sign up SIGN UP

RELATIONSHIP

Alasan Orang Korea Banyak Memilih Melajang dan Tak Menikah

tjitradewi | Kamis, 25 Mar 2021 21:15 WIB
Alasan Orang Korea Banyak Memilih Melajang dan Tak Menikah
caption

Jika menilik kehidupan selebritas Korea Selatan, kita akan menyadari bahwa sebagian besar dari mereka memilih melajang dan tak menikah. Bila memutuskan membina rumah tangga, biasanya mereka akan memulainya di usia yang tergolong 'tua' dalam budaya Indonesia, yakni pada umur 30-40 an. 

Ternyata, tren ini tak hanya berlaku bagi para selebritas. Seperti dilansir dari The Conversation, 40 persen warga Korea Selatan yang berumur 20-an dan 30-an memilih untuk tak menjalin sebuah hubungan. Saat ini banyak yang menyebut anak muda Korea sebagai Generasi Sampo, yang secara harfiah berarti menyerah pada tiga hal yakni berkencan, menikah, dan memiliki anak.

Banyak anak muda Korea Selatan yang memilih melajang dan tak menikah.
Banyak anak muda Korea Selatan yang memilih melajang dan tak menikah. (Freepik)

Ahli demografi menyebut pernikahan dalam budaya Asia Timur sebagai 'paket menikah' untuk menggambarkan bahwa pernikahan tak hanya menyatukan dua insan. Terlebih bagi perempuan akan menghadapi kewajiban mengurus anak dan orang tua dalam waktu bersamaan.

Seiring berkembangnya zaman, ideologi individualistik dari Barat secara pesat memengaruhi para pemuda Korea. Tak lagi menginginkan pernikahan, mereka memilih menundanya atau tak melakukannya sama sekali. 

Pada tahun 1970, hanya 1,4 persen perempuan dalam rentang usia 30-34 persen yang tak menikah. Angka tersebut berbeda jauh dengan data pada 2010 yang melonjak hingga menjadi hampir 30 persen. Dalam sebuah tulisan The Economist, hal paling mendasar yang menyebabkan hal tersebut adalah pekerjaan domestik yang tidak gender fluid dan pembagiannya yang tak seimbang.

Setelah menikah, perempuan di Korea Selatan diharapkan akan mengabdikan hidupnya untuk keluarga.
Setelah menikah, perempuan di Korea Selatan diharapkan akan mengabdikan hidupnya untuk keluarga. (Freepik)

Saat sudah menikah, perempuan pada umumnya diharapkan akan mengabdikan diri mereka kepada keluarga. Mereka akan dibebani dengan tugas domestik hingga bertanggungjawab akan keberhasilan pendidikan anak-anaknya.

Studi yang dilakukan pada 2006 mengungkap bahwa perempuan berusia 25 hingga 54 tahun yang telah menikah sebanyak 46 persennya adalah ibu rumah tangga. Sementara mereka yang juga memiliki pekerjaan lain di rumah, masih mengerjakan 80 persen pekerjaan domestik sementara suaminya hanya 20 persen.

Perempuan Korea Selatan dibebani dengan tugas domestik yang besar.
Perempuan Korea Selatan dibebani dengan tugas domestik yang besar. (Freepik)

Tanggung jawab besar dan tak seimbang ini membuat banyak perempuan melihat sebuah pernikahan menjadi institusi yang tak menarik lagi. Terlebih bagi mereka yang berpendidikan tinggi dan mengejar karir, pernikahan bukan menjadi pilihan mereka lagi.

Selain masalah tersebut, alasan lain yang mendasari rendahnya pernikahan di Korea Selatan adalah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan kesulitan finansial. Banyak anak muda Korea Selatan kesulitan mendapatkan pekerjaan yang layak, di mana mereka hanya mendapat upah rendah dan tak adanya jaminan keamanan keuangan.

[Gambas:Instagram]

Korea Selatan termasuk dalam salah satu negara dengan jam kerja terpanjang.
Korea Selatan termasuk dalam salah satu negara dengan jam kerja terpanjang. (Freepik)

Terlebih lagi, jam kerja yang panjang membuat mereka 'tak sempat' mencari pasangan. Menurut sebuah survei, Korea Selatan masuk dalam daftar negara dengan jam kerja terpanjang. Pada 2017 terungkap data bahwa per tahunnya mereka bekerja selama 2.024 tahun, sangat timpang dengan Kanada yang hanya mencapai 300 jam per tahun.

(kik/kik)

Our Sister Site

mommyasia.id