sign up SIGN UP

LIFE

Psikosis Postpartum, Depresi Pasca Persalinan yang Lebih Bahaya dari Baby Blues

Ayuliy Lestari | Selasa, 08 Jun 2021 15:00 WIB
Psikosis Postpartum, Depresi Pasca Persalinan yang Lebih Bahaya dari Baby Blues
Foto: Ilustrasi Ibu Hamil/Freepik.com

Perjuangan saat melahirkan seakan terbayar saat melihat wajah si kecil hadir di dunia. Seorang ibu merasa sangat bahagia bisa bertemu sang buah hati yang berada di dalam kandungan selama 9 bulan. Namun tetap saja, melahirkan merupakan proses yang tak terlupakan, Ladies.

Bahkan pasca melahirkan, seorang ibu akan sangat rentan terserang depresi. Jika penanganannya tak tepat, depresi tersebut bisa berimbas pada perkembangan sang bayi. Depresi yang cukup populer adalah baby blues.

Selain baby blues, ada pula jenis depresi yang sering dialami seorang ibu setelah melahirkan yaitu psikosis postpartum. Tak boleh dianggap enteng, psikosis postpartum lebih berbahaya dari baby blues.

Apa Itu Psikosis Postpartum?

seputar psikosis postpartum
seputar psikosis postpartum/freepik.com

Psikosis postpartum atau postpartum depression adalah depresi yang terjadi setelah melahirkan, disebabkan oleh ketidakseimbangan zat kimia di otak. Jenis depresi ini bisa terjadi dan dialami oleh 10% ibu pasca melahirkan.

Banyak yang menganggap postpartum depression sama dengan baby blues, tapi anggapan itu tidak benar, Ladies. Baby blues merupakan perubahan emosi (mood swing) yang umumnya menyebabkan sang ibu menangis terus-menerus, cemas, hingga sulit tidur selama beberapa hari hingga 2 minggu setelah bayi lahir.

Sedangkan postpartum depression merupakan kondisi yang lebih parah dibandingkan dengan baby blues. Postpartum depression membuat penderita merasa putus harapan, merasa tidak menjadi ibu yang baik, sampai tidak mau mengurus anak.

Bagaimana Mengenali Psikosis Postpartum?

seputar psikosis postpartum
seputar psikosis postpartum/freepik.com

Jika baby blues terjadi selama beberapa hari hingga 2 minggu setelah melahirkan, berbeda dengan psikosis postpartum. Penderita bisa mengalami rasa depresi lebih lama. Bahkan ketika baby blues berlangsung secara terus menerus selama lebih dari dua minggu, bisa jadi hal tersebut adalah pertanda dari postpartum despression, Ladies.

Parahnya lagi, postpartum depression tak hanya dialami oleh ibu, tetapi juga bisa dialami oleh ayah. Postpartum depression pada ayah paling sering terjadi 3-6 bulan setelah bayi lahir. Seorang ayah lebih rentan terkena postpartum depression ketika istrinya juga menderita kondisi tersebut.

Gejala Psikosis Postpartum

seputar psikosis postpartum
seputar psikosis postpartum/freepik.com

Ada beberapa gejala yang sering terjadi ketika seorang ibu mengalami psikosis postpartum. Sebaiknya segera dikenali dan melakukan penanganan khusus, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada ada sang ibu dan bayi. Gejala tersebut antara lain:

  • Merasa cepat lelah atau tidak bertenaga
  • Mudah tersinggung dan marah
  • Menangis terus-menerus
  • Merasa gelisah tanpa alasan yang jelas
  • Mengalami perubahan suasana hati yang drastis
  • Kehilangan nafsu makan atau justru makan lebih banyak dari biasanya
  • Tidak dapat tidur (insomnia) atau tidur terlalu lama
  • Sulit berpikiran jernih, berkonsentrasi, atau mengambil keputusan
  • Tidak ingin bersosialisasi dengan teman dan keluarga
  • Kehilangan minat terhadap kegiatan yang biasa disukainya
  • Putus asa
  • Berpikir untuk melukai dirinya sendiri atau bayinya
  • Munculnya pikiran tentang kematian dan ingin bunuh diri

Jika kamu mengalami gejala-gejala di atas, sebaiknya segera konsultasikan ke ahlinya ya, Ladies. Bahkan setelah melahirkan, kamu bisa rutin memeriksakan diri ke dokter guna mendeteksi dan menangani sejak dini terkait masalah mental.

(kik/kik)

Our Sister Site

mommyasia.id