sign up SIGN UP

LIFE

Cari Tahu Tentang Pandemic Fatigue, Efek dari COVID 19 yang Berkepanjangan

Henny Alifah | Sabtu, 20 Feb 2021 16:30 WIB
Cari Tahu Tentang Pandemic Fatigue, Efek dari COVID 19 yang Berkepanjangan
caption
Jakarta -

Pandemi COVID-19 sudah berlangsung hampir satu tahun lamanya. Dalam kurun waktu itu, mau tak mau kita harus beradaptasi dengan kebiasaan baru. Sayangnya, kebiasaan yang baru itu jauh dari kata nyaman dan menyenangkan.

Lama-lama, banyak di antara kita yang mulai merasa lelah dengan pandemi beserta pembatasan sosial yang menyertainya. WHO, Organisasi Kesehatan Dunia, menyebut fenomena ini dengan pandemic fatigue, kelelahan pandemi.


Apa itu pandemic fatigue?

Pandemic fatigue
Pandemic Fatigue/ Foto: Pexels.com/cottonbro

Dilansir dari Harper's Bazaar UK, WHO mendefinisikan pandemic fatigue sebagai demotivasi dalam mengikuti perilaku protektif yang direkomendasikan, muncul secara bertahap dari waktu ke waktu dan dipengaruhi oleh sejumlah emosi, pengalaman, dan persepsi.

Inilah fenomena yang sekarang sering kita lihat. Orang-orang mulai enggan mematuhi protokol kesehatan guna mencegah penularan virus COVID-19, baik itu social distancing dengan teman maupun memakai masker saat beraktivitas dan bepergian. Orang-orang juga semakin tidak berminat untuk mengikuti kabar terkini tentang pandemi. Parahnya lagi, orang-orang memiliki persepsi risiko yang lebih rendah terkait COVID-19. Singkatnya, orang-orang menjadi apatis.


Mengapa pandemic fatigue bisa muncul?

Pandemic fatigue
Pandemic Fatigue/ Foto: Pexels.com/cottonbro

Menurut WHO, fenomena pandemic fatigue adalah respon alami terhadap krisis kesehatan global yang berkepanjangan. Ketika virus pertama kali menyerang, orang cenderung siaga dan waspada. Tetapi seiring pandemi berlanjut, orang menemukan cara-cara untuk mengatasinya, dan kelelahan serta demotivasi seringkali jadi akibatnya.

Ada banyak alasan mengapa orang-orang merasa apatis terhadap pandemi COVID-19. Salah satunya yaitu persepsi bahwa ancaman virus telah menurun. Meskipun data medis menunjukkan sebaliknya, mereka berpikir demikian karena sudah terbiasa dengan keberadaannya.

Selain itu, orang lebih cenderung merasakan kerugian finansial, sosial, dan pribadi akibat adanya tindakan pencegahan seperti pembatasan sosial. Bagi beberapa orang, pembatasan sosial dianggap lebih berisiko dan lebih memakan banyak biaya daripada risiko virus itu sendiri.

Dan lagi, pembatasan sosial yang terus-menerus menimbulkan perasaan terkekang. Orang mungkin merasakan peningkatan keinginan untuk bebas menentukan nasib sendiri.


Mengapa pandemic fatigue jadi masalah?

Pandemic fatigue
Pandemic Fatigue/ Foto: Pexels.com/Anna Shvets

Pandemic fatigue dianggap bermasalah karena ini bisa menjadi ancaman serius pada upaya pengendalian penyebaran virus. Sebelum ada vaksin atau perawatan yang benar-benar efektif mengobati COVID-19, dukungan publik dan tindakan protektif tetap penting untuk menahan virus.


Lantas, bagaimana cara mengatasi pandemic fatigue?

Rasa kebersamaan adalah kunci untuk mengatasi pandemic fatigue
Pandemic Fatigue/ Foto: Pexels.com/Charlotte May

Dr Hans Henri Kluge, direktur regional WHO untuk Eropa, dalam wawancaranya dengan BBC mengatakan bahwa rasa kebersamaan adalah kuncinya. Orang-orang perlu saling memahami opini masing-masing dan mengakui kesulitan yang diakibatkan oleh pandemi. Keterlibatan komunitas dalam diskusi dan keputusan menjadi penting sebagai bagian dari solusi.

Sementara itu, orang-orang perlu diizinkan menjalani hidup mereka, namun tetap dengan mengurangi risiko penularan virus. Misalnya, memberi bantuan masker dan makanan kepada orang-orang yang rentan atau melakukan kegiatan yang melibatkan banyak orang secara virtual.

Nah, semoga kita tetap menjadi bagian dari pencegahan penyebaran virus dan mampu melalui kesulitan ini bersama-sama, ya. Stay safe, Beautynesian!

(arm2/arm2)

Our Sister Site

mommyasia.id