Studi: Perempuan Lebih Rawan Bangkrut Setelah Bercerai, Ini Tips Stabilkan Keuangan Pasca 'Ketok Palu'

Riswinanti Pawestri Permatasari | Beautynesia
Minggu, 02 Oct 2022 19:30 WIB
Studi: Perempuan Lebih Rawan Bangkrut Setelah Bercerai, Ini Tips Stabilkan Keuangan Pasca 'Ketok Palu'
Ilustrasi mengelola uang/Foto: Freepik.com/tirachardz

Karena berbagai alasan, banyak pasangan yang memilih perceraian sebagai jalan terbaik. Sayangnya, banyak orang yang tak menyadari bahwa ada dampak besar yang mungkin terjadi setelahnya, termasuk dalam hal finansial.

Banyak orang beranggapan bahwa perempuan lebih diuntungkan setelah bercerai, karena adanya tunjangan dari pihak pria untuk membiayai keperluan anak. Hal ini berlaku terutama jika hak asuh anak jatuh ke tangan ibunya. Namun benarkah perempuan benar-benar diuntungkan? Simak ulasan yang dilansir dari berbagai sumber berikut ini!

Hasil Studi Terkini

Dampak Perceraian pada Perempuan/Foto: Pixabay.com/Tumisu
Dampak Perceraian pada Perempuan/Foto: Pixabay.com/Tumisu

Sayangnya, anggapan bahwa pihak perempuan lebih diuntungkan dalam perceraian sepertinya hal yang kurang tepat. Berbagai penelitian mengungkap bahwa perempuan lebih berisiko mengalami kejatuhan finansial pasca bercerai, terutama jika ada anak yang harus diasuh.

Penelitian yang diulas oleh The Conversation mengungkapkan bahwa rata-rata penghasilan priai berkurang hingga 5 persen pasca bercerai, sedangkan perempuan bisa mengalami degradasi hingga 30 persen. Karenanya, risiko bangkrut dan jatuh miskin juga jauh lebih tinggi.

Penyebab Perempuan Lebih Rawan Bangkrut Setelah Bercerai

Dampak Perceraian pada Perempuan/Foto: Pixabay.com/Geralt
Dampak Perceraian pada Perempuan/Foto: Pixabay.com/Geralt

Terlepas dari apapun penyebab perceraian, perempuan, terutama yang tidak bekerja, mungkin akan mengalami beberapa syok keuangan pasca bercerai. Sebagaimana dilansir dari Forbes, berikut ini beberapa hal yang mungkin menyebabkan runtuhnya finansial perempuan pasca bercerai:

  • Kurang cermat menghitung total harta yang bisa dibagi, dibandingkan dengan besarnya pengeluaran, utang, dan biaya hidup.
  • Tidak memperhitungkan bahwa mereka harus kembali bekerja setelah bercerai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
  • Beranggapan bahwa tunjangan dari mantan suami jumlahnya cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhannya dan buah hati.
  • Beranggapan bahwa rumah yang ditinggali bisa jadi miliknya.
  • Tidak memperhitungkan besarnya biaya asuransi, kesehatan, dan lain-lain.
  • Tidak memperhitungkan biaya perceraian yang tinggi.

Meski demikian, keenam aspek tersebut pastinya tidak selalu terjadi. Jika perempuan telah mengamankan aset dan menghitung dengan cermat berbagai biaya yang timbul, kondisi finansial bisa saja tak menjadi sebuah masalah.

5 Langkah Mengelola Keuangan Pasca Bercerai

Asian girl using calculator for personal accounting and hold Japanese YenIlustrasi/ Foto: Getty Images/iStockphoto

Masalah finansial mungkin terdengar menakutkan bagi sebagian perempuan yang menempuh jalan perceraian. Meski demikian, bukan berarti kamu tak bisa bangkit lagi setelah putusan pengadilan. Awalnya kamu mungkin merasa bingung. Namun cobalah melakukan beberapa langkah mudah yang diulas oleh laman First Horizon ini, agar keuanganmu kembali stabil.

1. Menyusun Spreadsheet

Pertama-tama, datalah semua hal yang kamu miliki setelah perceraian disahkan, mulai dari aset, harta, tabungan, jaminan pensiun, deposito, asuransi, hingga utang. Jangan lupa aspek-aspek kecil seperti kartu kredit, biaya sekolah anak, dan lain-lain. Simpan semuanya dalam satu spreadsheet (atau form lain yang mendukung).

2. Analisa Tagihan dan Budget

Jika semua data sudah dibukukan, sekarang saatnya menganalisa keuangan. Cobalah hitung penghasilan yang kamu terima, termasuk gaji, jumlah tunjangan, harta gono-gini, hingga asuransi. Setelahnya, jangan lupa merangkum apa saja tagihan yang harus dibayar.

3. Buat Daftar Pengeluaran

Tagihan bulanan bukan satu-satunya pengeluaran yang harus kamu perhitungkan. Kamu juga perlu biaya lain seperti makan, sekolah, transportasi, dan lain-lain. Kamu juga harus memperhitungkan beberapa biaya yang tadinya ditanggung bersama mantan suami, namun kini harus dibayar sendiri.

4. Rancang Strategi

Setelah memahami kondisi keuanganmu, saatnya kamu menerapkan strategi keuangan yang tepat. Senator Elizabeth Warren, dalam bukunya berjudul All Your Worth: The Ultimate Lifetime Money Plan, menyarankan sistem budgeting 50/30/20.

Artinya, kamu menggunakan 50 persen gaji penghasilan untuk biaya kebutuhan primer (makanan, tagihan, kebutuhan rumah, dan hal pokok lainnya), 30 persen persen untuk kebutuhan sekunder (makan di luar, hobi, dan kebutuhan sampingan anak), dan 20 persen untuk tabungan (dana darurat, simpanan pensiun, dan lain-lain).

5. Lakukan Kontrol

Semuanya mungkin akan terasa berat di awal, namun jika kamu bisa disiplin dengan pola keuangan, maka semua akan baik-baik saja. Setelahnya, hal terpenting adalah memantau dan memastikan kamu tidak boros dan membelanjakan semua sesuai pos. Healing mewah boleh sesekali jika kamu sudah punya simpanan yang cukup.

Apa Lagi Selanjutnya?

Tips Mengelola Keuangan Pasca Bercerai/Unsplash.com/Denys Nevozhai
Tips Mengelola Keuangan Pasca Bercerai/Unsplash.com/Denys Nevozhai

Dengan langkah di atas, jika dilakukan dengan baik, perlahan kamu akan bangkit dari keterpurukan keuangan setelah bercerai. Meski demikian, jangan hanya diam di tempat! Coba terus cari strategi yang memungkinkanmu untuk meningkatkan taraf hidup secara positif. Jangan lupa juga mengamankan semua aset, agar kamu tak perlu kebingungan di hari tua. Selamat mencoba!

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
CERITA YUK!
Theme of The Month :

Theme of The Month :

Theme of The Month :

Theme of The Month :

Theme of The Month :

Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE