sign up SIGN UP

RELATIONSHIP

Ilmuwan Ungkap Seseorang Bisa Sakit dan Meninggal Karena Patah Hati

tjitradewi | Senin, 28 Jun 2021 20:15 WIB
Ilmuwan Ungkap Seseorang Bisa Sakit dan Meninggal Karena Patah Hati
caption

Apakah kamu pernah mendengar cerita bahwa ada pasangan yang sudah hidup bersama puluhan tahun dan keduanya meninggal dalam waktu berdekatan? Ya, ternyata ilmuwan mengungkap bahwa rasa sedih ditinggal orang terkasih bisa membuat seseorang sakit dan meninggal karena patah hati.

Kondisi ini disebut dengan broken heart syndrome atau Takotsubo cardiomypathy--diberi nama oleh ilmuwan Jepang yang mengidentifikasinya. Hal ini bisa terjadi saat seseorang mengalami trauma emosi hebat atau mengalami kejadian yang membuat hormon stres meningkat tajam. Kondisi ini bisa memicu kerusakan jantung dalam jangka singkat bahkan mengalami kematian.

Seseorang bisa sakit dan meninggal karena patah hati.
Seseorang bisa sakit dan meninggal karena patah hati. (Freepik.com)

"Sindrom patah hati kemungkinan disebabkan oleh faktor hormonal dan otot arteri yang mendadak mengalami pengetatan," jelas kardiolog Marc Gillinov seperti dilansir dari Cleveland Clinic.

"Kondisi ini mirip dengan serangan jantung, namun serangan jantung disebabkan oleh sumbatan pembuluh darah di arteri," imbuhnya.

Saat seseorang mengalami stres berat, hormon adrenalin meningkat tajam dan bisa membuat orang tersebut seperti terkena serangan jantung. Namun saat otot arteri kembali relaks dan mampu mengalirkan darah kembali, kerja jantung biasanya akan pulih kembali. 

Kondisi stress memicu hormon adrenalin secara pesat dan buruk untuk kesehatan jantung.
Kondisi stress memicu hormon adrenalin secara pesat dan buruk untuk kesehatan jantung. (Freepik.com)

Jika kondisi ini tak mengalami perbaikan, ada kemungkinan seseorang tersebut meninggal. Tetapi, kondisi sakit dan meninggal karena patah hati ini jarang dialami.

Tak hanya mereka yang mengalami trauma hebat yang bisa mengalami gangguan pada jantung. Orang-orang yang mengalami depresi memiliki kemungkinan akan menderita sakit jantung, begitupun sebaliknya. Mereka yang didiagnosa sakit jantung memiliki risiko mengalami depresi. 

Pasien pengidap gangguan pada jantung yang mengikuti rehabilitasi, biasanya akan merasakan kondisi mental dan emosi yang lebih baik. Sementara itu, mereka yang mengalami depresi namun rajin berolahraga memiliki risiko lebih kecil untuk terkena serangan jantung.

Rajin berolahraga mampu memperbaiki mood dan menjaga kesehatan jantung.
Rajin berolahraga mampu memperbaiki mood dan menjaga kesehatan jantung. (Freepik.com)

Lalu, bagaimana perasaan takut, sedih, dan marah karena patah hati bisa memengaruhi kesehatan jantung?

"Emosi negatif membuat tekanan darah naik, meningkatkan reaktivitas pembuluh darah dan kemungkinan akan membentuk gumpalan darah. Oleh karena itu stres bisa memicu serangan jantung pada orang-orang yang rentan," jelas Gillinov.

Sebaliknya, perasaan positif dapat membantu mereka yang memiliki masalah jantung hidup lebih lama. Mereka yang memiliki jaringan sosial yang kuat dan punya ikatan dekat dengan orang-orang terkasihnya, terbukti jarang mengidap penyakit jantung. Jadi, penting sekali untuk bisa mengelola emosi dan pikiran agar selalu positif ya, Ladies!

(fip/fip)

Our Sister Site

mommyasia.id