Ada banyak faktor risiko yang memengaruhi tingkat tekanan darah pada tubuh seseorang. Beberapa faktor risiko tersebut antara lain, usia, sejarah dan keturunan keluarga, etnis, hingga jenis kelamin.
Namun, selain faktor risiko internal yang mustahil untuk dikendalikan tersebut, ada pula faktor risiko eksternal yang bisa kamu kendalikan. Dilansir dari Newsroom, inilah beberapa kebiasaan buruk yang merupakan faktor risiko eksternal penyebab meningkatnya risiko tekanan darah tinggi!
Hipertensi Jas Putih
Ilustrasi kebiasaan (Foto: Unsplash/National Cancer Institute) |
Hipertensi jas putih atau White Coat Hypertension adalah suatu istilah yang dipakai untuk menggambarkan kondisi peningkatan tekanan darah ketika pasien diperiksa oleh dokter di rumah sakit namun saat di rumah tekanan darahnya dalam batas normal tanpa pemakaian obat-obatan anti hipertensi, sebagaimana dilansir dari laman Kemenkes RI.
Kesalahan dalam pengukuran tingkat tekanan darah bisa menyebabkan seseorang didiagnosa mengalami tekanan darah tinggi. Oleh karena itu, idealnya pasien harus mengukur ulang tekanan darahnya sepulang dari klinik demi menanggulangi kemungkinan terjadinya hipertensi jas putih yang bisa terjadi karena pasien merasa cemas dengan interior atau suasana saat di klinik.
Terlepas dari hal itu, semua pemeriksaan tingkat tekanan darah selalu diawali dengan metode yang sama, yakni pasien diminta buang air terlebih dahulu, menghindari rokok atau kafein setengah jam sebelum pemeriksaan, dan duduk diam selama beberapa menit sebelum pengukuran. Selama pemeriksaan, pasien juga harus meletakkan lengannya di permukaan setinggi dada, memosisikan kaki sejajar dengan lantai, dan tidak berbicara.
Mengonsumsi Obat-obatan yang Dijual Bebas
Ilustrasi kebiasaan (Foto: Freepik/kroshka__nastya) |
Obat-obatan pereda rasa sakit seperti naproxen dan ibuprofen dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah. Oleh karena itu sebelum memeriksa tekanan darah pasien, tanyakan terlebih dahulu obat-obatan apa yang mereka konsumsi untuk mengatasai rasa sakit dan nyeri ringan.
Obat seperti acetaminophen sendiri memiliki risiko yang lebih kecil untuk meningkatkan tekanan darah. Sementara itu, dekongestan dikenal optimal untuk meningkatkan tekanan darah sehingga orang dengan masalah jantung harus membatasi atau bahkan menghindarinya.
Beberapa obat yang diresepkan bisa memengaruhi tekanan darah sehingga juga harus diperhatikan. Obat-obatan yang dimaksud antara lain obat untuk mengatasi gangguan kesehatan mental, kortikosteroid, obat KB minum, imunosupresan, dan beberapa obat-obatan untuk kanker.