sign up SIGN UP

Mengenal Perempuan-perempuan Hebat di Balik Vaksin AstraZeneca, Ada dari Indonesia Juga!

Dian Purnamasari | Kamis, 12 Aug 2021 07:00 WIB
Mengenal Perempuan-perempuan Hebat di Balik Vaksin AstraZeneca, Ada dari Indonesia Juga!
caption

Tahukah kamu, bahwa ada perempuan-perempuan hebat di balik lahirnya vaksin AstraZeneca? Vaksin AstraZeneca merupakan salah satu jenis vaksin yang digunakan di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Dikutip dari detikcom, vaksin AstraZeneca berasal dari Inggris, vaksin ini diproduksi oleh Universitas Oxford. Sebenarnya AstraZeneca sendiri merupakan perusahaan farmasi yang khusus memproduksi obat-obatan medis.

Perusahaan ini terkenal sebagai produsen obat kanker, salah satunya Tagrisso, untuk mengobati kanker paru-paru.

Lahirnya vaksin AstraZaneca ternyata tidak lepas dari peran perempuan-perempuan hebat, lho. Berikut beberapa perempuan di balik vaksin AstraZeneca:

Profesor Sarah Gilbert

Profesor Sarah Gilbert Perempuan di Balik Vaksin AstraZeneca
Profesor Sarah Gilbert Perempuan di Balik Vaksin AstraZeneca/Foto: John Cairns/University of Oxford

Sarah Gilbert merupakan profesor Universitas Oxford berusia 59 tahun. Dikutip dari BBC News, Profesor Sarah Gilbert bergabung dengan Jenner Institute dan membentuk kelompok penelitiannya sendiri dalam upaya untuk membuat vaksin flu universal, yang berarti vaksin yang efektif melawan semua jenis flu.

Pada tahun 2014, Profesor Sarah Gilbert memimpin uji coba pertama vaksin Ebola, begitu juga dengan virus Mers yang sempat menjangkiti Timur Tengah. Pada saat itu ia bahkan pergi ke Arab Saudi untuk mencoba mengembangkan vaksin untuk virus tersebut.

Pada awal 2020, virus covid-19 muncul di China, Profesor Sarah Gilbert segera menyadari bahwa dia mungkin bisa menggunakan pendekatan yang sama, dengan uji coba vaksin sebelumnya sampai akhirnya tercipta vaksin AstraZeneca.

Profesor Sarah Gilbert pun tidak mengambil hak paten dari vaksin yang telah diciptakannya tersebut, agar dapat digunakan di seluruh dunia secara gratis.

“Saya tidak ingin mengambil hak paten. Sudah seharusnya kita bisa berbagi dan membiarkan semua orang membuat vaksin mereka sendiri,” kata Sarah pada Reuters.

Profesor Teresa Lambe

Profesor Teresa Lambe perempuan di balik vaksin AstraZeneca
Profesor Teresa Lambe perempuan di balik vaksin AstraZeneca/Foto: John Cairns/University of Oxford

Profesor Teresa Lambe merupakan ahli imunologi yang bekerja di Jenner Institute, Universitas Oxford. Profesor Teresa Lambe juga merupakan salah satu perempuan di balik lahirnya vaksin AstraZeneca.

Dikutip dari jenner.ac.uk, sebelumnya Profesor Teresa Lambe mengerjakan vaksin untuk demam berdarah Kongo, Krimea, Ebola demam Lassa, MERS dan virus Nipah.

Bersama dengan timnya, Profesor Teresa Lambe juga meneliti bagaimana respon imun tubuh setelah di vaksinasi.

Profesor Katie Ewer

Profesor Katie Ewer perempuan hebat di balik vaksin AstraZeneca
Profesor Katie Ewer perempuan hebat di balik vaksin AstraZeneca/Foto: John Cairns/University of Oxford

Dikutip dari ox.ac.uk, Profesor Katie Ewer juga merupakan ahli imunologi senior Oxford, untuk uji coba vaksin Ebola dan malaria pra-eritrositik. Ia mengawasi imunologi pada uji coba fase I dan II dari vaksin vektor, baik di Inggris maupun dalam uji coba lapangan di Afrika.

Ia mempelajari sampel dari sukarelawan uji klinis, menggunakan berbagai metode untuk menentukan kekuatan respon imun mereka terhadap vaksin uji coba, dan untuk mengetahui fitur sampel mana yang sesuai dengan respon imun yang lebih kuat.

Temuan ini kemudian dapat digunakan untuk meningkatkan proses pengembangan vaksin, sehingga vaksin masa depan dapat memberikan perlindungan yang lebih besar terhadap penyakit.

Carina Citra Dewi Joe

Carina Citra Dewi Joe perempuan di balik vaksin AstraZeneca
Carina Citra Dewi Joe perempuan di balik vaksin AstraZeneca/Foto: instagram.com/desrapercaya

Carina Citra Dewi Joe merupakan perempuan muda asal Indonesia yang berada di balik lahirnya vaksin AstraZeneca.

Dikutip dari detikcom, Carina Citra Dewi Joe merupakan ilmuwan di industri bioteknologi, setelah meraih gelar S1, ia ditawari mengikuti program magang di perusahaan Australia dan meneruskan pendidikannya hingga meraih gelar PhD in Biotechnology di Royal Melbourne Institute of Technology.

Pengalamannya di industri bioteknologi turut berpengaruh, hingga ia akhirnya terlibat dalam tim yang mengembangkan proses manufaktur skala besar GMP Oxford atau vaksin AstraZeneca covid-19.

Tugas Carina dalam riset ini adalah, bisa memproduksi vaksin covid-19 dalam skala besar dan selesai dengan waktu singkat. Tujuannya adalah agar vaksin yang dikembangkan di Jenner Institute Oxford University ini, dapat segera digunakan dalam penelitian klinis dan penggunaan masif.

Itulah beberapa perempuan-perempuan hebat di balik vaksin AstraZeneca, Beauties. Mereka adalah contoh perempuan yang membuktikan, bahwa perempuan dapat berkarier sesuai dengan bidangnya dan dapat memberikan manfaat untuk orang sekitarnya bahkan dunia.

(fip/fip)

Our Sister Site

mommyasia.id