sign up SIGN UP

Viral di Media Sosial dan Tuai Pro Kontra, Ini Fakta Tes Keperawanan Menurut Dokter dan WHO

Nadya Quamila | Beautynesia
Selasa, 10 May 2022 16:30 WIB
Viral di Media Sosial dan Tuai Pro Kontra, Ini Fakta Tes Keperawanan Menurut Dokter dan WHO
caption
Jakarta -

Beberapa waktu lalu, ramai di media sosial memperdebatkan soal tes keperawanan. Hal ini bermula dari sebuah video TikTok yang bercerita soal cek keperawanan yang dilakukan orangtuanya setiap satu bulan sekali.

Video yang sudah ditonton sebanyak 7,9 juta kali itu menuai beragam komentar dari para warganet. Ada yang memuji tindakan orangtua perempuan tersebut, ada yang bertanya bagaimana cara mengecek keperawanan, dan ada pula yang mengkritik.

Berbicara soal tes keperawanan memang selalu menuai pro dan kontra dari berbagai kalangan. Namun terlepas dari itu semua, para pakar dan praktisi kesehatan setuju bahwa sebenarnya tes keperawanan untuk mengukur keutuhan selaput dara adalah sesuatu yang tidak jelas karena tidak berbasis ilmiah.

Selaput Dara Robek Bukan Melulu Karena Hubungan Seks

Bahan yang satu ini memang sudah terkenal mampu membuat vagina menjadi harum dan keset.Ilustrasi/Foto: freepik/doucefleur

Masih banyak masyarakat yang percaya bahwa perempuan dengan selaput dara yang robek artinya sudah tidak perawan lagi dan pernah berhubungan seksual. Padahal, anggapan ini tidak benar, lho, Beauties.

Praktisi kesehatan dr Putri Widi Saraswati menegaskan bahwa keutuhan selaput dara tidak bisa menentukan apakah seorang perempuan sudah pernah berhubungan seksual atau belum. Dalam kata lain, tes keperawanan bukanlah cara yang tepat untuk mengetahui kehidupan seksual seseorang.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan selaput dara atau hymen rusak atau robek. Bukan hanya dari hubungan seksual, hymen juga bisa robek karena aktivitas lain, misalnya jatuh atau naik sepeda. 

Oleh karena itu, jika dilihat dari ranah kesehatan seksual dan reproduksi, tes keperawanan tidak relevan dan tidak ilmiah karena mengukur sesuatu yang tidak jelas. Bahkan merupakan pelanggaran terhadap integritas tubuh.

"Bahkan ada orang yang juga ketika hymennya rusak karena terjatuh atau bersepeda. Ada juga yang sudah berhubungan seksual hymennya tidak robek," tegas dr Putri, dilansir dari detikHealth.

WHO Tegaskan Tes Keperawanan Harus Diakhiri

kekerasan seksualIlustrasi kekerasan seksual/Foto: Pexels.com/Anete Lusiana

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menegaskan untuk mengakhiri tes keperawanan atau pemeriksaan ginekologi dengan tujuan untuk menentukan apakah seorang perempuan telah melakukan hubungan seks atau tidak.

"Dalam seruan global untuk menghapus kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan di mana pun, praktik medis yang tidak perlu, dan sering kali menyakitkan, memalukan, dan traumatis ini harus diakhiri," ungkap WHO.

Dilansir dari laman resmi WHO, tes keperawanan adalah tradisi lama yang telah didokumentasikan di setidaknya 20 negara yang mencakup semua wilayah di dunia. Perempuan menjadi sasaran, dan seringkali dipaksa untuk menjalani tes keperawanan karena berbagai alasan. Mulai dari permintaan orangtua, calon pasangan untuk menentukan kelayakan pernikahan, hingga syarat melamar pekerjaan.

Di beberapa daerah, adalah praktik umum bagi para profesional kesehatan untuk melakukan tes keperawanan pada korban perkosaan. Tujuannya untuk memastikan apakah pemerkosaan terjadi atau tidak.

Istilah Keperawanan Pada Perempuan adalah Diskriminasi Gender

Untuk mencegah terjadi gatal pada vagina, bisa dilakukan dengan cara menjaga kebersihan area kewanitaan dan mengubah gaya hidup menjadi lebih sehatIlustrasi/Foto: Pexels/ Cliff Booth

Lebih lanjut, WHO menuturkan bahwa istilah keperawanan bukanlah istilah medis atau ilmiah. Sebaliknya, konsep keperawanan adalah konstruksi sosial dan budaya yang sering kali mencerminkan diskriminasi gender terhadap perempuan.

Pemeriksaan ini tidak hanya merupakan pelanggaran terhadap hak asasi perempuan, tetapi dalam kasus pemerkosaan dapat menyebabkan rasa sakit tambahan dan meniru tindakan asli kekerasan seksual, yang mengarah pada trauma yang dialami korban.

Banyak perempuan harus menanggung derita konsekuensi fisik, psikologis dan sosial jangka pendek dan jangka panjang yang merugikan dari praktik ini. Hal ini mencakup pula rasa cemas, depresi dan stres pasca-trauma. Oleh karena itu, WHO merekomendasikan bahwa tes ini tidak boleh dilakukan dalam keadaan apa pun.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)

Our Sister Site

mommyasia.id