sign up SIGN UP

Peduli Kesehatan Mental Jangan Sampai Self Diagnosis, Ini 5 Bahaya yang Mengintai Jika Melakukannya

Sherley Gucci Permata Sari | Beautynesia
Jumat, 24 Jun 2022 23:30 WIB
Peduli Kesehatan Mental Jangan Sampai Self Diagnosis, Ini 5 Bahaya yang Mengintai Jika Melakukannya
caption

Kepedulian masyarakat terhadap isu kesehatan mental kini tampaknya semakin meningkat seiring dengan banyaknya edukasi dan kampanye yang digalakkan. Hal ini juga didukung oleh perkembangan teknologi, seperti media sosial, di mana semua informasi dapat diakses dan disebarluaskan. Sehingga hal ini pula lah yang menyebabkan tingkat kesadaran orang terhadap kesehatan mental menjadi tinggi. 

Namun, di sisi lain, hal tersebut juga menimbulkan masalah dan menjadi sebuah fenomena baru, yaitu perilaku self diagnose. Dilansir dari berbagai sumber, self diagnose diartikan sebagai sebuah perilaku yang mendiagnosis diri sendiri mengenai gangguan kesehatan berdasarkan informasi yang dicari secara mandiri. Saat merasakan beberapa gejala, tak sedikit orang langsung berusaha mencari tahu di internet kemudian menyimpulkannya sendiri.

Ditambah lagi, hal yang lebih mengkhawatirkan dari self diagnose adalah mengonsumsi obat yang belum tentu sesuai. Beauties, perlu dipahami bahwa diagnosis suatu penyakit hanya bisa dilakukan oleh ahlinya dan membutuhkan waktu serta proses observasi.

Berikut 5 bahaya perilaku self diagnose terhadap kesehatan mental yang perlu kamu ketahui, Beauties. Yuk, simak!

Menyebabkan Overthinking

self diagnose dapat menyebabkan overthinking
overthinking/Foto: Freepik.com/cookie studio

Salah satu penyebab timbulnya fenomena self diagnose di kalangan milenial dan generasi Z adalah ramainya berbagai konten di media sosial  yang menjelaskan tentang masalah-masalah kesehatan mental serta gejalanya. Bagi tenaga profesional, media sosial menjadi platform untuk memberikan edukasi kepada masyarakat.

Namun, tak sedikit yang jadinya malah melakukan self diagnose usai membaca gejala-gejala soal gangguan mental. Akibatnya, mereka pun jadi overthinking dengan hasil diagnosis yang dilakukan oleh diri sendiri. Harus dipahami, penting untuk mengunjungi ahlinya seperti psikolog dan psikiater untuk mendapatkan diagnosis yang tepat mengenai masalah kesehatan mental.

Memperparah Kondisi Mental

self diagnose dapat memperparah kondisi mental
Ilustrasi/Foto: Freepik.com/dashu83

Bahaya lainnya yang timbul akibat kebiasaan self diagnose dapat menyebabkan riwayat kesehatan mental yang dimiliki dapat bertambah parah. Hal ini dapat disebabkan oleh rasa cemas berujung overthinking yang tak terkendali. Dilansir dari Very Well Mind, menurut seorang pekerja sosial klinis dan profesional trauma bersertifikat, Hannah Huy, MSW menjelaskan bahwa mendiagnosis diri sendiri atau self diagnose dapat menimbulkan menerima perawatan dan intervensi yang salah di masa depan.

Mengabaikan Gejala Penyakit Lain

Dilansir dari Psychology Today, hal yang paling berbahaya dari perilaku self diagnose adalah dapat mengakibatkan seseorang mengabaikan penyakit yang sebenarnya, khususnya penyakit medis. Sebab, gejala penyakit medis dapat menyamar sebagai sindrom kejiwaan.

Misalnya, saat merasa kepanikan, banyak orang kini menganggapnya sebagai satu tanda masalah mental. Namun, bisa jadi kamu mengabaikan hipotiroidisme atau detak jantung yang tidak teratur. Bahkan masalah tumor otak bisa tersamar dengan perubahan kondisi psikosis hingga depresi.

Membentuk Sikap Penyangkalan

Berbagai informasi seputar kesehatan mental, khususnya mengenai gejala, akan memungkinkan membuat seseorang bersikap menyangkal. Bagi mayoritas orang akan muncul keyakinan hingga membuatnya melabeli diri dengan istilah pada masalah kesehatan mental. Namun bagi sebagian orang, mereka menyangkal hal tersebut hingga mengabaikan dirinya sendiri.

Mengabaikan Kapabilitas Profesi Medis

self diagnose dapat membuat orang mengabaikan profesi psikolog
Ilustrasi/Foto: Freepik.com/tirachardz

Bahaya lainnya yang dapat timbul akibat kebiasaan self diagnosis adalah membuat seseorang mengabaikan hingga meragukan kapabilitas seorang profesional, seperti dokter, psikolog, hingga psikiater. Hal ini dapat disebabkan oleh rasa keyakinan terhadap diri sendiri dengan dalil "aku yang merasakan maka akulah yang mengetahuinya".

Dilansir dari Psychology Today, perilaku self diagnose yang banyak dilakukan saat ini secara tidak langsung telah melemahkan profesi medis dan klinis. Padahal untuk mengetahui suatu gangguan masalah kesehatan dibutuhkan yang namanya observasi dan pemeriksaan khusus. 

Nah, itu tadi 5 bahaya dari self diagnosis yang perlu dipahami. Beauties, sudah waktunya untuk berhenti self diagnose dan cari bantuan profesional, ya!

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)

Our Sister Site

mommyasia.id