Punya 3 Kebiasaan Ini? Tandanya Kamu Bikin Produktivitas Kantor Anjlok!

Dewi Maharani Astutik | Beautynesia
Selasa, 13 Jan 2026 17:30 WIB
Hidup dalam Mode “Fauxductivity”
Karyawan hidup dalam mode fauxductivity karena adanya masalah dalam menilai produktivitas kantor secara nyata/Foto: Freepik/pvproductions

Produktivitas di kantor bukan sekadar tentang bekerja keras, melainkan bagaimana setiap jam yang dihabiskan dapat memberikan hasil yang maksimal. Saat produktivitas menurun, dampaknya bisa terasa luas, mulai dari perusahaan menghadapi penurunan kinerja, berkurangnya daya saing, hingga kerugian finansial. Sementara itu, karyawan sendiri bisa mengalami tekanan mental, rasa tidak puas dengan hasil kerja, bahkan stagnasi dalam perkembangan karier.

Kondisi tersebut sering kali berawal dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang terlihat sepele, tetapi secara perlahan menggerogoti efektivitas kerja. Oleh karena itu, artikel yang dilansir dari Fodmap Everyday ini bertujuan untuk mengidentifikasi 3 kebiasaan buruk di kantor yang kerap tidak disadari, tetapi memiliki pengaruh besar sebagai penyebab kinerja menurun. Dengan memahami pola tersebut, kamu bisa lebih mudah mencari solusi, memperbaiki cara kerja, serta menciptakan lingkungan kantor yang lebih sehat, efisien, dan mendukung pertumbuhan bersama.

Selalu Terlambat atau Sering absen

Keterlambatan dan absen yang sering terjadi bukan cuma soal waktu, tapi bisa menjadi tanda masalah serius di lingkungan kerja. Kebiasaan ini berdampak langsung pada produktivitas kantor dan menimbulkan kerugian besar. Bahkan ketidakhadiran karyawan bisa merugikan perusahaan hingga miliaran dolar per tahun.
Sering terlambat atau sering absen berdampak langsung pada produktivitas kantor/Foto: Freepik/garetsvisual

Setiap orang pasti pernah terlambat karena hal-hal tak terduga di pagi hari, dan sesekali hal itu masih bisa dimaklumi. Namun, ketika keterlambatan berubah menjadi kebiasaan, ini bukan lagi sekadar soal waktu, melainkan sinyal adanya masalah yang lebih serius. Faktanya, keterlambatan karyawan bisa merugikan perusahaan cukup besar.

Hidup dalam Mode “Fauxductivity”

Karyawan hidup dalam mode fauxductivity karena adanya masalah dalam menilai produktivitas kantor secara nyata/Foto: Freepik/pvproductions

Fenomena “fauxductivity” menggambarkan situasi ketika seseorang tampak sibuk sepanjang waktu. Mereka selalu terlihat sedang sibuk mengetik surel tanpa henti, menghadiri rapat beruntun, hingga memastikan status online di aplikasi komunikasi kerjanya selalu aktif, tetapi hasil kerjanya justru minim.

Survei dari WorkHuman, perusahaan yang bergerak di bidang manajemen SDM, menunjukkan bahwa hampir 4 dari 10 manajer dan eksekutif sendiri mengakui berpura-pura produktif. Tidak jarang, strategi ini dilakukan sebagai bentuk bertahan hidup di lingkungan kerja yang lebih menghargai kesibukan semu daripada pencapaian nyata. Akibatnya, banyak karyawan merasa harus menampilkan kesibukan agar terlihat bekerja, terutama ketika mereka diawasi tetapi tidak benar-benar dipercaya.

Kesimpulannya, akar dari fauxductivity ini bisa jadi berasal dari budaya kerja yang mengutamakan pengawasan dari aktivitas yang terlihat di permukaan, bukan hasil yang benar-benar berarti. Pada akhirnya, kondisi ini menandakan perusahaan salah arah dalam menilai kinerja.

Meja (dan Kehidupan Digital) yang Berantakan

Meja dan kehidupan digital yang berantakan bisa mengurangi produktivitas kantor secara nyata/Foto: Freepik

Meja kerja yang penuh tumpukan barang, layar komputer yang dipenuhi file acak, hingga kotak masuk dengan ribuan email yang belum terbaca, bukanlah sekadar kebiasaan sepele. Semua itu bisa menjadi penyedot energi produktivitas di tempat kerja.

Menurut International Data Corporation (IDC)—sebuah perusahaan riset pasar global yang fokus pada teknologi informasi, telekomunikasi, dan pasar konsumen, rata-rata orang yang pekerjaannya lebih banyak bergantung pada pengetahuan, informasi, dan kemampuan berpikir menghabiskan hampir dua jam setiap hari hanya untuk mencari informasi. Tambahkan ruang kerja yang berantakan, dan sekitar 40 menit lagi bisa hilang hanya untuk mencari sebuah catatan kecil.

Jika kondisi ini terus berulang, biasanya itu menandakan karyawan sedang kewalahan secara mental. Beban kerja dan banjir informasi yang melebihi kapasitas sering membuat sistem fisik maupun digital berantakan. Oleh karena itu, meja kerja yang kacau bukan sekadar tentang masalah kerapian, tetapi bisa jadi sinyal bahwa karyawan membutuhkan bantuan lebih, bukan sekadar perintah untuk merapikan meja.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE