCUS YAM / LOS ANGELES TIMES)

Puluhan Siswi SD di Afghanistan Diracun hingga Dirawat di Rumah Sakit, Apa Penyebabnya?/Foto: Los Angeles Times via Getty Imag/Marcus Yam

Larangan Pendidikan bagi Perempuan Afghanistan oleh Taliban

Pendidikan anak perempuan telah menjadi masalah yang memecah belah di Afghanistan sejak Taliban mengambil alih negara itu pada tahun 2021. Kelompok tersebut mulai melucuti kebebasan yang diperoleh dengan susah payah bagi perempuan dan mengecualikan mereka dari kehidupan publik.

Beberapa pembatasan yang paling mencolok adalah seputar pendidikan, di mana anak perempuan dilarang kembali ke sekolah menengah dan universitas, merampas seluruh hak mereka untuk mendapatkan pendidikan.

Karena adanya tekanan dari dunia internasional, Taliban tetap membuka sekolah dasar untuk anak perempuan sampai sekitar usia 12 tahun, lapor Reuters.

Beberapa serangan peracunan terhadap siswi terjadi selama pemerintahan Afghanistan sebelumnya yang didukung pihak asing. Pada tahun 2012, lebih dari 170 perempuan dan anak perempuan dirawat di rumah sakit setelah meminum air sumur yang tampaknya beracun di sebuah sekolah. Pejabat kesehatan setempat menyalahkan tindakan ekstremis yang menentang pendidikan perempuan.

UNESCO Dedikasikan Hari Pendidikan Internasional untuk Anak Perempuan dan Perempuan di AfghanistanPelajar di Afghanistan/Foto: Instagram.com/aljazeeraenglish

Beberapa waktu lalu, Taliban melarang perempuan untuk mengenyam pendidikan di bangku kuliah.

Penguasa Taliban Afghanistan telah memerintahkan larangan tanpa batas waktu bagi perempuan untuk berkuliah di universitas. Hal tersebut disampaikan kementerian pendidikan tinggi dalam surat yang dikeluarkan untuk semua universitas negeri dan swasta.

"Anda semua diberitahu untuk melaksanakan perintah penangguhan pendidikan perempuan tersebut sampai pemberitahuan lebih lanjut," kata surat yang ditandatangani oleh menteri pendidikan tinggi, Neda Mohammad Nadeem, dilansir dari The Guardian.

Larangan mengenyam pendidikan di bangku kuliah muncul kurang lebih tiga bulan setelah ribuan perempuan mengikuti ujian masuk universitas di seluruh negeri. Banyak dari mereka yang memilih program studi teknik dan kedokteran.

Setelah Taliban mengambil alih kekuasaan di Afghanistan, universitas dipaksa untuk menerapkan aturan baru, termasuk ruang kelas dan pintu masuk yang dipisahkan secara gender. Perempuan hanya diizinkan untuk diajar oleh profesor perempuan atau pria tua.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.