sign up SIGN UP

RELATIONSHIP

7 Kesalahan Orangtua yang Membuat Anak Tidak Percaya Diri

Rumaysha Milhania | Selasa, 10 Nov 2020 21:45 WIB
7 Kesalahan Orangtua yang Membuat Anak Tidak Percaya Diri
caption
Jakarta -

Setiap orang tua tentu menginginkan anak mereka merasa nyaman dengan diri mereka sendiri. Namun, banyak anak kerap merasa kehilangan rasa percaya diri seiring dengan pertumbuhan dan perkembangannya. 

Ironisnya, hilangnya rasa percaya diri ini ternyata kerap disebabkan oleh kesalahan orangtua saat mengasuh anak. Untuk itu, antisipasi 7 kesalahan orangtua yang dapat mengurangi kepercayaan diri anak:

Meskipun kamu mungkin berpikir bahwa pekerjaan rumah akan membebani anak-anak dan menambah tingkat stres mereka, ikut berkontribusi dalam pekerjaan di rumah akan membantu mereka menjadi individu yang lebih bertanggung jawab.
Tips Parenting/ Sumber: Freepik.com

1. Membiarkan Anak Lepas dari Tanggung Jawab

Meskipun kamu mungkin berpikir bahwa pekerjaan rumah akan membebani anak-anak dan menambah tingkat stres mereka, ikut berkontribusi dalam pekerjaan di rumah akan membantu mereka menjadi individu yang lebih bertanggung jawab.

Melakukan tugas yang sesuai dengan usia membantu mereka merasakan kontrol atas dirinya sendiri dan pencapaian.

2. Mencegah Anak dari Melakukan Kesalahan

Sulit untuk melihat anak gagal, ditolak, atau mengacaukan sesuatu. Ketika ini terjadi, begitu banyak orang tua bergegas menyelamatkan anak-anak sebelum mereka jatuh. Tetapi mencegah mereka membuat kesalahan sama dengan menghilangkan kesempatan mereka untuk belajar bagaimana bangkit kembali.

3. Melindungi Anak dari Emosi

Sangat wajar jika kamu mencoba untuk menghibur anak saat mereka sedih atau menenangkan mereka saat mereka marah. Tetapi bagaimana kita bereaksi terhadap emosi anak-anak kita berdampak besar pada perkembangan kecerdasan emosional dan harga diri mereka.

Bantu anak untuk dapat mengidentifikasi apa yang memicu emosi mereka dan ajari mereka cara mengatur diri sendiri. 

Sangat wajar jika kamu mencoba untuk menghibur anak saat mereka sedih atau menenangkan mereka saat mereka marah. Tetapi bagaimana kita bereaksi terhadap emosi anak-anak kita berdampak besar pada perkembangan kecerdasan emosional dan harga diri mereka.
Membangun Kepercayaan Diri Anak/ Sumber: Freepik.com

4. Membangun Rasa Rendah Diri

Mengatakan hal-hal seperti "kita tidak mampu membeli sepatu baru seperti anak-anak lain karena tidak punya uang" menegaskan kepada anak bahwa sebagian besar keadaan hidup berada di luar kendali.

Padahal, anak-anak yang mengenali pilihan mereka dalam hidup merasa lebih percaya diri dengan kemampuan mereka untuk menciptakan masa depan yang lebih baik bagi diri mereka sendiri.

5. Protektif yang Berlebihan

Tentu, menjaga anak terhindari dari bahaya memang dapat membuatmu lebih tenang. Tetapi menjaga mereka tetap terisolasi dari tantangan dapat menghambat perkembangan mereka. Pandang diri kamu sebagai pemandu, bukan pelindung.

Biarkan anakmu mengalami susah dan sulit dalam hidup. Itu berarti kamu akan memberi mereka kesempatan untuk mendapatkan kepercayaan pada kemampuan mereka untuk menghadapi apapun kehidupan yang mereka jalani.

6. Mengharapkan Kesempurnaan

Harapan yang tinggi itu sangatlah wajar, tetapi berharap terlalu banyak memiliki konsekuensi. Ketika anak-anak memandang ekspektasi terlalu tinggi, mereka mungkin tidak akan berani untuk mencoba karena mereka merasa bahwa seolah-olah mereka tidak akan pernah bisa memenuhi capaian tersebut.

Sebaliknya, berikan ekspektasi yang jelas untuk jangka panjang dan tetapkan pencapaian di sepanjang jalan. Misalnya, kuliah adalah harapan jangka panjang, jadi bantu mereka membuat tujuan jangka pendek (misalnya, mendapatkan nilai bagus, mengerjakan pekerjaan rumah, dan rajin membaca).

Harapan yang tinggi itu sangatlah wajar, tetapi berharap terlalu banyak memiliki konsekuensi. Ketika anak-anak memandang ekspektasi terlalu tinggi, mereka mungkin tidak akan berani untuk mencoba karena mereka merasa bahwa seolah-olah mereka tidak akan pernah bisa memenuhi capaian tersebut.
Mendidik Anak/ Sumber: Freepik.com

7. Menghukum, bukan Mendisiplinkan

Terakhir, anak-anak perlu belajar bahwa beberapa tindakan menyebabkan konsekuensi yang serius. Namun ada perbedaan besar antara disiplin dan hukuman.

Anak-anak yang disiplin berpikir, "Saya membuat pilihan yang buruk." Sedangkan anak-anak yang dihukum berpikir, "Saya anak nakal."

Dengan kata lain, disiplin memberi anak keyakinan bahwa mereka dapat membuat pilihan yang lebih cerdas dan sehat di masa depan, sementara hukuman membuat mereka berpikir bahwa mereka tidak mampu melakukan yang lebih baik.

 

(arm2/arm2)

Our Sister Site

mommyasia.id