STATIC BANNER
160x600
STATIC BANNER
160x600
BILLBOARD
970x250

Waspada, Ini 5 Bentuk Pelecehan Seksual di Ruang Publik

Diyah Ma'rifathul Wulandinii | Beautynesia
Sabtu, 10 Jul 2021 17:00 WIB
Waspada, Ini 5 Bentuk Pelecehan Seksual di Ruang Publik

Pelecehan seksual dapat terjadi bukan hanya dalam bentuk paksaan untuk melakukan perbuatan seksual. Tapi juga bisa hal-hal lain, seperti lisan maupun isyarat. Hal ini bisa terjadi di mana saja, bahkan tanpa memandang situasi dan kondisi. Baik itu di ruang publik atau tidak, siapa saja baik perempuan maupun pria bisa berpotensi mengalaminya.

Mirisnya, pelaku terkadang juga tidak menyadari apakah yang dilakukannya merupakan suatu tindakan pelecehan! Meski begitu, penting untuk kamu memahami hal-hal apa saja terkait tindakan pelecehan seksual, agar bisa segera mendapat pertolongan.

Berikut, beberapa bentuk pelecehan seksual di ruang publik:

Menatap Berlebihan

Pelecehan seksual di ruang publik kerap terjadi pada perempuan yang mampu mengganggu kenyamanan pada fisik dan psikis.
Pelecehan seksual di ruang publik perlu diwaspadai agar tidak mengganggu kenyamanan/foto: freepik.com/stocking

Menatap seseorang ketika berbicara merupakan sebuah etika yang baik. Tapi, ini bisa menjadi salah satu bentuk pelecehan apabila dilakukan secara berlebihan, baik oleh lawan bicara atau orang lain yang tidak berinteraksi denganmu.

Pelecehan seksual di ruang publik ini umumnya mengarah pada tatapan pada area fisik tertentu. Mulai dari bibir, payudara, atau bokong bisa membuat korban merasa risi dan  kotor.

Umumnya, perempuan sering disalahkan atas apa yang dipakai, padahal bisa jadi hal ini bukanlah penyebabnya. Dikutip dari detikNews, menurut Rika Rosvianti, pendiri kelompok perEMPUan yang melakukan survei terhadap korban pelecehan seksual, sebanyak 32.431 responden menunjukkan bahwa tidak ada keterkaitan antara pakaian dengan aksi pelecehan.

Catcalling

Catcalling merupakan bentuk pelecehan seksual secara verbal yang digunakan oleh pelaku dengan tujuan menggoda korban. Perkataan dari pelaku biasanya berbentuk siulan, pujian, lelucon, dan komentar yang mengarah pada nuansa seksual.

"Verbal atau gerak-gerik yang tidak dibarengi kontak secara fisik, bisa digolongkan pelecehan apabila bersifat menekan," ujar Psikolog klinis Anastasia Sari Dewi yang dikutip dari detikHealth.

Pelaku catcalling biasanya akan menggoda korban yang meskipun berupa pujian, padahal membuat tidak nyaman. Korban bisa saja mendapatkan komentar mengenai pakaian yang dikenakan sampai persoalan fisik.

Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE