sign up SIGN UP

RELATIONSHIP

Jadi Lebih Bahagia dengan Mengelola Harapan & Ekspektasi

Jovita | Jumat, 13 Nov 2020 22:40 WIB
Jadi Lebih Bahagia dengan Mengelola Harapan & Ekspektasi
caption

Semua orang punya ekspektasi. Masalah muncul jika ekspektasi yang dimiliki tidak dipenuhi dan kita menjadi kesal atau tidak bahagia, mengakibatkan adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan.

Belajar mengelola ekspektasi membuat kita dapat menjaga keseimbangan, merasa lebih puas dan dengan demikian lebih bahagia. Lalu, bagaimana cara mengelola ekspektasi?

Komunikasi itu kunci

Komunikasi/ Foto: Pexels.com
Komunikasi/ Foto: Pexels.com

Kunci mutlak dalam semua interaksi manusia adalah komunikasi. Ketika kita berkomunikasi dengan baik, orang lain bisa memahami kita dan biasanya akan muncul kesepakatan atau setidaknya negosiasi dapat dilakukan. Jika kamu terus-menerus kecewa dengan kejadian atau orang, maka gaya komunikasi biasanya salah.

Pertama-tama tanyakan kepada dirimu sendiri, apakah ekspektasimu masuk akal dan realistis? Jika kamu tidak yakin, tanyakan pada teman atau kerabat yang akrab dengan semua orang dan populer. Kamu butuh penilaian dari seseorang yang memang memiliki kehidupan sosial yang baik dan bisa diandalkan.

Jika kamu tidak bersikap masuk akal atau realistis, kamu akan mengalami kekecewaan dan ketidakbahagiaan. Kamu perlu memeriksa kenyataan dan mengubah ekspektasi demi dirimu serta orang lain.

Ekspektasi harus jelas

Dua Sahabat/ Foto: Pexels.com
Dua Sahabat/ Foto: Pexels.com

Dalam semua jenis hubungan, sangatlah bermanfaat untuk memperjelas ekspektasi yang dimiliki. Saat pergi makan, tanyakan, "Kita makan mahal atau biasa?".

Saat semua pihak dalam hubungan punya andil dalam memutuskan, ini menghilangkan tekanan dan semua orang tahu apa yang diharapkan. Ketika segala sesuatunya berjalan baik, ada gunanya bersikap murah hati dengan pujian, penguatan positif jauh lebih efektif daripada respons negatif.

Perhatikan caramu memandang orang lain

Teman/ Foto: Pexels.com
Teman/ Foto: Pexels.com

Dalam hubungan dengan orang lain, kita sering mendapatkan apa yang kita cari. Artinya, misalnya jika kamu sudah memandang seseorang sebagai orang yang nakal, itulah yang akan kamu perhatikan.

Jika kamu telah memberi label seseorang sebagai sosok yang "sulit" atau melelahkan, biasanya itulah yang akan kamu lihat. Inilah sebabnya mengapa setiap orang mungkin memiliki pendapat yang sama sekali berbeda terhadap orang yang sama.

Jika seseorang terus-menerus melakukan hal-hal yang tidak kamu sukai, ada baiknya untuk mengatakan, "Kamu bukan seperti ini; Aku melihatmu sebagai orang yang sangat membantu/baik hati/dapat diandalkan.” Ketika kita tahu orang lain memandang kita sebagai seseorang yang baik, kita berusaha untuk memenuhi harapan itu karena tidak ada orang yang ingin dianggap buruk. Jadi, jika kamu bisa jelas tentang kebutuhanmu dan mengharapkan yang terbaik, harapanmu akan sering terpenuhi.

Mengenal "mode of operating"

Hal lain yang dapat kamu ubah, jika kamu berulang kali melakukan interaksi yang rumit dengan seseorang, adalah "mode of operating" atau "mode pengoperasian" yang kamu terapkan. "Mode pengoperasian" ini dikenal sebagai The Ware Sequence.

Ada tiga "mode operasi" menurut analis transaksional, yakni behaviour (perilaku), thoughts (pikiran), dan emotions (emosi). Biasanya masing-masing orang condong ke satu "mode", meskipun orang-orang realistis biasanya lebih bisa menyeimbangkan antara ketiganya.

Jika "mode"-mu pikiran dan kamu mendekati seseorang yang "mode"-nya emosi, kalian akan memiliki ketidakcocokan dalam komunikasi dan harapan tidak akan terpenuhi. Jika kamu mengalihkan "mode"-mu ke "mode" mereka, komunikasi akan menjadi jauh lebih baik dan sering kali mencapai pemahaman atau kesepakatan. Jadi, bagaimana cara mengetahui seseorang beroperasi pada "mode" apa?

Pemikir menggunakan banyak pembicaraan berdasarkan fakta, mereka memberikan penjelasan dan alasan yang rinci dan cukup tepat dalam komunikasi. Mereka yang menerapkan "mode" perilaku akan berbasis pada tindakan, cenderung melontarkan kalimat seperti "mari kita lakukan", sering tidak sabar, dan bertindak sebelum berpikir. Sementar orang dengan "mode" emosi, akan berkata "aku merasa," "itu membuatku tidak bahagia," atau mereka mungkin menangis. Mereka akan meminta respon emosi lawan bicara dalam berkomunikasi: "aku ingin kamu memahamiku."

Pemikir membutuhkan orang lain untuk memahami argumen mereka, emosi butuh perasaannya dipahami, dan perilaku perlu orang lain memahami tindakan atau kebutuhan mereka untuk bertindak.

Jika kamu dapat mengalihkan frekuensimu ke frekuensi yang lain, komunikasi yang terbangun akan menjadi lebih baik dan kamu bisa berada dalam satu frekuensi dengan orang lain. Ini akan membuat mereka merasa didengarkan dan dipahami. Dengan cara ini, ekspektasi dapat terpenuhi.

Jadi dalam menghadapi si pemikir, kamu bisa undang mereka untuk mengeksplorasi apa yang mereka pikirkan dan buat mereka memberitahumu bagaimana "perasaan" mereka tentang pikiran tersebut. Dalam menghadapi si emosi, buat mereka mengeksplorasi bagaimana perasaan mereka dan kemudian tanyakan apa yang mereka “pikirkan” tentang perasaan mereka. Terhadap si perilaku, cobalah untuk membuat mereka "masuk" ambil bagian dalam hubungan dan beri mereka tuntutan yang jelas; hanya dengan begitu mereka akan dapat melibatkan pikiran atau perasaan mereka yang kurang.

Jadi, kesimpulannya, kunci untuk memenuhi harapan dan ekspektasimu adalah dengan mengajukan pertanyaan, mencoba berkomunikasi pada frekuensi orang lain dan mengharapkan yang terbaik. Tidak perlu menunggu inisiatif orang lain, beritahu orang lain untuk melakukan hal-hal yang penting bagimu secara terus terang.

Jika saat ulang tahun kamu menyukai kerupuk, bawalah! Jika kamu ingin orang lain berdandan untuk acara bridal shower misalnya, beri tahu mereka.

Dalam menjalin hubungan dengan orang lain, penting untuk mengharapkan yang terbaik dan memintanya ketika tidak tersedia. Selain itu, cobalah untuk rileks dan mengikuti arus.

Terkadang, saat-saat yang tidak kita atur atau yang tidak kita sadari, bisa menjadi pengalaman yang paling berharga. Terkadang cara orang lain menyelesaikan masalah atau mengatur acara bisa jadi hal baru dan inovatif.

Tidak selalu penting untuk segala sesuatu berjalan dengan cara yang kita suka atau harapan kita terpenuhi. Jika terlalu fokus pada ekspektasi diri sendiri, kita mungkin berisiko kehilangan interpretasi orang lain dan pengalaman yang berbeda, yang sama valid, baru, dan menarik.

(hld/hld)

Our Sister Site

mommyasia.id